Trik Rasulullah dalam Menanggulangi Wabah Terorisme

0
312

Sangkhalifah.co — Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah agama yang penuh kerahmatan. Ia mengasihi bukan saja kepada sesama orang Islam, akan tetapi kepada semua manusia dan bahkan seluruh alam. Namun demikian citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin seringkali tergadaikan oleh ulah gerakan radikal dan teror yang berbuat kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Agama yang wujud aslinya sebagai ajaran yang bervisi-misi kedamaian namun di tangan pelaku teror berubah menjadi garang dan menakutkan. Agama yang ajaran utamanya mengayomi semua makhluk di mata kelompok teror dan radikal menjadi ajaran yang mengancam dan mengerikan. Maka sudah saatnya sebagai orang Islam melihat kembali bagaimana Rasulullah dalam menanggulangi terorisme yang beredar di tengah masyarakat, untuk kemudian mencontohnya dalam menyelesaikan problematika gerakan teror di masa kini.

Rasulullah SAW merupakan nabi yang lahir di tengah masyarakat yang radikal bahkan teror. Beliau lahir di tengah budaya orang-orang yang gemar melakukan intimidasi. Suatu hari ketika Jafar bin Abi Tholib ketika tiba di Habashah (Ethiopia), mengatakan kepada Raja Najasy.

“Wahai Sang Raja, dulu kami adalah kaum yang musyrik, menyembah berhala, memakan bangkai, menindas tetangga, menghalalkan yang haram dan saling menumpahkan darah antara sesama, tidak ada kata halal dan haram dalam kehidupan kami……”

Pernyataan Jafar itu betapa mengindikasikan bahwa gerakan radikal dan teror sudah sangat nampak di masa Rasulullah. Menindas tetangga dan menumpahkan darah antar manusia bukan hal yang asing di masa tersebut. Nabi Muhammad sudah menghadapi gerakan radikal dan teror dan tentu saja mencontoh bagaimana beliau meminimalisir dan menghilangkannya.

Secara sederhana dan dengan logika yang mudah dipahami, pertama-tama dapat kita katakan bahwa amat sulit Islam berkembang dan dianut oleh masyarakat Arab jika tidak didakwahkan dengan cara-cara damai dan kesejukan. Islam yang memiliki esensi perdamaian, kesejahteraan, persamaan hak, kerukunan dan pengabdian secara total kepada sang pencipta, diejewantahkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya di tengah masyarakat yang radikal dan teror dengan kedamaian. Ini juga sejalan dengan visi Nabi Muhammad yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin; QS. Al-Anbiya ayat 107) yang menegaskan bahwa benar Nabi Muhammad menampilkan wajah Islam kepada semua manusia dengan wajah yang damai dan mendamaikan, bahkan kepada mereka yang kufur dan menentang Islam.

Tips Rasulullah dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme adalah dengan menanamkan sifat mawas diri kepada para sahabatnya. Rasulullah menggembleng mereka agar tidak terjerumus kepada sikap sombong, merasa diri paling benar, dan seperti tidak ada gang mengawasi dalam kesehariannya. Rasulullah SAW misalnya memberikan pesan kepada para sahabat dengan bersabda: “beribadahlah kalian seolah-olah Allah sedang menilai langsung ibadah kalian.”

Sikap ini merupakan sikap yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabatnya agar tidak sombong dan merasa diri paling benar, yang itu merupakan sikap yang berpotensi melahirkan kekerasan dan intimidasi kepada orang lain yang berbeda faham dan keyakinan. Sifat mawas diri menjadi tips Rasulullah agar para sahabat tidak terjerumus kepada tindakan radikal dan teror yang kerapkali saling menumpahkan darah satu sama lain.

Tips selanjutnya yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabatnya adalah menanamkan nilai-nilai positif yang dapat menggerakan hati untuk berlaku damai dengan keadaan apapun. Misalnya, Rasulullah Saw bersabda sebagaimana disebutkan dalam kitab Kitabul Bir wa Assila wal Fadl:

“Sesungguhnya Allah itu sangat belas kasihan, suka kedamaian dan tidak menyukai kekerasan. Ia memberikan sesuatu kepada mereka yang suka berbelas kasihan dan tidak memberikan kepada mereka yang suka kekerasan dan tidak memberikan juga kepada siapapun kecuali yang suka berbelas kasihan dan berdamai.”

Tips ini penting ditanamkan kepada masyarakat agar menyadari bahwa Rasulullah dan ajaran Islam secara umum adalah ajaran yang penuh kasih sayang dan tidak sama sekali membolehkan kekerasan atas nama apapun. Islam agama welas asih, dan bukan agama radikal serta teror. Trik Rasulullah dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme adalah dengan melarang menciptakan ketakutan dan intimidasi kepada sesama.

Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya: Sesungguhnya balasan bagi mereka yang memerangi Allah dan Rasulnya dan melakukan pengrusakan di atas muka bumi adalah dibunuh atau disalib atau dipotong kakinya atau diasingkan. Demikianah balasan yang hina bagi mereka di dunia dan bagi mereka siksa api neraka di akhirat nanti (QS. Al-Ma’idah: 33).

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksudkan pengrusakan di muka bumi adalah menciptakan kerusakan lingkungan dan juga ketakutan kepada sesama manusia. Itulah salah satu trik Rasulullah agar para sahabatnya terhindar dari wabah radikalisme dan terorisme. Larangan bersikap dan bertindak yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan menjadi salah satu jalan Rasulullah dalam meminimalisir masyarakat Arab jahiliyah ketika awal mula Islam datang. Trik lain yang Rasulullah ajarkan pada para sahabatnya adalah larangan untuk saling membunuh. Disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya: “Allah berfirman “Dan janganlah kamu membunuh jiwa-jiwa yang telah diharamkan oleh Allah padamu kecuali dalam kebenaran.” (QS. Al-Isra Ayat 33).

Allah SWT melalui ayat di atas berpesan kepada Rasulullah agar umatnya tidak mudah menyalahkan, mengharamkan, mengkafirkan hingga membunuh sesama manusia yang lain. Itulah trik Rasulullah dalam menanggulangi wabah radikalisme dan terorisme. Rasulullah SAW telah mengonsep trik dalam menanggulangi wabah terorisme. Semoga kita sebagai umatnya dapat meneladani apa yang telah beliau lakukan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!