Tren Hijrah dan Pola Keberagamaan di Indonesia: Menangkal Radikalisme dengan Ingat Sejarah

0
298

Sangkhalifah.co — Mencermati fenomena keberagamaan di Indonesia memang selalu menarik, terlebih bila melihat perkembangan corak keberagamaan itu di media sosial. Gencarnya perang pemikiran antara model Islam moderat dan Islam radikal membuat kita merasa geli sekaligus kebingungan. Di media sosial, salah satu corak yang paling menonjol dari Islam radikal adalah suka melakukan formalisme agama.

Misalnya soal hijrah, dalam beberapa tahun terakhir fenomena hijrah ini sangat digandrungi para artis ibu kota. Beberapa artis kemudian masuk ke dalam jejaring hijrah ini dan membentuk semacam komunitas khusus. Para artis ini yang tergabung dalam jejaring hijrah memberi dampak yang cukup signifikan untuk menarik para generasi milenial. Pasalnya, para pemuda generasi milenial kemudian ikut tren-tren hijrah. Tren mereka ditandai dengan beberapa model formalisme agama, misalnya seperti tren cadar, tren jenggot, celana cingkrang dan lain sebagainya. Fenomena formalisme agama ini menuai pro dan kontra di hampir semua kalangan, misalnya dari kalangan petinggi negara, kaum akademisi, maupun ormas keagamaan.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menjadi salah satu pendukung fenomena hijrah. Dalam sambutannya di “Hijrah Fest 2018 dan 2019”, ia sempat menyatakan bahwa tren ini merupakan sesuatu yang positif untuk menarik para pemuda Islam ke arah yang lebih baik, bahkan dapat menandai kebangkitan Islam Indonesia. Anies juga mengungkapkan bahwa tren ini tidak hanya berdampak pada religiusitas, melainkan juga dapat memperbaiki beberapa sektor termasuk sektor perekonomian. (dikutip dari republika.co.id).

Soal sektor perekonomian ini juga cukup unik. Tren hijrah yang merupakan gerakan keagamaan tidak hanya bergerak di bidang dakwah dan keagamaan saja. Mereka juga bergerak pada wilayah ekonomi, yang kadang-kadang memakai “balutan agama” untuk mempromosikan produk-produk ekonominya. Misalnya produk-produk pakaian Mulsim seperti cadar, gamis, mukena, dan masih banyak lagi. Dalam setiap iklan produk tersebut, kelompok hijrah selalu mempromosikan dengan alasan-alasan syari’ seakan-akan orang yang tidak memakai pakaian sebagaimana yang mereka juga menjadi kurang Islami dan agamais.

Artinya, komunitas hijrah ini, seringkali memakai agama untuk keuntungan ekonomi, atau dalam bahasa akademisnya disebut sebagai “komodifikasi agama”. Yakni memanfaatkan agama untuk kepentingan ekonomis. Inilah yang seringkali menjadi problem karena telah sedikit menyalagunakan agama untuk kepentingan uang. Mereka memiliki pasar yang begitu kuat karena sebagian besar masyarakat kita adalah orang-orang awam, apalagi yang tinggal di daerah perkotaan, sangat mudah mengikuti tren hijrah tersebut. Belum lagi soal dukungan dari pejabat negara yang makin memperkuat identitas mereka sebagai gerakan agama yang tidak murni agamis.

Tidak bisa dipungkiri, meskipun mendapat dukungan dari petinggi ibu kota, tren hijrah sebagai salah satu bentuk formalisme agama juga dikhawatirkan akan berdampak pada terseretnya para pemuda ke jalan radikalisme. Seperti pernyataan dari Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Ahmad Khoirul Anam, bahwa tren hijrah ini berafiliasi pada Salafisme-Wahabi dengan tingkat pemahaman keagamaan yang rendah. Dampaknya, perilaku ini akan mendorong seseorang pada jurang perilaku yang kaku dalam kehidupan beragama, tidak toleran, dan resisten terhadap budaya-budaya lokal. (Materi yang disampaikan pada seminar di Hotel IBI Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (25/7) )

Dilansir dari media CNN Indonesia, Fenomena hijrah di kalangan generasi muda Indonesia turut menjadi sorotan Ormas Islam tertua di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Di ruang media sosial dan masjid-masjid, khususnya di wilayah perkotaan, banyak bermunculan guru atau ustadz baru yang kebanyakan lulusan Timur Tengah dan mereka mengenalkan ajaran Salafi.

