TNI-Polri Darurat Penanganan Infiltrasi Salafi-Wahabi (1)

2
2117

Sangkhalifah.co — Institusi Militer atau Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak saja menjadi obyek infiltrasi kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tapi juga kelompok Salafi-Wahabi. Strategi keduanya mirip tapi tidak sama dan tujuan yang berbeda. Hizbut Tahrir Indonesia menjadikan thalabun nusrah (memperoleh pertolongan) ada pada tahapan kedua dalam aktivitas gerakan politiknya, yang mereka sebut bagian dari tahapan tafa’ul (aktivitas interaksi). Sebab tahapan ini bagian dari metode (istilah HTI-nya thariqah) yang wajib diikuti oleh semua simpatisan maupun anggota yang telah di-baiat.

Pencarian untuk mendapatkan perolehan dukungan ini agar orang-orang yang memiliki kemampuan memberikan pertolongan menjadi bekal penting dalam mencapai tahapan ketiga: tahapan penerimaan kekuasaan. Kekuasaan ini didapati dengan segala macam cara dan upaya, sekalipun memperolehnya berstatus negatif.

Dalam melakukan infiltrasi, Hizbut Tahrir Indonesia mengaplikasikan thalabun nusrah (memperoleh pertolongan) dengan beberapa tahap. Pertama, sebagai upaya mencari perlindungan (thalabul himayah). Tujuannya: agar dalam proses menghipnotis masyarakat agar tergerak dan bergabung dalam memperjuangkan Khilafah Islamiyah menjadi aman. Jika ada yang menggangu, biasanya petinggi HTI melakukan upaya diplomatis kepada pihak keamanan yang sudah terkena virus Khilafah tersebut.

Kedua, tahapan pertama menjadi bekal agar dalam proses pengambil alihan kekuasaan. Dimana strategi mengantarkan HTI ke tampuk pemerintahan dalam upaya mengembalikan status ideologi negara menjadi Islam berhasil. Dan ketiga, jika telah didapatkan maka pembentukan opini/narasi berupa kegimbaraan akan segera dimasifkan di semua media offline maupun online.

Sebab itulah, infiltrasi saat ini yang bisa dilakukan HTI baru sampai tahap kedua, seperti yang dilakukan Badan Wakaf Al-Qur’an milik tokoh Hizbut Tahrir Indonesia. Selain cara itu, mereka masuk dengan ajakan untuk mengadakan kajian murakkazah dalam halaqah-halaqahtatsqîf jama’i, fokus kepada umat agar masyarakat melakukan pembentukan opini kepada pemerintah dengan menonjolkan ragam keburukannya.

Pada aspek terakhir ini berupa pengadaan kajian dan halaqah-halaqah serta menguasai masjid-masjid di lingkungan TNI-Polri memiliki kesamaan dengan infiltrasi yang dilakukan Salafi-Wahabi. Salah satu contoh mutakhir terjadi di Masjid Al-Badar Pussenif TNI Kodiklatad Bandung dengan melakukan rekruitmen imam shalat tetap. Adapun kriteria salah satunya harus bermanhaj salaf dan bersifat diutamakan. Artinya, pendaftar di luar kelompok mereka secara otomatis tidak akan lolos, apalagi berasal dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bagi kelompok Salafi, utamanya Nahdlatul Ulama dianggap bagian dari kelompok yang sesat karena memelihara tradisi seperti Maulid, Tahlilan atau istilah mereka perbuatan bid’ah yang bisa menghantarkan ke Neraka.

Siapa yang masuk ke Masjid Al-Badar Pussenif TNI Bandung itu? mereka yang terafiliasi dengan Salafi-Wahabi, dan bagian dari gabungan varian antara Salafi Hijazi dan Salafi Haraki. Gerbong ini memang ditugaskan pihak pimpinannya untuk melakukan infiltrasi ke pihak keamanan melalui ragam pintu, utamanya Angkatan Laut. Mengapa? hal ini terkait dengan sistem perdagangan.

Varian yang belakangan masuk ke TNI ini terbagi dua: varian Salafi Hijazi (berdakwah dengan fokus membangun tatanan keimanan perspektif Muhammad bin Abdul Wahab yang anti-Tasawuf, anti-Maulid, anti-Budaya dan sejenisnya) dan varian Salafi Haraki (yang menjadi penghubung ke partai politik; varian ini menggadap pihak keamanan yang berpengaruh agar bisa dititipkan gagasan baik masuk atau keluar kepada/untuk partai politik PKS).

Mereka pun telah membuat beberapa grup untuk mewadahi simpatisan atau pengikutnya. Salah satunya berjudul “Prajurit Mengaji”. Semua isi grup terkait kajian keislaman merupakan bahan ajar untuk pemula dan menengah. Namun umumnya terkait keimanan/spiritualitas. Ini menjadi tahap dalam penataan jaringan di lingkungan keamanan. Prinsipnya, jika anggoata TNI-Polri sudah terpengaruh dan terhipnotis maka mereka akan mudah mengarahkan kebijakan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing anggota. [Bersambung]

 

Leave a reply

error: Content is protected !!