Virus HTI Merusak Kaum Hijrah

3
214

Sangkhalifah.co — Menculnya sosok ustadz hijrah diantaranya Felix Siauw, belakangan ini menjadi kebanggaan sebagian kaum millenial dengan trend hijrahnya.  Dakwah yang mereka bawa adalah penyeruan kepada al-Qur’an dan hadis. Berbagai gerakan anti pacaran, berhijab menjadi simbol seakan dakwah yang demikian adalah menjadi nilai kebanggaan sendiri dimata pemuda yang berlandaskan paham syariah Islamiyahnya. Ini menjadi salah satu alasan bagi golongan akhi sebut saja bagi laki–laki dan ukhti panggilan syariahnya perempuan.

Akibat adanya ustadz hijrah dari HTI, dari golongan awam, kaum hijrah merasakan hidup yang tidak stabil. Tidak lama mengenal Islam mereka berani saling mengkafirkan, tidak lama belajar Islam mereka tidak percaya kepada Pancasila. Virus ini menjadi senjata bagi golongan HTI merusak kaum hijrah dengan segala dakwah manisnya dan menyerukan kepada al-Qur’an dan hadis dengan tidak percaya kepada dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akibatnya kaum hijrah menjadi hilang arah dan tujuan dan terdoktrin oleh virus-virus yang diberikan oleh HTI.

Dalam konteks agama yang dimaksud, hijrah adalah berpindahnya suatu kebiasaan yang buruk menuju suatu kebiasaan yang baik dalam rangka menciptakan kualitas diri untuk menumbuhkan pribadi yang ikhlas beribadah dan rahmah dalam berhubungan dengan sesama manusia di sekelilingnya. Kalau melihat sirah nabawiyah dimana Rasulullah Saw Hijrah adalah dalam rangka mempersatukan ummat.

Sejak HTI dibubarkan oleh pemerintah dikarenakan visi dan misi penyeruan kepada paham siyasah islamiyah atau khilafah islamiyah ini sangat bertentangan dengan dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila. Berbicara Ormas memang secara resmi telah bubar, akan tetapi berbicara para pendiri, anggota, jamaah, pengikut dan setiap orang yang mendukung berjalannya kegiatan HTI baik secara tersembunyi atau terang-terangan belum hilang dibumi Pancasila ini.

Kaum millenial yang akan menjadi pioner penerus bangsa dan negara sebagian telah terkontaminasi oleh paham radikal ini, karena suatu bujukan halus dan penghargaan bahwa membela Islam yang mereka maksud (khilafah) adalah bagian dari jihad. Padahal ini yang harus di pahami betul bahwa Pancasila adalah titik final dalam kehidupan bernegara dan sebagai pedoman hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beberapa ustadz hijrah yang berdakwah mengusung tema-tema keremajaan seperti anti pacaran, berhijab dan bersedekah. Inilah yang menjadi motor penggerak untuk mendoktrin kalangan ummat millenial supaya mereka asyik dan merasa golongan mereka (khilafah) yang paling benar dalam ajaran agamanya, hidup di Indonesia ini memakai sistem khilafah. Inilah yang disebut virus HTI merusak kaum hijrah.

Islam adalah agama kasih sayang untuk seluruh ummat manusia di muka bumi ini, terkhusus di Indonesia telah menjadi satu agama yang bisa memberikan kedamaian bagi agama lain. Namun karena adanya Hizbut Tahrir Indonesia inilah Islam dikenal keras, ekstream dan tidak berperi kemanusiaan. Karena golongan HTI ingin paham yang mereka anut berhak ada di Indonesia ini.

Virus Hizbut Tahrir Indonesia telah mengancam persatuan agama-agama, kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan nilai rahmah bagi Islam sendiri. Para khilafaters tidak berpikir bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hasil dari perjuangan para pendiri bangsa. Ini menjadi suatu pergerakan bagi siapa saja yang cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk semangat mengisi nilai-nilai kemerdekaan dengan tetap berpedoman kepada Pancasila sebagai dasar kehidupan bernegara.

Kalau sudah mendengar kata jihad, hijrah, wakfir (saling mengkafirkan) dari golongan khilafaters. Inilah yang di pahami betul untuk mengkampanyekan Islam yang rahmah dan Pancasila yang abadi. Melalui kebiasaaan hidup bermasyarakat menggunakan sistem toleransi maka akan sejuk dipandang dan damai dirasakan. Maka, secara sadar mereka golongan HTI akan menjauh karena melihat situasi kehidupan yang rahmah dan tanpa mengkafirkan antar golongan sesama manusia dibumi Pancasila.

Munculnya fenomena ustadz hijrah sedemikian banyaknya saat ini, sikap yang harus ditunjukkan bagi kalangan kaum millenial untuk cerdas dalam memilih guru, panutan, dan fans sekalipun agar jangan sampai terdoktrin oleh bujukan halus dakwah yang mereka bawa. Adapun gerakan mereka bagus dalam berdakwah itulah cara mereka merekrut bagi golongan awam. Kendati demikian, yang menjadi final keinginan mereka yaitu sama adalah ingin menjauhkan diri kita yang mencintai NKRI untuk tidak berpedoman terhadap pancasila.

Ideologi Negara Kesatuan Indonesia tidak bisa diubah oleh siapapun, dalam kondisi seperti apapun karena inilah yang menjadi sentra perdamaian, kasih sayang, hidup bersama dalam satu sistem berlandaskan Pancasila. Saat ini yang ditemukan adalah golongan ekstrem yang tidak berperikemanusiaan, tidak menghargai perjuangan pendiri bangsa, tidak cinta terhadap kebhinnekaan mereka bisa dikatakan kaum radikal atau dalam konteks siyasah Islamiyah. Jihad melawan Hizbut Tahrir Indonesia adalah melawan setiap gerakan yang menyimpang dari Pancasila, menguatkan kecintaan kepada negara dan memahami bahwa kekerasan bersumber pada ajaran khilafah Islamiyah. Kedewasaan seseorang dalam agama dan negara diukur dengan toleransi, kepedulian seseorang diukur tidak saling caci mencaci, dan kasih sayang seseorang diukur dengan saling menghormati. Inilah sikap penghormatan kepada negara atas nama kemanusiaan. []

*Handika Naufal Husni (Mahasiswa Pascasarjana Hukum Unissula Semarang)

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!