Wakil GP Ansor Banten: HTI Menabrak Maqasidus Syariah

0
228

Serang Banten—Media Sangkhalifah.co bekerjasama dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis (FKMTHI) dan SultanTV.co mengadakan Dialog Kebangsaan dan Bedah Buku “HTI: Gagal Paham Khilafah” secara online di Studio Sultan TV, Banjarsari, Cipocok Jaya, Kota Serang, Jum’at (20/03/2020). Sultan TV menghadirkan Makmun Rasyid (penulis buku), KH. Hamdan Suhaimi (Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Banten) dan Abdul Muhit Hariri (aktivis muda NU Banten).

Pembicara pertama Makmun Rasyid memantik diskusi dengan gaya khasnya yang pelan tapi menukik. “Perpu itu hanya bisa menghilangkan kesaktian sebuah kelompok dari legal-formalnya, sedangkan Perpu tidak bisa menghentikan laju derasnya gerakan ideologis,” ungkapnya.

“HTI ini justru semakin liar pasca legalitasnya ditiadakan. Dan upaya mengidentifikasinya pun semakin sulit. Mereka menitipkan gagasan dan ide-idenya kepada kelompok-kelompok yang sehaluan dan sevisi dengan mereka. Dan mereka akan ‘keliaran’ demi tujuan utamanya, yakni menerapkan khilafah di Indonesia,” jelasnya saat di wawancara FKMTHI.

Narasumber kedua, KH. Hamdan Suhaimi menjelaskan posisi HTI sebagai kelanjutan dari aspirasi kelompok kanan, yang di Mesir dulu dikenal dengan pan-Islamisme. Paham ini digaungkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan Ridha. Paham ini dengan bentuk yang berbeda, dilanjutkan oleh Taqiyuddin al-Nabhani dengan format barunya khilafah Islamiyah.

“Yang saya kritik dari pemikiran Taqiyuddin An-Nabhani adalah narasi tunggalnya, La Islâma Bilâ Khilâfatin (tidak disebut Islam kalau tidak menerapkan khilafah), Maksudnya, tidak sempurna Islamnya seseorang, kalau tidak mewujudkan sistem ideal tersebut, menurut perspektif mereka. Menurut saya, ini secara prinsip melanggar ayat Qur’an. Memaksakan kehendak di antaranya menabrak maqosidus syari’ah yang sudah disepakati oleh alim ulama di Indonesia,” jelasnya.

Pemaksaan kehendak atas sebuah sistem klasik, yang tidak memiliki referensi atas kewajibannya, menjadi hal yang terus diulang-ulang oleh kelompok HTI. Hal ini juga dirasakan di kalangan milenial, sebagaimana yang dituturkan oleh aktivis muda NU, Abdul muhit Hariri.

“Saya punya pengalaman kongkrit. Dimana di internal perguruan tinggi, baik umum maupun swasta, pada era tahun 2013 melalui organisasi Gema Pembebasan yang mana mereka terafiliasi oleh Hizbut Tahrir Indonesia sering menggembor-gemborkan ialah Tolak Pancasila, Pancasila Thought. Ini jelas merusak kehidupan bangsa, harus kita bumi hanguskan faham model seperti ini,” tandasnya.

Pemuda dan generasi muda Indonesia harus tampil dan show up untuk meneguhkan NRKI dari para perongrong dan gerakan transnasional yang berkepentingan mengubah haluan bernegara di Indonesia. [MR]

Tagsdaerah

Leave a reply

error: Content is protected !!