Tujuan Jihad: Menghidupkan Bukan Mematikan

0
64

Sangkhalifah.co — Masih banyak sekelompok orang yang dangkal dalam memahami agama memaknai jihad hanya dan hanya peperangan. Sebut saja HTI, kelompok yang sudah dibubarkan pemerintah ini tidak mau memaknai jihad dengan selain perang, seperti menahan nafsu, menghidupi keluarga, menumbuhkan ekonomi, dan lain sebagainya. Pun dengan ISIS, yang juga memaksudkan jihad tidak ada arti lain kecuali memerangi orang yang tidak mau mengakui dan atau mendukung daulah Islam versi mereka. Pandangan ini menurut Abdul Mu’thi, Sekretaris Umum Muhammadiyah sebagai bentuk sikap dan tindakan yang disebabkan karena kurangnya pembacaan. Apa yang dipahami hanya itu dan itu saja sehingga tidak ada alternatif untuk menghargai pandangan lain yang berbeda.

Jihad di dalam Islam tidak hanya perang dan mengangkat pedang. Hanya mereka yang gagal paham atau atau pahamnya gagal dalam memaknai jihad mereka yang memiliki gagasan demikian. Di dalam QS. Furqan Ayat 52 buktinya Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang besar.” Semua ulama tafsir tegas menyatakan bahwa ayat ini memberi penjelasan bahwa Nabi Muhammad diperintah untuk berjihad dengan argumen-argumen Al-Qu’ran dalam melawan orang kafir yang membangkang ajaran Islam, bukan dengan perang dan pedang.

Gus Baha dalam satu kesempatan juga menegaskan demikian di atas. Bahwa jihad dengan Al-Qur’an memang benar adanya. Bahkan di dalam Al-Qur’an sampai digunakan redaksi “ara’aita…, yang artinya tidaklah kalian lihat” ketika Nabi mendapat orang-orang kafir. Itu menurut Gus Baha sebagai bukti bahwa memberikan argumen yang membuat Islam menarik adalah bentuk jihad sesungguhnya. Sebab jihad sebetulnya adalah menghidupkan, bukan mematikan. Jihad menghidupkan semangat terhadap orang non Muslim untuk masuk Islam atau orang-orang yang imannya masih lemah untuk berislam secara benar. Jihad dalam konteks ini bermakna adu argumentasi dengan baik, untuk menemukan kebenaran.

Selain itu menurut Quraish Shihab, dakwah yang menggunakan cara-cara yang membuat orang takut akan Islam tidak akan pernah berhasil. Pun seperti ini pemahaman agama, tidak akan bisa diterima jika disampaikan dengan kekerasan dan apalagi caci maki. Kesalahan para pelaku bom bunuh diri yang merupakan tindakan teror, kata Quraish Shihab, mungkin punya niat baik. Tetapi hakikatnya sangat salah. Mereka salah dalam memaknai kata ‘anfusihim’ dalam rentetan ayat jihad yaitu “wajahidu biamwalihim wa anfusihim”. Yang dimaksudkan dengan ‘anfus’ menurut Quraish Shihab, bukan jihad dengan raga dan badan kita. Akan tetapi berjihad dengan sesuatu yang menjadikan badan tidak bisa lepas dari itu, seperti harta, keluarga, dan lain sebagainya. Memaknai jihad hanya dengan arti peperangan adalah sebuah tindakan ceroboh.

Sedangkan di dalam ayat-ayat yang lain tentang perintah jihad, seringkali didahului dengan perintah berhijrah. Misalnya QS. Al-Anfal Ayat 72, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi..” dan QS. At-Taubah Ayat 20, yang maknanya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan..”

Kenyataan di atas menurut Nasaruddin Umar, bahwa sepenting apapun jihad, seseorang harus berhijrah terlebih dahulu. Lafaz-lafaz perintah jihad di dalam Al-Qur’an yang seringkali didahului oleh lafaz-lafaz perintah hijrah. Hijrah sendiri lebih bersifat mengalah dan menyerahkan diri kepada Allah dan tidak boleh ada peperangan di dalamnya agar tidak terjadi pembunuhan dan kematian. Pandangan ini menguatkan bahwa jihad yang hakiki adalah menghidupkan, bukan jihad yang justru mematikan, apalagi membunuh orang lain. Oleh sebab itu pula masuk dalam kategori jihad adalah berusaha untuk menolong yang lamah dan memulihkan ekonomi umat, yang semuanya bernilai menghidupkan.

Jihad yang justru mematikan, apalagi yang mati adalah mereka yang tidak berdosa, maka bukan predikat syahid yang akan diperoleh, akan tetapi mati dalam keadaan niat yang jahat. Matinya tergolong sebagai mati su’ul khotimah karena memiliki i’tiqad buruk untuk mencelakakan orang lain bahkan mereka yang tidak bersalah. Agar masyarakat milenial tidak ada lagi yang gagal paham dalam memaknai jihad, maka tugas para cendekiawan dan agamawan untuk terus mengedukasi mereka terkait persoalan jihad, dan kaitannya Islam dengan simbol-simbol nasionalisme. Pemerintah pun hendaknya men-support mereka yang berjuang di akar rumput mengimbangi dan meminimalisir terjadinya gagal paham jihad dan ajaran agama yang bisa menjerumuskan pada aksi kekerasan dan terorisme. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!