Warning Al-Qur’an dan Hadis Terhadap Kecerobohan Radikalis Teroris dalam Beragama

2
100

Sangkhalifah.co — Eksisnya gerakan radikalis teroris yang menggunakan agama sebagai legitimasi kekerasan sudah diprediksi sejak lama. Memang, sesuai dengan perkembangan zaman, model dan karakter gerakan yang membahayakan bagi keutuhan suatu bangsa itu berbeda-beda. Peristiwa ini sudah dimulai dengan adanya sekelompok orang di masa kekhalifahan Usman bin Affan, yang mengompori masyarakat bahwa yang pantas menggantikan Umar bin Khattab, adalah Ali bin Abi Thalib. Gerakan ini menggunakan agama untuk melegitimasi aksi politisnya, sehingga kemudian menganggap pihak di luar kelompoknya sesat dan harus diperangi. Dari kekejaman di masa kekhalifahan ketiga ini kemudian lahir Khawarij, kelompok pembelok, yang juga lebih keras di dalam beragama.

Namun rupanya, akan adanya gerakan radikal dan teror yang memanipulasi agama untuk kepentingan politik ini sudah diprediksi jauh 14 abad yang lalu oleh Al-Qur’an. Dalam QS. Al-Kahfi ayat 103-104 Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah, ‘Apakah ingin Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang perbuatan-perbuatannya paling merugi?’. (Mereka itu) orang yang usahanya sia-sia dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka itu berbuat sebaik-baiknya.” Para ulama tafsir seperti Al-Sya’rawi menyebut, akan ada orang-orang yang merasa dirinya telah berbuat kebenaran, namun amalnya itu tidak menambah timbangan amal di akhirat. Perbuatannya sia-sia seperti debu berterbangan yang tak jelas arahnya.

Agaknya, penafsiran Al-Sya’rawi relevan dengan kemunculan kelompok radikal dan teror yang merasa bahwa konsepsi beragama yang dijalankan dengan kekerasan, mengangkat pedang, adalah suatu kebenaran mutlak. Seperti yang dilakukan ISIS dan HTI, yang meyakini bahwa jihad dengan peperangan adalah bentuk kebenaran Islam yang mutlak, tidak bisa ditafsirkan ulang. Padahal, jihad demikian nyatanya bertentangan dengan pandangan mayoritas ulama. Sebagaimana dikatakan Abdul Mustaqim, jihad yang diperintahkan pada umat Islam bukan perintah mutlak, tetapi hanya sebagai alternatif ketika umat disakiti secara fisik terus menerus dan mereka dihadang untuk beribadah.

Di dalam tafsir Al-Mishbah, M Quraish Shihab menegaskan hal yang sama. Bahwa, akan ada sementara orang yang menyangka apa yang dilakukan di dunia akan menyelamatkannya di akhirat, tapi nyatanya tidak demikian. Apa yang dilakukan hanyalah klaim belaka, bukan berlandaskan tuntunan syariat yang benar. Demikian amat sejalan dengan apa yang dilakukan gerakan radikalisme dan terorisme. Mereka memanipulasi agama sebagai basis tindakan radikal bom bunuh diri. Wilayah penafsiran agama dijadikan ukuran kebenaran mutlak yang amat subjektif, dan parahnya, digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang justru bertolak belakang dengan pesan-pesan agama, yang santun, toleran, dan mengedepankan perdamaian.

Sumber hukum Islam kedua, hadis nabi, pun memberi warning kepada kita akan bahayanya gerakan radikal. Dalam salah satu hadis riwayat Imam Ibnu Majah Nomor 3029, Rasulullah bersabda, “waspadahal dari ekstrimisme beragama, sesungguhnya perilaku demikian telah membinasakan umat sebelum kalian.” Redaksi ‘sebelum kalian’ ini memberi isyarat bahwa aksi-aksi ekstrimisme beragama memang sudah sejak jauh pernah dilakukan oleh sementara orang yang tidak bertanggung jawab. Dan, redaksi kewaspadaan di atas memberi isyarat akan kembalinya gerakan ekstimis ini di masa-masa mendatang, termasuk masa sekarang.

Najih Arromadhoni dalam buku Daulah Islam dalam Al-Qur’an dan Hadis menegaskan pernyataan di atas. Bahwa, gerakan ekstimis dalam beragam seperti ISIS gemar merecoki keberagaman orang lain. Islam yang pada dasarnya merupakan agama keselamatan, di tangan ISIS dinarasikan sebagai agama perang dan pedang. Bagi ISIS dan gerakan yang semacamnya, agama yang hanya dipraktikkan dengan laku lampau yang baik hanyalah omong kosong. Agama bagi ISIS, harus ditampilkan dengan tegas, keras, bringas, dan bila perlu harus dengan peperangan. Bagi ISIS, Nabi Muhammad diutus dengan pedang tidak lain untuk menebar Islam yang rahmat.

Al-Qur’an dan Hadis nabi sudah jauh-jauh memberi warning akan bahayanya kelompok radikal, teror, dan ekstrim dalam beragama. Cirinya, selalu merasa paling benar di dalam beragama, tidak menerima alternatif-alternatif lain dalam beragama selain kekerasan. Model keberagamaan demikian dikecam oleh hadis Nabi yang mengatakan gerakan keagamaan demikian akan membinasakan umat. Setidaknya, ada tiga indikasi mengapa kebinasaan akan lahir dari gerakan ini. Pertama, Al-Qur’an dan hadis diperlakukan secara rigid, kasar, dan menyeramkan. Kedua, mereka akan memerangi golongan yang tidak sepaham. Dan ketiga, selalu merasa paling benar dalam beragama, yang lain salah, sesat, dan wajib diperangi. Semoga kita semua bisa lebih waspada dalam memahami warning Al-Qur’an dan Hadis nabi ini. [Lufaefi]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!