Wacana Islam Modern dan Kritiknya Terhadap Intoleransi Beragama

1
377

“Jika seseorang mengeluarkan kata-kata yang mengandung kemungkian kafir dari seratus aspek, namun mengandung keimanan dari satu aspek saja, maka arahkanlah kata-kata itu pada keimanan, dan jangan dianggap kekafiran.”

Sangkhalifah.co — Intoleransi beragama masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi banyak negara, tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia. Eksistensinya yang merugikan banyak pihak itu pun pendapat banyak kritik dari berbagai kalangan. Sejak generasi Islam klasik, para tokohnya telah banyak mengkritik tindakan intoleransi yang hanya membuat peradaban Islam stagnan, bahkan mundur. Imam Syafi’i, misalnya, memberikan apresiasi terhadap setiap bentuk ijtihad yang dilakukan seseorang dalam bidang hukum baik benar ataupun salah dengan tetap diberikan pahala. Anas Bin Malik, sebagai bukti lain, ia pernah menolak keinginan raja yang akan menggantungkan kitab Al-Muwattha di dinding Ka’bah agar orang-orang mau mempelajarinya. Imam Malik menolak itu sebab khawatir ada banyak orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya dalam kitab Al-Muwattha. Secara tidak langsung, apa yang dilalukan Imam Syafi’i dan Imam Malik ialah dalam rangka menolak pemahaman agama yang intoleran dan mengedepankan sikap toleransi dalam beragama.

Wacana toleransi beragama tidak berhenti pada generasi Islam abad klasik, namun terus bergulir bahkan hingga abad ke 19 dalam rangka menentang fanatisme dan mendorong pemahaman agama yang kontekstual. Kelahiran Islam garis keras laiknya ISIS dan Hizbut Tahrir juga mendapat penentangan dari generasi Islam modern sebagai upaya mengedepankan Islam sebagai agama yang sejalan dalam ruang dan waktu kapanpun (sâlih likulli zamân wal makân). Isu toleransi beragama di era modern ini mulanya digagas oleh Adib Ishaq (w.1885), Agamawan yang hidup di Mesir dengan karyanya At-Ta’âsub wa At-Tasâhul yang ia tulis pada 1875. Ishaq mengatakan bahwa intoleransi beragama dan fanatismenya adalah kekolotan dalam beragama yang selalu merasa paling benar sendiri dan menolak pemahaman serta perspektif lain di luar kelompoknya.

Ishaq juga menegaskan bahwa toleransi adalah sebuah sikap yang mempermudah dan tidak mengungkit-ungkit perbedaan. Orang yang toleran akan rela dengan keyakinannya sendiri dan menghormati keyakinan orang lain. Toleransi, bagi Ishaq, mutlak dibutuhkan untuk menanggulangi fanatisme dan taklid buta yang bisa berujung pada tindakan teror. Dimana sikap ini juga merupakan sebuah sikap kebodohan dan mementingkan kepentingan yang bersifat pragmatisnya sendiri. Ishaq bahkan menegaskan bahwa fanatisme terburuk adalah fanatisme dalam beragama, yang biasanya selalu dipicu oleh hegemoni politik yang despotik, yang berujung pada radikalisme beragama. Ishaq menolak keras pemahaman agama yang ekstrim sebagaimana dilakukan ISIS, HT, dan sekelompok Islam lainnya. Baginya, apa yang diperjuangkan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras itu bukan atas nama agama, akan tetapi murni karena egosime dan fanatisme yang bercokol pada hawa nafsunya.

Selain Ishaq, tokoh lain yang mengkritik keras tindakan intoleransi beragama adalah Jamaluddin Al-Afghani (w.1897). Disebutkan dalam majalah Urwatul Wutsqa, Afghani menolak keras tindakan fanatisme dalam beragama. Afghani membolehkan fanatisme beragama jika itu hanya untuk sebagai komitmen atas keberagamaan seseorang. Akan tetapi jika fanatisme berujung pada tindakan radikal dan teror, maka Afghani menolak keras demikian. Fanatisme yang berujung pada tindakan kekerasan dan radikalisme beragama, bagi Afghani, harus dilawan dan ditentang sebab Islam tidak sama sekali membolehkannya. Islam adalah agama damai dan mendamaikan, yang bertolak belakang dengan fanatisme beragama yang dilakukan kelompok radikal dan teror yang bersifat keras dan mengacaukan. Secara tersirat Afghani menolak keras model beragama seperti kelompok ISIS dan HT yang identik dengan fanatisme dalam beragama.

Abdurrahman Al-Kawakibi (w.1902) adalah generasi modern Islam yang juga menyuarakan toleransi beragama. Al-Kawakibi dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang mengenalkan konsep tasâmuh dalam Islam sebagai ganti dari istilah tasâhul. Gagasan Al-Kawakibi tentang toleransi beragama bahwa adanya intoleransi beragama yang berujung pada tindakan radikalisme dan terorisme semua porosnya bermuara pada fanatisme politik, bukan karena ajaran agama apapun. Setelah itu kemudian lahir Muhammad Abduh (w.1905) yang menyuarakan ruh toleransi di Mesir. Abduh berkata: “jika seseorang mengeluarkan kata-kata yang mengandung kemungkian kafir dari seratus aspek, namun mengandung keimanan dari satu aspek saja, maka arahkanlah kata-kata itu pada keimanan, dan jangan dianggap kekafiran.” Gagasan Abduh yang cukup tegas ini menolak tindakan intoleransi beragama yang selalu memandang liyan dengan baju keagamaan, bukan nilai suatu agama.

Pemikiran Abduh dilanjutkan oleh banyak tokoh Islam modern, salah satunya adalah Mahmud Hamdi Zaqzuq. Dalam karyanya Maqâshid al-Syarî’al al-Islâmiyyah wa Dharûrar at-Tajdîd, Zaqzuq memberikan interpretasi baru atas konsep hifdz ad-dîn. Jika para ulama fiqh klasik mendefinisikannya sebagai menjaga agama dan menghukumi mati orang yang murtad, Zaqzuq memahami hifdz ad-dîn sebagai kebebasan beragama. Baginya, manusia tidak dalat dipaksakan untuk mengikuti keyakinan atau agama tertentu. Manusia memiliki fitrah untuk memilih kebebasan, termasuk dalam beragama. Menurutnya pula, Nabi Muhammad saja tidak diperintahkan Allah untuk membuat orang lain beragama Islam, ia hanya diperintahkan untuk menyampaikan dakwah Islam. Sebab pemaksaan dalam beragama bisa jadi akan mendorong seseorang pada sikap kemunafikan.

Wacana yang digagas oleh tokoh-tokoh Islam modern di atas tidak lain sebagai kritik keras terhadap sikap dan tindakan beragama yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku beragama Islam namun intoleran dalam beragama. Mereka sadar bahwa di abad modern seperti sekarang makin banyak kelompok Islam yang berwatak intoleran, yang mudah menyalahkan pendapat orang lain, mengkafir-kafirkan, bahkan menyesatkan orang yang tidak mau bergabung dengan kelompoknya. Jika tidak, mereka akan melancarkan aksi radikal dan teror salah satunya dengan bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama.

Dalam kacamata tokoh-tokoh Islam modern ini, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam dengan ciri-ciri demikian (seperti beberapanya adalah ISIS dan Hizbut Tahrir) sama sekali bukan karena dorongan agama, akan tetapi murni karena nafsu politik dan kepentingan kelompoknya. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!