Waspadai Cuci Otak Kelompok Teror Pada Anak Muda di Sosial Media

0
155

Sangkhalifah.co — Kelompok teror memiliki cara rekrutmen anggotanya dengan cara mencuci otak orang-orang yang minim dalam pemahaman agama. Kelompok ini bisa mencuci otak orang untuk bergabung dengan kelompoknya hanya dalam waktu satu jam. Cuci otak ini menjadi cara yang banyak dilakukan mereka karena dibilang efektik dan tidak banyak memakan biaya. Cukup dengan sinyal dan kuota internet, kelompok teror yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan kepada orang-orang yang tak berdosa ini mendoktrin siapa saja yang siap menjadi target keanggotaannya.

Dilansir CNN Indonesia (13/04/2015), Abdurrahman Ayub, mantan penasihat Jama’ah Islamiyyah (JI) telah melakukan doktrinisasi kepada banyak orang, baik di Indonesia, Malaysia, dan Australia. Pola doktrinisasi yang dilakukan kelompok teror JI sama dengan metode yang dilakukan oleh Negara Islam Indonesia DI/TII. Guru Besar LIPI Endang Turmudzi juga menyebut rekrutmen kelompok yang merasa paling benar dalam beragama dan menyalahkan kelompok lain ini dilakukan melalui cuci otak, dan paling mudah melalui media sosial.

Ayub menyebut, doktrin untuk mencuci otak dilakukan dengan tiga tahap. Tahap pertama adalah nostalgia kejayaan Islam di masa kekhalifahan selama waktu 20 menit. Doktrin pertama ini kelompok teror memframming bahwa masa kekhilafahan adalah masa yang paling sesuai dengan tuntunan Islam. Khilafah dianggap sempurna bak Islam itu sendiri. Doktin ini sebetulnya menerapkan sikap fanatik buta, dimana calon yang direkrut untuk bergabung dengan kelompok teror dipaksa untuk hanya menganggap kesempurnaan kekhalifahan, sementara menyingkirkan sisi-sisi negatif di masa tersebut.

Tahap kedua biasanya dipertontonkan kekejaman Barat kepada dunia Islam, khususnya kekejaman Amerika kepada Irak dan Afghanistan. Kelompok teror menghadap-hadapkan Barat dan Islam sebagai kelompok yang sesat dan yang benar. Pada metode kedua ini pada dasarnya mereka menerapkan prinsip ekslusifisme dalam memandang suatu hal, di mana seolah-olah yang dihadapi manusai hanya hitam dan putih, hanya sesat dan selamat. Sebaliknya, tidak melihat bagaimana harmoni Islam dan negara-negara di Barat juga ikut membangun peradaban. Kelompok teror menutupi fakta bahwa Islam dan negara-negara dunia ikut andil kepada kemajuan dunia.

Adapun tahap ketiga adalah mengkampanyekan pemahaman Al-Qur’an dan hadits tentang jihad dengan pemahaman ekstrim kelompok teror. Jihad yang dipahami sebagai tindakan ekstrim dan radikal disusupkan kepada anak-anak yang didoktrinnya. Pemahaman ini didasari pada cara yang ekslusif dalam memahami agama. Padahal, dalam faktanya, jihad tak semudah itu dipahami sebagai tindakan teror. Sebab, Nabi dan para sahabatnya berjihad hanya ketika mereka diserang secara fisik dan atau dilarang untuk melakukan ibadah. Jihad juga bermakna mencari nafkah serta menahan hawa nafsu.

Cara mewaspadai adanya doktrin kelompok teror pertama harus menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah SWT. Termasuk dalam konteks ini adalah masa kekhalifahan, merupakan sistem yang tidak sempurna. Buktinya, khalifah Utsman meninggal dibunuh saat sedang salat. Khalifah Utsman juga meninggal dibunuh Abdullah Ibn Saba. Ali Ibn Abi Thalib wafat karena ia dibunuh oleh Abdurrahman Ibn Muljam. Pun dengan Sayyidina Husein, ia meninggal karena dibunuh oleh Muawiyah Ibn Abu Sufyan. Bukti-bukti pembunuhan di masa kekhalifahan ini cukup menjadi bukti bahwa khilafah bukan sistem yang sempurna. Ia merupakan sistem yang dibuat oleh manusia dan bukan produk agama. Bila khilafah merupakan produk langsung dari Tuhan, mengaka sistem ini banyak memiliki kekurangan?

Cara mewaspadai adanya doktrinisasi kelompok teror dengan cuci otak adalah menyadari bahwa jihad dalam Islam bukan sebagai tindakan ekstrim dan teror. Jihad dalam Islam misinya adalah menghidupkan dan mensejahterakan, bukan menimbulkan ketakutan dan kepanikan. Nabi melakukan jihad agar orang-orang Islam tetap hidup dan bisa beribadan dengan tenang. Nabi juga melakukan jihad tidak dengan menyakiti sesama, menyengsarakan perempuan dan anak-anak. Jihad dalam konteks masa kini dimaknai sebagai jihad melawan ketidakadilan, menumpas ekstrimisme, dan melawan korupsi. Visi dan misi jihad itu menghidupkan, bukan mematikan. Jihad berorientasi pada penghidupan, bukan pembunuhan. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!