Transplantasi Organisasi Jamaah Islamiyah & Tiga Terduga Teroris

2
697

Sangkhalifah.co — Masyarakat dikagetkan dengan penangkapan tiga tersangka teroris, yakni Ahmad Zaini, Farid Okbah dan Anung Al-Hamad. Orang pertama yang ditangkap Densus 88 adalah Ahmad Zain An-Najah. Ia ditangkap di Jalan Merbabu Raya, Perumahan Pondok Melati, Kota Bekasi pada pukul 04.39 WIB. Kemudian, Densus 88 menangkap Farid Ahmad Okbah di Jalan Yanatera, Kelurahan Jatimelati, Kota Bekasi pada pukul 04.43 WIB. Lalu terakhir, Anung Al-Hamad yang ditangkap di Jalan Raya Legok Blok Masjid, Jatimelati, Kota Bekasi, pada pukul 05.49 WIB.

Selama ini, teroris hanya dipersepsikan mereka yang berpenampilan sangar dan seperti monster. Cara pandang yang kurang tepat pula ketika kita membaca organisasi Jamaah Islamiyah hanya sebagai organisasi teror. Fakta di lapangan, Jamaah Islamiyah bergerak di permukaan dan tidak ada bedanya dengan organisasi berbasis keagamaan lainnya. Mereka telah melakukan transformasi dari eksklusif ke inklusif sesuai pedoman barunya.

Melalui jalur pendidikan, salah satu tokoh Jamaah Islamiyah yang tertangkap Ahmad Zaini ini terekrut. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas dan santun, Ahmad Zaini mendapatkan beasiswa Strata Satu di Madinah, Strata Dua dan Strata Tiga di Mesir. Bisa dikatakan, Ahmad Zaini adalah kader Jamaah Islamiyah pilihan dalam dunia pendidikan. Ahmad Zaini tidak dikirim ke Afghanistan untuk pelatihan militer seperti kader satu angkatan dengannya.

Dengan kecerdasan akademiknya, Ahmad Zaini diharapkan mampu memoles Jamaah Islamiyah agar bisa diterima masyarakat secara luas. Strategi inilah yang disebut dengan Tamkin. Ini adalah istilah Bahasa Arab yang berarti penguasaan wilayah atau bisa juga penguasaan pengaruh dalam sebuah pranata sosial, politik, ekonomi dan bahkan kebudayaan.

Proses mendorong kelompok pemberontak negara seperti Jamaah Islamiyah untuk memakai jalur demokrasi seperti pemilu bukanlah hal yang baru. Sudah ada dalam buku pedoman mereka yang sebanyak 4 jilid.

Dalam konteks inilah FO, sosok yang disebut oleh kepolisian sebagai dewan syuro atau dewan pertimbangan JI ini sedang dalam proses mendorong anggota JI muncul ke permukaan dengan berkontestasi melalui proses demokrasi. FO mendirikan PDRI, Partai Dakwah Republik Indonesia.

Farid Okbah pun bukanlah sosok sembarangan dalam dunia aktifisme Islam. Ia berjejaring luas tidak hanya di Indonesia tapi juga di Timur Tengah. Pasalnya, salah satu afiliasi organisasi Farid Okbah adalah Dewan Dakwah Islam Indonesia yang didirikan oleh mantan Perdana Menteri Indonesia, Muhammad Nasir. Celakanya, menurut aparat kemanana, dalam proses moderasi Jamaah Islamiyah ini, Farid Okbah menabrak rambu-rambu Undang-Undang Terorisme tahun 2018, di antaranya dengan menjadi anggota syuro Jamaah Islamiyah, menyembunyikan informasi Daftar Pencarian Orang dan pengumpulan dana ilegal untuk kepentingan Jamaah Islamiyah.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap anggota-anggota Jamaah Islamiyah sebelum Ahmad Zaini, Farid Okbah dan Anung Al-Hamad telah didapatkan bukti petunjuk adanya keterlibatan ketiga orang dengan bukti yang kuat dan tidak bisa disangkal.

Abu Rusydan yang merupakan kombatan Afghanistan dan ditangkap karena menyembunyikan keberadaan Ali Ghufron, memiliki jaringan khusus dengan Farid Okbah dan Ahmad Zaini. Dimana paska penangkapan Para Wijayanto, Abu Rusdan bertemu Siswanto yang merupakan ketua Laznah: sebuah panitia khusus untuk mencari pengganti pimpinan.

Siswanto menyampaikan bahwa demi menyelamatkan Jamaah Islamiyah maka diperlukan beberapa hal sebagaimana ide yang ditawarkan Farid Okbah. Ide tersebut yakni jihad ke permukaan, mendirikan sarana pendidikan dan terjun ke politik. Sebab itulah Farid Okbah dan Ahmad Zaini mendirikan partai untuk mengelabui masyarakat.

Siswanto ini merupakan senior di Jamaah Islamiyah dalam kepemimpinan Para Wijayanto. Ketika Siswanto mendapatkan hasil rapat pertemuan salah satu nama yang tertulis untuk dijadikan Dewan Syuro adalah Farid Okbah.

Ditambah pula, Para Wijayanto yang merupakan amir pada periode 2009 hingga 2019 menegaskan bahwa peran yang diberikan kepada Farid Okbah untuk menjadi pengganti Adung, tapi yang terpilih adalah Zarkasih. Farid Okbah pun kemudian memilih untuk menjadi pejuang di permukaan dan mendapatkan kesepakatan oleh Para Wijayanto.

Dalam melakukan kegiatan sebagai fundraising, Berdasar keterangan FITRIA SANJAYA, Farik Okbah Bersama Ahmad Zaini merupakan dewan syariah Amil Zakat Abdurrohman Bin Auf, yang bertugas memberikan masukan, pengawasa dan arahan pergerakan operasionalnya. Dalam kegiatan sehari-hari hadir dipermukaan dengan tujuan menarik simpati masyarakat. Selain itu, pada saat Fitria Sanjaya menjabat sebagai pimpinan Amil Zakat Abdurrohman Bin Auf Pusat, beberapa kali melakukan pelaporan tahunan Amil Zakat Abdurrohman Bin Auf secara langsung kepada FARID AHMAD OKBAH untuk dilakukan evaluasi.

Dengan demikian, eksistensi Farid Okbah dan kawan-kawan terbilang penting dalam struktur Jamaah Islamiyah. Ketiganya memiliki peran dan fungsi pengatur dalam tubuh Jamaah Islamiyah. Sebab perannya yang urgen dan upaya pencegahan terorisme meluas, ketiganya ditangkap sesuai dengan pasal-pasal yang ditetapkan nantinya.

So… mereka bukan ulama…! Jangan salah menilai seseorang, apalagi untuk dijadikan panutan dalam beragama.

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!