Urgensi Sinergitas Civitas Kampus Membasmi Virus Radikalisme

1
549

Sangkhalifah.co — Radikalisme belakangan semakin tumbuh subur di ranah kampus, hal ini berdasarkan riset dari SETARA Institute dari bulan Februari hingga April tahun 2019 bertajuk; Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN. Bahwa masih banyak ditemukannya wacana keagamaan yang bersifat ekslusif di PTN dan dalam survey tersebut ditemukan 10 PTN yang terpapar radikalisme di antaranya; Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Mataram. Hal ini menunjukkan bahwa kampus telah menjadi lahan produktif kaum radikalis.

Sejak era reformasi dan dibukanya kran demokrasi, bersamaan dengan itulah kelompok radikal mulai berani menunjukkan eksistensinya ke ruang publik. Kelompok radikal kemudian memperlebar sayapnya ke ranah kampus untuk memperluas spektrumnya dalam proses kaderisasi mereka. Awalnya, kelompok radikal menggunakan pendekatan persuasif secara face to face untuk dapat mempengaruhi kadernya dan hal ini intens dan konsisten mereka lakukan.

Kemudian pada gilirannya mereka menggunakan akses digital untuk memperlebar jangkauannya. Mereka dalam prakteknya menggunakan media virtual untuk mempengaruhi massa yang notabennya adalah kalangan anak muda, dalam hal ini mahasiswa. Mahasiswa sejak lama menjadi sasaran utama kelompok radikal.

Dalam momentum masuknya mahasiswa baru baik Perguruan Tinggi Negeri/Swasta maupun perguruan tinggi keagamaan Islam. Serta meskipun proses masuknya generasi angkatan tahun 2020 sepenuhnya berbasis online, mereka tetap bergerilya melalui media sosial dengan berbagai kontennya. Konten keislaman mereka bertebaran di internet dan saat ini banyak menjadi acuan utama kalangan mahasiswa dan generasi milenial untuk mempelajari agama.

Civitas akademika kampus perlu melihat kembali akan pentingnya mereduksi keterpaparan mahasiswa terhadap virus radikalisme dan bagaimana strategi menangkal kelompok radikal yang berupaya merongrong ideologi negara. Karena Radikalisme sendiri merupakan tahap awal untuk menuju kepada aksi terorisme. Sudah banyak dijumpai alumni kampus yang ikut hijrah ke Suriah untuk menegakkan Khilafah dan berjihad versi mereka.

Mahasiswa baru yang masuk pada tahun ini pastinya berasal dari berbagai latar belakang organisasi di sekolahnya. Belakangan yang cukup menjadi perhatian berbagai kalangan adalah keberadaan “Rohis” sebagai organisasi berbasis keislaman di sekolah. Rohis cukup lama menjadi salah satu media kelompok radikal untuk menginfiltrasi ideologi mereka di kalangan anak muda. Untuk itu, bagi alumni Rohis yang masuk di perguruan tinggi perlu di deradikalisasi paham keagamaannya ketika masuk ke ranah kampus.

Hal ini bukan tidak berdasar, karena saat ini terdapat Pro dan kontra terhadap keberadaan Rohis. Dengan terungkapnya fakta bahwa mantan pengurus dan aktivis Rohis salah satu sekolah, yakni SMKN Anggrek terlibat aksi terorisme, tertangkap oleh Densus Anti Teror-88, pada tahun 2011 (Suara Merdeka, 2012). Enam di antara tujuh pelaku yang ditangkap tersebut berasal dari sekolah menengah kejuruan itu. Di antara enam orang tersebut, tiga orang masih berstatus pelajar dan tiga lainnya adalah alumnusnya.

Selain itu, berdasarkan studi PPIM UIN Jakarta tahun 2018, menunjukkan potret bagimana sikap beragama di kalangan siswa SMA bahwa dalam level sikap/opini, sekitar 58,5 persen siswa dan mahasiswa memiliki pandangan keagamaan yang cenderung radikal. 51,1 persen memiliki pandangan keagamaan yang cenderung intoleran secara internal. Secara eksternal, sebanyak 34,3 persen siswa dan mahasiswa menunjukkan pemahaman keagamaan yang cenderung intoleran. Kemudian, sebanyak 48,95% siswa dan mahasiswa merasa bahwa pendidikan agama memiliki porsi besar dalam mempengaruhi sikap toleransi terhadap agama lain.

Berdasarkan riset ini, kalangan mahasiswa baru yang akan masuk ke perguruan tinggi cukup banyak yang memiliki pandangan keagamaan yang intoleran dan radikal. Untuk itu, sinergi civitas kampus di internalnya menjadi penting untuk dilakukan. Dan juga perlunya Sinergitas antar kampus dalam menguatkan solidaritas bersama untuk melawan kelompok radikal di kampusnya masing-masing.

Syukurnya, beberapa kampus saat ini telah melihat akan pentingnya pembinaan terhadap mahasiswanya baik dari sisi akademis maupun pemahaman ideologi dan keagamaan. Saat ini sudah banyak kampus yang mendirikan lembaga Pembinaan Edukatif dan saling bekerjasama baik di PTN/Swasta maupun PTKIN, seperti Pusat Studi Pancasila, Rumah Moderasi dan semacamnya untuk menjadi media mahasiswa dalam menguatkan basis intelektual, moral, ideologi dan spiritual. Lembaga ini pun cukup ideal dalam menelurkan generasi intelektual yang progresif dan berwawasan kebangsaan. []

*Ferdiansah, Pekerjaan: Peneliti di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!