Virus Khilafah di Tengah Pandemi (2)

1
704

Sangkhalifah.co — Seperti saya jelaskan di tulisan sebelumnya, Hizbut Tahrir Indonesia dalam Fiqh al-Siyâsah (Fikih Politik) tidak mengikuti mazhab mayoritas. Doktrin politik Sunni, misalnya, sangat kental dengan “realisme-pragmatis”, yang ditandai dengan sikap kedewasaan dalam menerima status quo kekuasaan dan pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, paham mayoritas Sunni ditandai dengan penerimaan terhadap ideologi Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Dalam konteks hubungan antaragama di Indonesia, Pancasila merupakan perwujudan dari kalimatun sawa atau common word. Proses yang cukup alot dalam menentukan dasar dan ideologi mendapat titik temu. Para pendiri negara dan pemimpin Islam mementingkan kerukunan dan integrasi nasional daripada mengedepankan ego sektoral dan kelompok belaka. Ini merupakan hadiah terbesar dalam kesatuan dan keutuhan bangsa yang majemuk dari segi agama, suku bangsa, adat istiadat, beragam bahasa dan lain sebagainya.

Pencapaian yang sulit itu di tengah jalan ingin dirusak oleh kelompok transnasional dan berupaya melepaskan Pancasila dalam ingatan anak bangsa. Cara-cara yang sering dilakukan adalah memutarbalikkan fakta sejarah dan sejarah politik keislaman. Parahnya, upaya menjauhkan pikiran Pancasila sebagai dasar negara dilakukan dengan terus menerus. Salah satu gerakan yang dilakukan di tengah pandemi ini adalah melakukan diskusi, yang satu tema dengan lainnya saling berkaitan.

Salah satu dasar yang dijadikan serangan terhadap Pancasila adalah temuan dan pantauan yang dilakukan oleh grup Evello melalui akun Twitter Azis Subekti (Founder Evello Corp)—ia bersama dengan Dudy Rudianto—yang juga merupakan Ketua DPP PAN (entah masih atau tidak), di-upload pada tanggal 9 Juni 2020 pukul 3.24 PM dengan jumlah retweet 170 dan like sebanyak 286. Bunyinya, “ormas Islam yang telah dibubarkan oleh pemerintah masih terus diperbincangkan di media sosial dan diberitakan di media daring. #PantauanEvello share index perbincangan dan pemberitaan HTI mencapai 37,89 % dibandingkan @muhammadiyah FPI dan NU – @nu_online.”

Dengan menggunakan keyword “ormas Islam” sebagaimana yang tertera dalam gambar hasil pantauan yang di-share Azis Subekti di website Evello tidak menemukan penjelasan utuh. Penulis pun melacan akun medsos resmi sesuai link yang tertera dilaman websitenya, seperti Twitter (akun ditangguhkan), Facebook (halaman ini tidak tersedia) dan Instagram (tertulis “maaf, halaman ini tidak tersedia”) milik Evello tak juga didapatkan sama sekali.

Tapi biarlah. Mari kita bandingkan analisa saja. Pantauan itu hanya hitungan harian saja. Tercatat dengan keyword “Ormas Islam” dari 02-Juni-2020 sampai 09-Juni-2020. Tapi bagi HTI, di tengah pandemi ini, hitungan hari pantauan itu tidak menjadi masalah. Yang terpenting bagi kelompok khilafaters adalah memiliki amunisi untuk menyerang organisasi seperti Nahdlatul Ulama (319; 0,98 persen), Muhammadiyah (10,811; 33,45 persen) dan Front Pembela Islam (8,94; 27,67 persen). Salah satu akun simpatisan HTI bernama @faruq_bang menulis “Waduh. Emang kalau ummat sdh di HaTi.. Emang susah pindah ke lain hati HaTi y” dengan menge-tag penulis.

Kita bandingkan dengan pantauan Evello dengan keyword ideologi” pada 25 September 2019 sampai 02 Oktober 2019, tidak ada satupun kader HTI yang meliput hasil ini. Pada periode ini, perbincangan khilafah di Twitter hanya berada dikisaran 17,70 persen. Berbeda jauh dengan Pancasila sebanyak 33,31 persen dan Komunis sebanyak 48,97 persen. Namun, porsi Pancasila di semua media online masih menempati urutan pertama dengan pemberitaan sebanyak 1.096, sedang Komunis 734 dan khilafah sebanyak 52.