Kemunculan para Salafis ini juga mendapat tanggapan positif dari sebagian generasi milenial, musisi, artis, atlet, hingga geng motor. Mereka pun menganggapnya sebagai inspirasi hijrah untuk masuk dan mengamalkan ajaran Islam secara benar. Sementara itu, NU dan Muhammadiyah masih berjalan di jalur konvensional dengan medium pembelajaran pesantren dan metode dakwah langsung tatap muka.

Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) menyadari ada geliat berhijrah yang menjangkiti kalangan muda di wilayah perkotaan. PBNU juga ikut mengamati kebanyakan generasi milenial tersebut banyak yang hijrah karena pengaruh dakwah ulama Salafi, bukan dari NU. Hal ini dapat berakibat fatal, yakni mewabahnya paham-paham Salafi yang pada akhirnya akan mengundang pada isu-isu radikalisme.

Kekhawatiran tentang tren hijrah yang akan bermuara pada paham radikalisme bukanlah isapan jempol belaka. seperti kita tahu bahwa tren hijrah ini banyak berafiliasi dengan kelompok Salafi yang sejauh ini dianggap sebagai kelompok Islam garis keras dalam konteks paham keagamaan maupun praktik keagamaannya. Sehingga akan sangat mungkin paham radikal yang diusung oleh Salafi ini secara langsung mempengaruhi pola keberagamaan komunitas hijrah.

Fenomena formalisme agama yang terbungkus dalam tren hijrah milenial memberikan kesan bahwa agama hanya terbatas pada hal yang sifatnya non esensial melalui sikapnya yang hanya terfokus pada fiqih belaka. Dampaknya, Islam hanya dipandang sebagai suatu tatanan ibadah yang tekstual dan kaku sesuai dengan zaman Nabi di masa lalu tanpa mempedulikan aspek kontekstualnya.

Akhirnya, Islam yang kaya akan dimensi esoteris akan memudar. Jika hal ini tidak diawasi, ia akan merambah pada gaya berfikir “tatanan Islami” di berbagai lini kehidupan. Padahal, pada dasarnya Indonesia adalah negara multikultural yang tidak bisa menerapkan sistem Islami secara murni. Dalam konteks sejarah, Islam dengan gaya ini tidak muncul di awal masuknya Islam ke Indonesia. Islam lebih dulu dikenal dengan ajaran-ajaran esoterisnya melalui jalan sufisme.

Karenanya, penting bagi umat Islam Indonesia untuk menghayati model keberislaman masyarakat kita sebagaimana diajarkan oleh generasi terdahulu yang pertama kali menancapkan Islam di bumi Nusantara. Bila tidak, Islam yang berbasis pada kultur dengan kecanggihan moderasi yang tinggi, lama kelamaan akan terkikis oleh gaya Islam pendatang baru yang tentu saja tidak cocok dengan pengalaman keagamaan umat Islam di Indonesia.

Hal penting yang bisa kita contoh dari ulama-ulama Nusantara generasi masa lalu adalah menselaraskan antara Islam dan budaya. Yakni mengkombinasikan ajaran Islam dengan sistem kebudayaan yang baik. Sehingga dari sini akan muncul sikap inklusif, memiliki pikiran terbuka dan luas, serta akan mampu menjadi jembatan penghubung antara Islam dan keilmuan dunia modern. Di sini, Islam dan kemajuan zaman menjadi tidak terpisahkan.

Selain itu, aspek penting yang perlu diteladani adalah soal dimensi sufistik atau ajaran cinta kasih. Bahwa hakikat dari Islam adalah cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama. Artinya, kita tidak mungkin mengamalkan dan mengajarkan Islam secara kaku dalam konteks masyarakat yang begitu plural ini. Bagaimana mungkin kita akan mengajak orang lain masuk Islam atau mengajak kepada kebaikan, sementara kita sendiri mengajaknya dengan cara-cara yang keras? Bukankah dengan begitu justru mereka akan berlarian menjauhi Islam.

Sebagai generasi muda, sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengingat sejarah. Yakni sejarah tentang masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Dengan begitu, kita akan memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam bukan hanya pada level doktrin-syariat, tetapi juga dimensi historis, kultural, dan konteksnya. Artinya, para ulama terdahulu sudah memberi pelajaran penting kepada kita bahwa betapa Islam di Indonesia adalah Islam yang berdampingan dengan budaya, bukan Islam yang membumihanguskan budaya, Islam yang berbudaya dan bukan Islam yang anti budaya, serta Islam yang syariat sekaligus Islam yang hakikat. []

*Rosi Islamiyati, Alumni Magister Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

Leave a reply

error: Content is protected !!