Thobib Al-Asyhar: Nasionalisme Kita Telah Terverifikasi Agama

1
363

Sangkhalifah.co — Media Sangkhalifah.co bekerjasama dengan Yayasan Bina Bangsa Indonesia (BBI) mengadakan diskusi online dengan tema “Syiar Keagamaan dan Spirit Nasionalisme” pada hari Kamis, 21/05/2020. Panitia menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Thobib Al-Asyhar (Kabag Ortala, Kepegawaian, dan Hukum Ditjen Bimas Islam), Agus Idwar (Musisi Religi) dan Mohammad Azis Nawawi (Penulis Buku Best Seller dan Motivator Internasional).

Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa syiar keagamaan dan spirit nasionalisme merupakan dua hal yang perlu diiringi secara bersamaan. “Syiar keagamaan merupakan kewajiban dalam beragama. Pesan-pesan agama yang disampaikan kepada masyarakat harus berlandaskan sikap toleran, saling pengertian dan menjunjung tinggi ukhuwah wathaniyah. Para ulama telah menemukan konsep yang ideal agar nasionalisme yang ditanamkan kepada anak-anak sudah selaras dengan agama”, ujarnya.

Dosen Kajian Timteng dan Islam Sekolah Stratejik dan Global Universitas Indonesia ini melanjutkan, “praktik-praktik spirit nasionalisme yang berbasis pada persatuan-kesatuan telah diajaran oleh Sunan Kudus. Ia mengajarkan toleransi beragama kepada umat Hindu dan Buddha yang berada di sekitaran Kudus. Ketika bersama umat Hindu, bentuk toleransi dilihatkannya dari sikap yang menghormati sapi yang disucikan oleh umat Hindu. Pada hari Qurban, Sunan Kudus tidak menyembelih Sapi dan hanya menyembelih kerbau.”

Spirit nasionalisme ini juga bisa dibangkitkan melalui syiar keagamaan yang diperankan oleh Agus Idwar. Sebagai salah satu narasumber, ia merupakan tokoh senior di kalangan musisi religi. Ia membuat senada dan menarik simpatik masyarakat, khususnya muda-mudi Indonesia.

Menurutnya, “syiar keagamaan seperti ini bisa menjadi alternatif generasi milenial yang ingin mengembangkan jiwa musiknya. Dikemas dengan narasi-narasi Islami dan penuh penghayatan. Jadi, jika ada anak yang suka musik, jangan dimarahi. Tapi diarahkan ke arah yang baik, seperti melantunkan nasyid-nasyid yang menggugah spirit nasionalisme, mendekatkan diri kepada Allah bahkan bisa menjadi sarana untuk menebarkan perdamaian, persatuan dan kesatuan. Seperti gubahan saya dalam sebuah video klip berjudul Jangan Biarkan.

Lanjutnya, “gubahan ini mengajak seseorang untuk tidak menjadi pendendam. Dan jangan membiarkan kebencian pada seseorang melenyapkan kebaikan seseorang. Bahkan kita tahu, sekurus-kurusnya ikan, pasti ada dagingnya yang bisa kita makan.”

Syiar keagamaan tidak saja menyasar kalangan tua. Tantangan terbesar saat ini, menurut Mohammad Azis Nawawi, ada pada generasi muda. “Tantangan di generasi muda, tidak saja soal ide tapi juga cara mengemas sebuah produk agar diminati secara luas di pasaran”.

“Generasi muda harus disamping harus memiliki etika, kejujuran, tangkas dan cekatan dalam menemukan solusi, juga dituntut kreatif mengemas ide. Ide ini bisa dijual ke dunia internasional. Inilah yang sering saya suarakan dalam seminar-seminar. Anak muda dan santri harus bangkit dan tampil agar posisi strategis tidak diambil oleh kalangan radikal”, tutupnya.

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!