Tetap Waspada dengan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

0
104

Sangkhalifah.co — Aparat keamanan Indonesia telah banyak melakukan pelumpuhan, bahkan sampai mati, para teroris di Indonesia. Pada tanggal 18 September 2021, tim Densus 88 dan Satgas berhasil menewaskan Ali Kalora, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Teroris yang pernah membunuh warga Desa Lembang Tangoa, Sulawesi dan pembakaran rumah ibadah ini berhasil dimusnahkan. Kelompok teroris yang dipimpin oleh Ali Kalora MIT berideologi Salafi Jihadis yang berafiliasi dengan ISIS sebagai kelompomk terror paling brutal.

Apresiasi yang tinggi dan dorongan dari masyarakat luas agar keamanan negara kita terus memberantas gerakan terorisme di Indonesia adalah sebuah keharusan. Bukan hanya oleh para pemangku kebijakan yang memiliki posisi strategis dalam menentukan keputusan soal terorisme dan kaitan-kaitannya, tetapi juga dukungan dari masyarakat di akar rumput mendukung jajaran polisi, khusunya Densus 88, untuk tak lengah menghentikan gerak para pelaku terror di Indonesia.

Selain Ali Kolera, sebelumnya aparat kita juga telah berhasil melumpuhkan kawan-kawan sebaya Ali Kalora, yang juga merupakan gembong-gembong teroris di Indonesia, seperti Santoso (pendiri MIT), Nurdin M Top (pelaku bom JW Marriot 2003 dan Kedubes Australia 2004), Azhari Husin (pelaku bom Bali 1 dan 2), Dulmatin (terlibat bom Bali 2002), Daeng Koro (terlibat terorisme 2000), Amrozi, Imam Samudra dan  Ali Gufron (ketiganya terlibat bom Bali I).

Secara kuantitas, aparat keamanan kita telah berhasil mengurangi eksistensi teroris di Indonesia. Namun, tewasnya sederet gembong teroris tidak boleh membuat masyarakat Indonesia lengah. Kita harus tetap sama-sama melakukan kewaspadaan dengan tumbuhnya terorisme yang baru pasca terbunuhnya gembong-gembongnya. Muhammad Syauqillah, pengamat Timur Tengah dan Terorisme, pada acara Outlook Indonesia 2021, menyebut, ancanab terrorisme bagi bangsa Indonesia masih ada. Terungkapnya kotak amal yang digunakan untuk mendanai aksi terorisme yang beberapa waktu lalu viral, menjadi salah satu buktinya.

Syauqillah juga menyebut, tantangan menghadapi terorisme di masa kini ialah mengidentifikasi sosial media, karena sangat rentan dan efektif digunakan untuk merubah mindseat masyarakat untuk tidak percaya dengan pemerintah, dan mengharuskan mendirikan negara Islam sebagai model negara yang menurut kelompok terror sebagai negara Tuhan.  Media sosial menjadi alat untuk mendoktrin anak-anak muda untuk siap menjadi pengantin melakukan bom bunuh diri.

Hal yang perlu diwaspadai selain adanya lembaga-lembaga filantropi yang digunakan untuk mendanai terorisme, masyarakat juga perlu bersikap toleran dalam beragama. Pasalnya, sikap ini selama pandemic Covis-19 meningkat drastis. Setara Institut menyebut, ada 180 peristiwa dan 424 tindakan intoleran selama Covid 19 di tahun 2020. Data tindakan pelanggaran kebebasan beragama tahun 2020 meningkat dari tahun sebelumnya dengan jumlah 327. Padahal, tindakan intoleran dalam beragama dan enggan mau menghargai perbedaan dalam beragama, merupakan salah satu langkah seseorang bisa sangat mungkin melakukan aksi-aksi terorisme.

Pada posisi ini masyarakat harus waspada dan cerdas dalam membaca situasi. Kita perlu menanamkan sikap kritis terhadap adanya penggunaan kotak amal jariah yang digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Kita juga perlu mengimbangi narasi-narasi di media sosial dengan konten-konten keagamaan yang menyejukkan. Selain itu, perlu memberikan edukasi kepada masyarakat secara umum agar memiliki jiwa yang toleran, mau menghargai perbedaan, dan siap untuk hidup berdampingan dengan umat beragama selain Islam. Kewaspadaan itu harus dilakukan di setiap lini masyarakat, agar kita bebas dari kejahatan terorisme. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!