Upaya Kelompok Radikal-Teroris Mengganti Sistem dan Ideologi Bangsa

2
544

Sangkhalifah.co — Kelompok radikal-teroris yang sering berjualan agama untuk kepentingan kelompoknya seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimun, Jama’ah Islamiyyah, Ansor Ad-Daulah dan sesamanya bermuara pada tujuan kudeta ideologi dan sistem suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, kelompok-kelompok Islam transnasional itu menawarkan sistem utopis khilafah Islamiyyah yang dianggap sistem suci yang langsung datang dari Tuhan untuk menggantikan demokrasi sekaligus Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dan UUD 1945 sebagai konstitusinya. Mengatasnamakan agama, mereka berasumsi kalau Pancasila dan UUD 1945 merupakan sebentuk sesembahan seperti halnya berhala yang harus ditumpas diganti dengan khilafah dan ideologi Islam.

Secara eksistensi, keberadaan kelompok-kelompok ekstrim sebagaimana disebutkan di atas sudah cukup membahayakan. Setidaknya jika mengutip pendapat Khamami Zada dalam bukunya Islam Radikal, kelompok radikal berbahaya karena dua hal. Pertama, karena menganggap apa yang diyakini di dalam paham keagamannya sebagai satu-satunya keyakinan yang benar.

Dan kedua, menganggap salah, bahkan menyesatkan serta mengkafirkan keyakinan keagamaan orang lain yang berbeda. Bermuara kepada ideologi Wahabisme, kelompok-kelompok radikal-teroris berusaha mensucikan agama agar sama persis dengan kehidupan di zaman Nabi. Bahkan, dengan cara-cara menghasut dan merendahkan kemanusiaan, mereka berdalih sedang melaksanakan kesunahan nabi.

Mengomentari fenomena membahayakan di atas, KH. Said Aqil Siraj dalam buku Islam Kebangsaan menyebutkan bahwa gerakan yang selalu mengatasnamakan agama, di sisi lain menyalahkan pandangan keagamaan orang lain bahkan seringkali terjebak pada formalisme Islam, sementara di sisi lain mengesampingkan esensi agama yang bermuara pada pembinaan akhlak.

Mengacu pada QS. Al-Ma’un Ayat 1-5, KH. Said merelevansikan keberadaan orang-orang yang berdusta atas nama agama sama seperti gerakan radikal-teroris yang selalu membawa-bawa agama untuk menarik simpatik orang lain. Orang-orang dengan model demikian kata beliau, kerapkali menghardik anak yatim (yadu’ul yatim), tidak peduli kemiskinan (la yahuddu ‘ala tha’amil miskin), dan lalai dengan salatnya (wailun lil mushollin).

Meskipun ideologi Pancasila dan UUD 1945 merupakan perangkat negara yang kuat, kokoh dan teruji dengan zaman, namun jika terus digerogoti bisa rapuh. Eksistensinya bukan hal mustahil akan runtuh di tengah kemunculan gerakan radikal dan teror yang sangat membahayakan. Ahmad Syafi’i Ma’arif menyebut, kelahiran kelompok radikal yang selalu berdalih atas nama agama untuk menghancurkan Pancasila menjadi tantangan bagi bangsa.

Pasalnya fenomena demikian akan melemahkan generasi-generasi muda di akar rumput dalam upaya menghormatan kepada ideologi bangsa. Ketika terhadap ideologinya saja mereka acuh dan bahkan merendahkan, bukan suatu yang mustahil bila pemikiran dan langkah mereka tersesatkan oleh gerakan kelompok radikal-teroris.

Kegagalan paham kelompok radikal-teroris dengan menganggap Pancasila sebagai taghut juga perlu menjadi perbincangan tulisan ini. Sebab bila dibiarkan pemahaman demikian bergulir di masyarakat, tidak menutup kemungkinan ada satu dua orang yang teracuni dengan gerakan transnasional itu. Mereka berasunsi bahwa Pancasila dan UUD 1945 serta demokrasi adalah taghut yang disembah oleh orang Indonesia. Pemahaman ini jelas tidak benar.

Para ulama kita, ulama tafsir seperti Muhammad Tahir Ibn’Asyur dan Ibn Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud taghut adalah sesuatu selain Allah yang dijadikan sesembahan. Taghut menjadikan seseorang musyrik jika disembah dan dijadikan Tuhan. Sebagaimana dahulu orang-orang kafir menyembah berhala, di antaranya latta dan ‘uzza. Itulah taghut yang senyatanya.

Sekarang kita lihat Pancasila, UUD 1945 dan demokrasi, apakah ketiganya dijadikan sesembahan untuk melawan ketuhanan Allah? Apakah ketiga perangkat negara itu menjadikan seseorang enggan untuk salat dan beribadah hanya kepada Allah? Jawabannya sudah jelas tidak. Ketiga perangkat negara Indonesia itu bukan untuk disembah, akan tetapi menjadi simbol persatuan antar perbedaan yang sudah Allah tentukan.

Yudi Latif menyebut, Pancasila sama dengan Piagam Madinah yang sama-sama (meski bukan sebentuk aturan agama) bermuara untuk kemaslahatan umat, menyatukan perbedaan. Pun, masyarakat Indonesia yang meyakini dan menganut ideologi Bangsa tersebut tetap teguh dengan ibadahnya. Ibadahnya lancar dan tidak meninggalkan Pancasila dan UUD 1945. Sebab keduanya bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Bila kelompok transnasional yang berupaya untuk mengkudeta bangsa masih bergentayangan di negeri ini maka perlu ada ketegasan dari semua pihak untuk menindak dengan tegas. Terutama pihak-pihak yang berwajib untuk mengamankan suatu peristiwa (polisi) yang sangat mungkin akan merubah Pancasila dengan sistem utopia khilafah.

Selain itu untuk membentengi generasi muda kita dari terpapar virus radikalisme adalah melalui vaksin-vaksin pengembangan sistem dan ideologi bangsa melalui perspektif agama-agama yang santun dan ramah. Melalui pendidikan dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, pembelajaran, pengamalan dan praktik atas nilai-nilai Pancasila perlu terus didengungkan untuk terus mengokohkan ideologi bangsa kita bersama. [Lufaefi]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!