Terorisme, ISIS dan Penanaman Ideologi Kebencian

2
581

Sangkhalifah.co — Islam sebagai agama yang mempunyai tujuan rahmatan lil alamin harus disebarkan atau didakwahkan dengan prinsip rahmatan lil alamin. Dakwah ajaran Islam tidak akan bisa disebarkan dengan selain dengan tujuan sekaligus prinsip di atas. Tidak bisa dengan paksaan seperti kekerasan dan tindakan teror. Kegiatan berdakwah dengan model dan cara yang tidak rahmat hanya akan menyisakan kebencian antar umat beragama. Kegiatan berdakwah ala-ala ISIS di Timur Tengah adalah contoh nyata wajah keberislaman yang tak patut dicontoh.

Prinsip dalam berdakwah ala ISIS banyak memikat warga Negara di luar daerah kekuasaaanya. Dari berbagai negara banyak yang mendaftar menjadi simpatisan. Melalui media cetak berupa Majalah Dabiq kegiatan memikat simpatisan berjalan mulus dan bisa dikatakan berhasil. Terbukti simpatisan dari berbagai negara bergabung untuk membangun Negara Islam yang dianggap menjadi titik puncak sempurnanya ajaran Islam.

Indonesia menjadi penyumbang simpatisan tersebut. Pada pertengahan Agustus 2017, 18 WNI (Warga Negara Indonesia) yang menjadi simpatisan bagi kelompok teror tersebut memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena bayangan tentang Negara Islam seperti zaman Nabi tidak mereka temukan ketika berada di sana. Hal ini sebagaimana dituturkan 2 orang dari 18 WNI tersebut, Nurshadrina Khaira Dania dan Lasmiati.

Pada tahun 2019, tepatnya pada bulan Maret. ISIS secara kelembagaan dilumpuhkan total oleh Syirian Democratic Farces (Pasukan Demokratik Suriah) setelah daerah pertahanan terakhir ISIS di Baghoud berhasil dilumpuhkan oleh persekutuan militer multi etnis tersebut. Meski demikian, masalah baru muncul ketika ditemukan banyak anggota ISIS adalah simpatisan dari berbagai negara. Simpatisan inilah yang dianggap bom waktu oleh SDF dan menjadi ancaman bagi berbagai negara asal simpatisan ISIS tersebut ketika dipulangkan ke Negara masing-masing.

Di Indonesia, pemulangan Eks ISIS ini menjadi menjadi berita nasional. Wacana pemulangan eks ISIS ini menjadi pro-kontra di berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, agamawan, ilmuwan hingga ‘celetukan’ masyarakat sipil berupa tweet-tweet di akun Twiter dan postingan Instagram. Pemerintah pada saat itu meminta masukan dari tokoh agama.

Menteri Luar Negeri pun mendatangi ketua PBNU, KH. Said Aqil Siradj untuk meminta masukan terkait rencana pemulangan eks ISIS tersebut. KH. Said Aqil memberikan masukan untuk tidak memulangkan Eks ISIS tersebut, landasannya adalah bahwa Nabi pernah mengusir orang-orang pembuat gaduh di Madinah sebagaimana terekam dalam surah Al-Ahzab [33]: 60.

Dari kalangan akdemisi angkat bicara juga, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Hikmahanto memberikan komentar terkait pemulangan Eks ISIS ini bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya bagi Eks ISIS yang masih anak-anak. Ia menyarankan pemerintah memberi kepastian pengganti orangtua bagi anak-anak Eks Kombatan ISIS yang akan dipulangkan. Karena hal ini berpotensi menumbuhkan rasa dendam pada negara yang dianggap memisahkan mereka dengan orangtuanya.

Rasa kekhawatiran masyarakat akan dampak negatif pemulangan Eks ISIS ke Indonesia banyak bermunculan di media sosial dan itu wajar, dikarenakan rekruitmen yang dilakukan kelompok ISIS adalah menanamkan ideologi kebencian. Benci terhadap negara karena dinilai tak mencerminkan ajaran Islam, benci pada warga negaranya yang patuh pada undang-undang karena dinilai tidak menjalankan perintah Al-Quran. Maka tidak lain dan tidak bukan bahwa yang dihasilkan dari ideologi kebencian yang ditanamkan di awal adalah sisa kebencian. Padahal Tuhan tak pernah mengajarkan membenci sesama manusia. Ideologi kebencian ISIS ini, susah dihapuskan meskipun ISIS secara kelembagaan sudah dibubarkan.

Sebuah ideologi yang sudah tertanam dalam diri sesorang tidak bisa diperangi dengan dengan senjata tajam berupa pedang atau senjata api berupa pistol. Ia perlu perlawanan dari idelogi yang berlawan. Harus dilawan! Ideologi penangkal ideologi kebencian itu adalah ideologi kasih sayang.

Ideologi kasih sayang ini merupakan inti dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, cinta kasih bagi seluruh alam. Maka jika ada yang salah dari negeri Ini, harusnya diluruskan bukan dibumi-hanguskan, dinasihati bukan dimaki, didoakan bukan diancam dan diperbaiki bukan malah diratakan. Negara ini sudah sangat demokrasi, apa yang kurang tinggal usulkan bukan main hakim sendiri dengan melakukan teror hingga banyak nyawa gugur tanpa bersalah. Inilah sebenarnya yang ditakutkan dari ideologi kebencian. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!