Ustadh Aman Abdurrahman dan LIPIA Jakarata (1)

1
163

Sangkhalifah.co — Pernah mendengar Aman Abdurrahman? ajengan asal Sumedang di hukum dengan hukuman mati oleh pengadilan Jakarta Barat karena mengotaki serangkaian teror di Indonesia.

Beliau termasuk Mumtaz di LIPIA Jakarta, menuntaskan hafalan Al-Qur’an ketika di LIPIA, hafal bulughul Maram dan ketika pindah ke Mako Brimob Kelapa Dua, dia berhasil mengkhatamkan hafalan Bukhari dan Muslim, dia berhasil menghafalkan Alfiyah Ibnu Malik, kami ketika sama-sama di penjara Polda Metro jaya, sering menyimak muroja’ah hafalan Bulughul Maram, ya dia betul-betul hafal.

Pemahamannya berubah manakala ada Daurah Syar’iyyah di Masjid As-Sofwah Lenteng Agung, beberapa syaikh dari Timur Tengah menjadi pematerinya, ketika saya masih thulab ma’had Bahasa Arab dan Ma’had Al-Hikmah 1998-2001 saya sering mampir ketempat ini, sejak itu saya sudah mengenal Aman Abdurrahman.

Beberapa pemateri dari timur tengah berkesan baginya, pada waktu itu tugas Aman Abdurrahman adalah penerjemah masyayikh dari Timur Tengah tadi, bab tentang tidak ada udzhur bil jahil dalam perkara Syirik Akbar dan Takfir Mu’ayan ada materi yang merubah segalanya, 11-12 materi ini cocok buat aktifis Darul Islam/NII Jakarta yang hobi FAI (mengambil harta di negara kafir istilah kelompok underground saat itu) di Negara Indonesia.

Ketika di As-Sofwah, Aman Abdurrahman itu berkawan dekat Ustadh Zainal Abidin alumni pondok pesantren NU Tambak beras Jombang, yang hijrah ke Salafi (dalam video-videonya terlibat debat dengan Kiai Idrus Romli), hanya kemudian aman Abdurrahman membuat Thiyyar Salafi Jihadi, sedangkan Ustadh Zainal Abidin hanya salafi Thiyyar Taklim Wal muta’alim faqod… hehehe

Sayangnya hafalan sebanyak itu tidak ada kiai atau mursyid dakwah yang membimbingnya, Ustadh Zainal Abidin masih aman karena komunitasnya (Salafi), ada dewan asatidzah sehingga tidak terlalu dalam mengkaji kitab Najd lainnya, berbeda dengan Aman Abdurrahman yang keranjingan faham dakwah Najd, teringat beliau menyuruh beberapa santri-santrinya di LIPIA yang masih menginjak mustawa i’dad lughawi (persiapan bahasa) untuk ke Fakultas syariah untuk mencari kitab-kitab seperti Ad-Durar As-Saniyah karya Syaikh Qasim An-Najdi, Sabilun Najah Wal fikak Fie Muwalati Ahlil Atrok karya Hamdan Ibnu Atiq, Risalah Makna Thagut dan Nawaqidul Islam karya Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain sebagainya untuk membuat silabus tarbiyah dan manhaj dakwah barunya.

Santri-santri Aman Abdurrahman selain anak-anak LIPIA awal kebanyakan adalah anak-anak NII daerah Ranco Tanjung barat dekat dengan Tanjung Barat, anak-anak Cengkareng dari grupnya Jamil (terbunuh di Suriah) dan grup Abu Omar yang pernah terlibat rencana pembunuhan ketua PKB Matori Abdul Jalil saat itu, inilah cikal bakal Salafi Jihadi di Indonesia saat itu.

Menurut saya di sini puncaknya, bayangkan anak kampung yang berasal dari santri pondok salaf di Sumedang Bandung, belajar agama dan berhasil banyak menghafal, tetapi ketika di Jakarta belajar tanpa guru dan sanad yang terputus, lalu menyimpulkan sendiri, belajar sendiri, tanpa teman diskusi, lalu dari aliran dan paham ini, banyak puluhan polisi terbunuh sejak 2010-2020an, banyak santri-santrinya yang tertangkap termasuk saya, banyak terbunuh di tembak Densus 88, kelompok ini menjadi bala bagi umat Islam di Indonesia, bagaimana kesalahannya, tunggu tulisan berikutnya. [Bersambung]

*Sofyan Tsauri, Mantan Napi Teroris

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!