Terorisme; Sebuah Perilaku yang Dikecam Agama Islam

0
268

Sangkhalifah.co — Aksi-aksi kekerasan dalam bentuk teror mengatasnamakan agama bukan hal baru di negeri ini. Terhitung sejak 2002, serangan terorisme berskala mematikan menjadi catatan hitam lemahnya nilai kemanusiaan. Aksi teror itu telah meregang ratusan nyawa dan melukai banyak korban. Kasus Bom Bali I (2001), J.W. Marriott Hotel (2003), Pengeboman Kedutaan Besar Australia (2004), Bom Bali II (2005), dan Pengeboman Hotel Simultan di J.W. Marriott Hotel dan Ritz Carlton Hotel (2009) merupakan sederet catatan hitam kasus aksi terorisme mengatasnamakan mengatasnamakan jihad sesuai perintah agama Islam.

Secara etimologi, kata ‘terorisme’ dan jihad memiliki arti yang berbeda. Kata ‘terorisme’ berasal dari kata “teror” dan “isme”. Kata teror sendiri berasal dari bahasa latin “terrer” yang memiliki arti menimbulkan ketakutan. Teroris merupakan pelaku (subjek) teror, sementara terorisme merupakan paham yang berkeyakinan bahwa teror merupakan suatu jalan, taktik untuk menggapai suatu tujuan.

Sementara kata jihad secara etimologi memiliki arti berjuang atau melakukan perjuangan dengan bersungguh-sungguh. Sementara secara terminologi, jumhur ulama mengartikan jihad sangat luas, jihad yang disyariatkan oleh Allah ta’ala merupakan hal yang sangat memiliki nilai luhur, dalam manifestasinya bisa berwujud; bisa dilakukan dengan hati, dakwah, argumentasi, penjelasan, pendapat, dan pengetahuan. Dalam beberapa kondisi bisa dilakukan dengan mengangkat senjata, dan itu pun tetap dalam pengawasan syariat yang ketat agar tetap dalam batasan maqashid al-Syari’ah.

Islam Agama Kasih Sayang

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanisme). Dalam al-Quran surat Ali Imran: 159, Allah Swt. berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159)

Betapa ayat di atas menjelaskan nilai-nilai humanisme yang sangat tinggi. Di dalamnya dibahas sikap untuk bersikap lemah lembut, saling memaafkan antar sesama, berdiskusi (musyawarah) dalam suatu hal, menguatkan tekad, bertawakal dan lain sebagainya. Ayat ini juga tidak membatasi pada kalangan muslim saja, artinya nilai-nilai humanisme itu harus tetap ditegakkan kepada seluruh umat manusia tanpa memandang ras, suku ataupun agamanya. Hal ini sesuai dengan prinsip Islam rahmatan lil ’alamin (kasih sayang bagi semesta alam).

Variasi Makna Jihad dalam al-Quran

Dalam al-Quran, ada banyak sekali kata jihad disebutkan. Yusuf al-Qardlawi mengemukakan bahwa, dalam berbagai bentuknya terdapat 34 kata jihad dalam al-Quran. Sementara M. Quraish Shihab kata jihad dalam al-Quran disebutkan sebanyak 41 kali. Berikut adalah beberapa ayat al-Quran yang menyebutkan kata jihad dengan arti  yang variatif:

Pertama, Jihad Bermakna Perang. Dalam arti perang, jihad disebutkan dalam firman al-Quran surat al-Tahrim [66]: 9:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahanam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. at-Tahrim [66]: 9).

Jihad dalam arti perang pada ayat di atas sering disalahpahami oleh banyak orang. Seolah-olah kalimat “Perangilah orang-orang kafir” merupakan seruan suci untuk memerangi orang non muslim dimanapun dan kapan pun berada. Ini merupakan pemahaman yang keliru dan sangat berbahaya.

Menurut Muhammad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata jihad dalam ayat tersebut memiliki tiga makna, yakni jihad dengan pedang (saif), jihad dengan argumentasi (hujjah) dan jihad dengan dalil (burhan).

Sementara menurut M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa, perang dalam ayat di atas adalah memerangi orang kafir dengan hati, lisan, harta, jiwa dan kemampuan apapun yang dimiliki.

Melihat kedua penafsiran ini, jelas bahwa jihad dalam arti perang tidak memiliki makna tunggal. Tidak diidentikan dengan mengangkat senjata. Tapi lebih sebagai dakwah mengajak orang non muslim untuk memeluk agama Islam. Seandainya harus mengangkat senjata pun, tetap harus melewati tahapan-tahapan dan prosedur yang ditetapkan syariat atas pertimbangan maslahat yang matang.

Kedua, Jihad Bermakna Moral. Dalam arti moral, jihad disebutkan dalam al-Quran surat al-Ankabut (29): 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al-Akabut [29]: 69)

Menurut Yusuf al-Qardlawi menjelaskan bahwa, kata jihad pada ayat di atas merupakan jihad moral dengan mengekang hawa nafsu dan melawan godaan syaitan. Bahkan jihad ini merupakan jihad yang lebih besar pahalanya daripada jihad melawan musuh secara fisik, karena melawan nafsu adalah melawan musuh yang tidak kasat mata, berbeda dengan jihad melawan musuh secara fisik yang tampak wujudnya.

Dan Ketiga, Jihad Bermakna Dakwah. Dalam arti dakwah, jihad disebutkan dalam al-Quran surat an-Nahl (16): 110:

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Nahl [16]: 110)

Menurut Yusuf al-Qardlawi menjelaskan bahwa, kata jihad pada ayat di atas adalah dakwah atau tabligh, serta jihad dalam memikul kepayahan dan penderitaan. Hal ini sebagaimana dialami oleh umat Islam saat di Makkah, mereka mengalami penindasan, penderitaan, penyiksaan dan pengepungan.

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa terorisme yang dalam praktiknya menggunakan cara-cara kekerasan dangan mengatasnamakan jihad sebagaimana perintah agama merupakan kesalahan besar. Agama Islam adalah agama kasih sayang yang secara tegas menolak tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. Islam memang menyerukan jihad, tapi jihad dalam arti luas yang selalu mengedepankan nilai-nilai maslahat. [Muhamad Abror]

Leave a reply

error: Content is protected !!