Disisi lain juga, kader dan simpatisan HTI sama sekali tidak mempublikasi release milik Evello pada periode 1 Januari sampai 14 Oktober 2019 yang menempatkan pemberitaan Pancasila sebanyak 39.661, Komunis sebanyak 9.302 dan khilafah sebanyak 3.384. Kita ketahui bersama, di tengah-tengah periode itu terdapat momentum politik; pemilu presiden.

Menarik untuk dicermati adalah tweet Azis Subekti pada tanggal 3 Juni saat memposting pantauan Evello soal Pancasila. Ia menulis, “pantauan Evello membuat Pancasila diberitakan dan diperbincangkan hingga 33.700 pada hari itu. Setelahnya, Pancasila sepi dari perbincangan dan pemberitaan. Cc. @PDI_Perjuangan”. Kemudian tanggal 6 Juni, ia membuat tweet soal “Ideologi, Laris Manis Sehari”. Yang dimaksud adalah Pancasila. Dan barulah pada tanggal 9 Juni ia membagikan gambar soal khilafah banyak diperbincangkan di media sosial (scroll ke atas).

Terlepas dari hasil pantauan Evello yang dibagikan ke publik itu, ada dua aspek yang perlu kita bahas: membagikan umpan dan memanfaatkan peluang. Evello membagikan umpan dan dimakan oleh HTI. Ibarat orang makan, umpan yang diberikan sungguh mengeyangkan dan membuat bahagia. Hari-hari setelah amunisi itu tersebar, tema-tema yang diusung oleh khilafaters adalah “Membaca Tanda-Tanda Keruntuhan Amerika Lokomotif Kapitalisme Global” (pemateri Fahmi Amhar) yang di-live-kan di Youtube Channel Teman Hijrah (10 Juni 2020; 20.00-21.00 WIB); “Kembalinya Khilafah di Akhir Zaman dan Kemunculan Imam Mahdi” (pemateri Aziz Fathoni dan host Mabsus Abu Faatih) yang di-live-kan di Facebook Link Syar’i (13 Juni 2020; 20.00-21.30 WIB); “New Normal, Diantara Ancaman Krisis Ekonomi dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam” (pemateri M. Ismail Yusanto dan Rokhmat S Labib) yang di-live-kan di Youtube Kaffah Channel (13 Juni 2020; 08.30-11.30 WIB).

Di tengah euforia yang ada, kader HTI yang dipanggil “Ustadh Syarifuddin Chan” menyebarkan hoax. Fungsinya untuk menambah semangat kader dan simpatisan lainnya. Dalam laman Facebooknya, ia menulis “melihat para ulama duduk berjejer bersama dalam acara yang diselenggarakan Hizbut Tahrir dengan thema : Menyeru Umat Dan Militer muslim seluruh dunia untuk memenuhi bisyarah Rasulullah (menegakkan Khilafah), terasa semakin sangat dekat kebangkitan umat ini… Allahu Akbar.” Berita hoax itu di-like 853, dikomentari sebanyak 92 komentar dan 839 kali dibagikan.

Penulis pun mencari jejak digitalnya karena dalam tahun 2020 ini tidak ada tema “Menyeru Umat dan Militer Muslim Seluruh Dunia…” di Palestina. Penulis mendapatkan gambar yang di-share pada acara bertajuk “دور العلماء في مواجهة العلمانية” atau “The Role of Ulema in the Face of Secularism”. Video yang penulis dapatkan pada akun Ahmad Al-Qashash, Kepala Kantor Penerangan Hizbut Tahrir wilayah Lebanon tertulis jelas bahwa acara itu bukan diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Palestina sebagaimana cuitan Syarifuddin Chan, melainkan Hizbut Tahrir Lebanon. Dan bukan pada tahun 2020 melainkan 31 Maret 2019. Salah satu isi sambutan yang diwakili oleh Mohammed Ibrahim (perwakilan HT Lebanon) adalah “pentingnya peran ulama dalam pendirian Khilafah”.

Dari keterkaitan yang terjadi, HTI di tengah pandemi ini akan mencari amunisi dari siapapun dan mencari kesalahan pemerintah walau sebesar biji zarah. Disinilah yang sering penulis katakan, sejatinya HTI bukanlah perkumpulan orang yang benar-benar berdakwah melainkan gerakan politik yang akan menerkam siapapun. Gerakan ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan Indonesia. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!