Wajah-Wajah Baru Kalangan Ektremis di Era Media Sosial

2
477

Sangkhalifah.co — Dewasa ini peradaban dunia sudah bergeser dari era industri menjadi era informasi. Peralihan ini lalu melahirkan peradaban baru yang disebut masyarakat informasi. Dalam masyarakat informasi, aktivitas kehidupan masyarakatnya senantiasa bergantung pada internet dan media sosial. Pendek kata, internet dan media sosial memainkan peran penting dalam perkembangan masyarakat. Indikasi dapat dilihat dari kuatnya budaya popular seperti budaya media memengaruhi kultur anak-anak muda, termasuk anak-anak muda dari dunia Muslim. Kuatnya pengaruh media itu kemudian membuat kajian Islam juga tersebar luas lewat media sosial. Diskursus-diskursus tentang kajian Islam pada gilirannya turut menjadi hal yang popular di media sosial.

Akibat dari perjumpaan Islam dengan media sosial tersebut, pada gilirannya wajah Islam pun turut berubah. Wajah Islam dan masyarakat Islam di era media sosial ini tidak bisa disamakan dengan era sebelum media sosial memarak di masyarakat. Islam saat ini hidup dan eksis di era ketika internet, telpon pintar, dan berbagai kemudahan informasi lainnya. Akibatnya, berbagai lapisan masyarakat dan kelompok Islam pun turut bertransformasi, tidak terkecuali kalangan ekstrimis

Kalangan Salafi yang selama ini dikenal sebagai kelompok yang saklek, ternyata juga turut bertransformasi memasuki era media sosial ini. Beberapa kalangan Salafi saat ini tentu tidak bisa disamakan dengan gerakan Salafi zaman dulu. Salafi saat ini hidup dan eksis di era ketika internet, telpon pintar, dan berbagai kemudahan informasi lainnya. Di tengah kondisi demikian, kalangan Salafi tidak lagi memegang prinsip anti-kemodernan atau menolak teknologi, karena mereka secara aktif memanfaatkan kemajuan teknologi itu sebagai salah satu media untuk mengampanyekan ajaran mereka. Mereka turut aktif dalam aktivitas media online, dengan tujuan agar anggota mereka tetap menjadikan otoritas keislaman mereka sebagi rujukan ketika membuka media online.

Namun, betapapun saat ini kalangan ekstremis juga turut aktif menggunakan media sosial, pola fundamental dari perekrutan kalangan ekstremis masih tidak banyak berubah. Menurut laporan dari Institute for Policy Analysis of Conflict, pola rekrutmen secara langsung atau secara luring masih terus dilakukan dan itu menjadi pola andalan kalangan ekstremis. Jika memang ada perubahan drastis sebagai akibat dari kampanye kalangan ekstremis di media sosial, semestinya orang-orang Indonesia yang tertarik untuk menjadi tentara ISIS (Negara Islam Iraq dan Suriyah) itu menjadi semakin banyak. Namun, fakta lapangan membuktikan bahwa tentara ISIS asal Indonesia menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) tahun 2015 ada sekitar 800 orang.

Jumlah 800 orang ini masih belum cukup jelas, karena dari sejumlah itu hanya 284 orang yang teridentifikasi secara jelas nama-namanya, 516 selebihnya masih tidak jelas. Itu artinya 516 orang dari 800 orang itu merupakan figur yang tidak jelas. Jumlah tentara ISIS asal Indonesia ini sangat rendah jika dibandingkan dengan jumlah tentara ISIS yang berasal dari Belgia, Prancis, Inggris, atau Denmark, padahal secara populasi, jumlah muslim di Indonesia itu jumlahnya jauh di atas muslim di negara-negara tersebut. Fakta ini secara nyata menunjukkan bahwa betapapun kalangan ekstremis juga memanfaatkan media sosial sebagai media kampanyenya, model perekrutan mereka masih tetap mengandalkan model perekrutan lama, yaitu model perekrutan tatap muka.

Namun, walaupun model kampanye dari kalangan ekstrimis itu tidak memberikan pengaruh signifikan pada pola rekrutmen mereka, ada fenomena baru yang muncul akibat kampanye media sosial mereka. Menurut catatan Institute for Policy Analysis of Conflict, fenomena baru itu adalah mulai munculnya kelompok-kelompok ekstrimis yang berbasis keluarga atau melibatkan perempuan dan anak-anak. Kasus bom di Surabaya dan kasus hijrahnya keluarga-keluarga Indonesia ke ISIS, secara nyata menunjukkan adanya gejala baru ini. Model ini jelas belum ditemui di dalam laskar mujahidid yang berangkat dalam perang Afganistan-Pakistan sekitar tahun 1985-1994. Di saat ISIS melakukan kampanye di media sosial, mulai banyak keluarga yang tertarik untuk mendermakan keluarga mereka untuk ikut ISIS. Ada yang sampai menjual tanah dan rumah mereka untuk kemudian berangkat ke Suriah dan tidak ingin kembali lagi ke Indonesia.

Fenomena baru lainnya yang juga muncul sebagai akibat dari kampanye media sosial yang dilakukan oleh kalangan ekstremes adalah munculnya peran propaganda individual. Maksud dari peran propaganda individual ini adalah bahwa pesan-pesan kalangan ekstremis itu berhasil menjangkau semakin orang dan memberikan mereka pengertian untuk menjadi bagian dari ISIS yang menghendaki berdirinya kembali kekhalifahan, walaupun dari rumah saja atau sekedar menyuarakan saja, tidak ikut menjadi tentara ISIS. Ini terlihat dari munculnya fenomena orang-orang Indonesia yang mendukung pesan kehidupan Islam yang murni yang digaungkan oleh ISIS, meskipun mereka tidak berangkat ke Suriah. Artinya, potensi-potensi pemahaman ekstrimis itu mulai banyak menjangkau individu-idnividu di Indonesia.

Melihat realitas tersebut, tentu tidak berlebihan jika narasi-narasi ekstremis di media sosial itu harus selalu kita waspadai bersama. Pemerintah, polisi, ormas-ormas Islam moderat, kalangan muda, dan masyarakat pada umumnya, haruslah ikut andil untuk menghadirkan kontra narasi di media sosial untuk menenggelamkan narasi-narasi ekstremis. [Muhammad Arif]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!