Tiga Pernyataan Yahya Waloni yang Menyesatkan Umat Muslim

0
256

Sangkhalifah.co — Publik kembali dihebohkan dengan pernyataan ustaz kondang, yang lagi-lagi, Yahya Waloni angkat suara soal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali. Menurutnya, PPKM Darurat merupakan senjata politik. Bahkan, ia tak ragu sebut PPKM Darurat salah satu strategi komunis. Yang pada gilirannya, mendiskriminasi umat muslim.

Wajar saja pernyataan tersebut mengundang perhatian dan yang pasti, amat kontroversial. Kontroversi ini bukan karena sosok Yahya Waloni tapi, karena ia menyandang atau lebih tepatnya ia dan jamaahnya menganggap Yahya Waloni sebagai pendakwah.

Jika ia beranggapan demikian maka seharusnya, peran pendakwah sangat penting dalam kehidupan beragama dan berbangsa, terutama di tengah pandemi ini. Sebab, pendakwah sejatinya pembimbing umat sekaligus teladan bagi umat. Oleh karena itu, dalam konteks kebangsaan, pesan-pesan dakwah yang menyejukkan dan taat konstitusi harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam sosok pendakwah. Semua itu tentu saja demi utuhnya NKRI.

Selain itu, kontroversi ini muncul karena, sebagaimana diketahui bersama, seluruh elemen bangsa ini bersatu bersama pemerintah dan berusaha keluar dari bahaya pandemi ini. Akhirnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM Darurat sebagai upaya menekan laju peredaran covid-19. Sayangnya, kebijakan tersebut direspon negatif oleh Yahya Waloni bahkan ia tak segan menyatakan pemerintahan sekarang “kafir” — karena PPKM telah mendiskriminasi umat muslim.

Pada titik ini, maka tak heran apabila pernyataannya menjadi buah bibir di masyarakat. Di samping itu, pernyataannya itu sangatlah tidak rasional alias logika yang dibangun adalah sesat.

Yang menjadi pertanyaan, di mana letak kesesatannya dalam pernyataan ustaz Yahya Waloni tersebut?

Agar supaya tidak terjebak dalam kesesatan dalam mengkritik pernyataan yang sesat maka, saya akan berpijak pada pernyataan langsung ustaz Yahya Waloni yang dalam hal ini diberitakan oleh awak media, paling tidak ada tiga pendapatnya yang kontroversial, yang pertama, ia menyebut PPKM darurat senjata politik. Kedua, ia menyebut PPKM Darurat strategi komunis. Terakhir, PPKM lukai umat Islam mengingat saat hari Idul Adha masih diberlakukan PPKM, kata Yaya Waloni sebagimana dilansir oleh makassar.terkini.id, (15/7).

Pernyataan pertamanya, “Kita semua tahu tanggal 20 Juli adalah pelaksanaan hari besar Islam, untuk peringati hari raya kurban Idul Adha. Ini mengapa tiap pelaksanaaan besar Islam selalu dikopat-kopitkan”.

Pernyataan di atas, sekilas memang tampak benar namun, sekali lagi, sesat. Pasalnya, tak hanya umat Islam yang terimbas dari kebijakan PPKM Darurat akan tetapi umat agama lainnya. Kemudian, jika memang Yahya Waloni ingin mengatasnamakan Islam maka, ia harus berpijak pada pandangan umum, misalnya sikap Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan/atau majelis ulama Indonesia (MUI)–yang sejauh ini menjadi rujukan dan representasi umat Islam terbanyak di Indonesia. Sedang kedua ormas dan MUI sendiri menyatakan bahwa, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat ini tidak mendiskriminasi umat Islam. Indikatornya, rumah ibadah yang semula ditutup sekarang, melalui perubahan Ketiga PPKM Darurat, rumah ibadah tidak ditutup lagi.

Pernyataan kedua dari Yahya Waloni yaitu, “PPKM Jawa-Bali ini cuma senjata politik, kalau kita lihat dari analisis politik, penduduk terbesar Indonesia itu di Pulau Jawa. Dan umat Islam juga besar di Jawa”.

Pernyataan ini juga sesat. Karena, tak ada kaitannya antara jumlah penduduk muslim terbesar di Jawa dan kebijakan PPKM Darurat dengan agenda politik praktis. Sebab, yang terimbas tak hanya umat muslim melainkan, non-muslim terbesar di pulau Bali pun ikut merasakan dampaknya. Dengan demikian, jika memang PPKM Darurat ini senjata politik praktis, bukankah masyarakat non-muslim khususnya Hindu juga terdampak? Lantas, mengapa Yahya Waloni hanya menyinggung Islam? Lagi-lagi logikanya sesat.

Pernyataannya yang terakhir, “Karena yang paling ditakuti Komunis adalah persatuan umat Islam,” dan “Mari rapatkan barisan kita bela agama ini. Dunia tak akan selamatkan kita, hanya iman dan amal soleh yang selamatkan kita. Ingat, jangan kamu taat pada perintah-perintah orang kafir”.

Statement terakhir ini cukup aneh. Tak ada angin tetiba komunis disangkutpautkan. Ia masih beranggapan bahwa komunis itu takut dengan persatuan Islam. Atau dengan kata lain, komunis itu masih hidup dan kuat pengaruhnya.

Sedang, menurut Romo Magnis Suseno (2020), komunis yang (dianggap) jaya misalnya, di Rusia kini sudah hancur. Di Republik Rakyat China (RRC) komunis berkamuflase menjadi kapitalis. Lantas, apa yang hendak ditakuti dari komunis? Jika kita merasa khawatir terhadap bahaya komunis, apakah pantas kita menyeru kepada masyarakat luas untuk tidak patuh terhadap pemerintah, dalam konteks ini, menolak PPKM Darurat? Apakah ini tindakan seorang pendakwah sejati?

Dengan demikian, melalui tiga alasan ini saya rasa cukup mengantarkan pernyataan ustaz Yahya Waloni itulah tak lain adalah “racun” dan menyesatkan bagi umat Islam khususnya. [Saiful Bari]

Leave a reply

error: Content is protected !!