Terorisme dan Nilai Rendah Agama Islam

1
151

Sangkhalifah.co — Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan rilis perkembangan terorisme di tahun 2019. Menurutnya, masih ada 8 Provinsi di Indonesia yang rawan dengan jaringan terorisme. Jejaring teroris yang masih menghantui bangsa Indonesia itu terafiliasi pada tiga kelompok besar teroris, yaitu Jamaah Anshar Ad-Daulah (JAD), Jama’ah Anshar Al-Khilafah (JAK) dan Jama’ah Islamiyyah. Selama tahun 2019 itu Kepolisian Indonesia telah meringkus 275 teroris yang telah melakukan tindak teror di berbagai daerah. Bila membaca data sejak adanya peristiwa Bom Bali I pada tahun 2002, gerakan terorisme tidak pernah berhenti hingga tahun 2019 dan bahkan tahun 2020. Gerakan ini, menurut Khamani Zada, bertindak atas asumsi menegakkan agama Islam dengan jihad.

Embrio kelompok teror sebenarnya sudah ada sejak masa Rasulullah dan juga masa sahabat Nabi. Sejak zaman Nabi Muhammad dikenal seorang laki-laki beragama Islam di suatu pedesaan bernama Dzul Khawaisirah. Sebagaimana disebut dalam hadis Nabi riwayat Imam Bukhari, Khawaisirah adalah seseorang yang merasa paling Islam dibanding orang lain, bahkan dibandingkan Rasulullah Saw. Ia mengkritik Rasulullah dengan menuduh tidak adil sebab membagi harta rampasan perang Hunain mengutanakan orang-orang yang berpotensi besar akan masuk Islam. Ia menuduh Rasulullah tidak adil. Hingga sahabat Umar pun geram dan hendak membunuhnya. Embrio ini berlanjut dengan lahirnya kelompok Khawarij di masa sahabat yang gemar mengkafirkan orang-orang di luar kelompoknya hanya karena berbeda pemahaman agama san pilihan politik. Dengan mempolitisasi ayat-ayat Al-Qur’an, Khawarij mengecam kelompok di luar diri mereka dan merasa diri paling Islam.

Embrio kelompok teror sejak masa Rasulullah dan sahabatnya itu masih berlanjut hingga hari ini. Munculnya sekelompok orang yang mengaku beragama Islam tetapi gemar mengkafirkan kelompok di luar diri mereka, menganggap taghut apa yang tidak dipahaminya, sampai berani mengkaplingkan surga hanya bagi golongannya. Mereka kerapkali juga mencita-citakan Islam namun sejatinya bukan Islam yang dicita-citakan, dan hanya memperjuangkan ego politik dan nafsu beragama yang justru bertentangan dengan agama. Mereka sekali dua kali melakukan bom bunuh diri dengan nama jihad. Menuduh pemerintah yang sah sebagai penguasa yang tidak Islam seislam dirinya. Islam ditampilkan mereka dengan wajah garang dan menakutkan. Kelompok demikian inilah yang kemudian melukai Islam. Adanya kelompok Taliban, Al-Qaidah, Mujahidin Afghanistan, Hizbut Tahir, ISIS, dan sekelompoknya membuat Islam dipandang dunia sebagai agama tak berkemanusiaan. Islam gegara kelompok-kelompok yang mengaku paling Islam ini justru bernilai rendah.

Efek yang lebih dahsyat dengan adanga kelompok terorisme yang mengaku-ngaku memperjuangkan Islam adalah lahirnya islamophobia. Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Cente menyatakan bahwa sejak tahun 2016 warga Eropa yang cenderung memiliki sikap islamophobia mengalami pelonjakan tinggi. Di Inggris sendiri, islamphobia mengalami kenaikan sebanyak 28 persen. Spanyol dan Italia, masing-masing sebanyak 50 dan 69 persen. Hal ini berawal dari munculnya persepsi kesamaan antara Islam dan terorisme yang ditimbulkan oleh sebagian gerakan-gerakan teror yang terjadi selama waktu itu. Rasa takut warga Eropa kemudian berlanjut kepada tindakan diskriminasi kepada warga Muslim dan lahirnya kelompok anti Islam. Fenomena ini sungguh menyakitkan umat Islam. Islam yang sejatinya merupakan agama kasih sayang, rahmat dan penuh kedamaian tercoreng oleh sebagian pemeluknya yang salah kaprah memahami esensi beragama Islam. Islam digadaikan dengan hawa nafsu kelompok teror dengan memanipulasi tindak kekerasan dipersepsikan sebagai jihad.

Agama Islam sejak diturunkannya merupakan agama cinta kasih. Ia hadir tidak untuk memberontak agama-agama lain. Melalui akhlak Rasulullah dan para sahabatnya Islam berjalan sesuai sunatullah dan memperbaiki ideologi agama-agama lain dengan tanpa kekerasan. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebutkan bahwa Islam adalah agama damai, hal itu sebab setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk menjalin harmoni dengan yang lain. Bahkan Wahiduddin Khan dalam The Theology of Peace menegaskan bahwa perdamaian adalah eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa perdamaian maka tidak akan ada agama Islam.

Pernyataan di atas rupanya dikonfirmasi oleh akhlak Rasulullah kepada orang non Muslim. Ia tak pernah berlaku kasar kepada pemeluk agama non Islam. Sebuah hadis menjelaskan bahwa Rasulullah selama hidupnya selalu memberikan makan kepada pengemis non Muslim yang buta, yang berada di depan Masjid Madinah. Tidak hanya memberikan, tetapi ia juga menyuapi dan menghaluskan makanannya. Meski kemudian Rasulullah dicaci oleh pengemis buta itu, ia tidak pernah marah, bahkan selalu istikamah memberi makan kepadanya hingga akhir hayatnya.

Fakta sejarah bahwa Rasulullah mengasihi semua manusia adalah tak terbantahkan. Bahkan bukan hanya kepada sesama manusia, Rasulullah juga berkasih sayang kepada binatang dan juga dedaunan yang jatuh dari pohonnya. Dalam sebuah riwayat yang dinukil Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah tidak sekali-kali menginjak dedaunan yang jatuh dari pohonnya. Sikap Rasulullah yang demikian itu menjadi kunci utama berkembangnya Islam seantero dunia.

Islam menyebar dan membesar bukan dengan perang dan pedang, tetapi ia menjadi agama besar sebab akhlak yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Para ulama dari kalangan Ahlussunah menyebut demikian sebagai salah satu metode dakwah paling efektif, metode dakwah bila hal. Ini juga sebagaimana diafirmasi oleh ayat Al-Qur’an QS. Fushilat: 33 yang artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (Muslimin)”.

Penjelasan di atas memberikan isyarat kuat bahwa tindakan terorisme, baik dengan bom bunuh diri, menghancurkan fasilitas umum, memberontak pemerintah sah, menjelek-jelekkan pemimpin, atau menganggap kafir siapa dan apa yang tidak sepemahaman dengan kelompoknya bukanlah ajaran Islam. Demikian hanyalah tindakan kekerasan yang muncul karena hawa nafsu dan politik kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Tindakan para teroris dan kelompok radikal tidak secuil pun menguntungkan agama Islam. Sebaliknya, perbuatannya itu justru mencoreng dan merendahkan agama Islam. Islam menjadi rendah di tangan para terorisme. Sehingga umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang esensial, yaitu agama kasih sayang dan perdamaian. Islam merupakan agama yang mengedepankan persaudaraan dan kemanusiaan kepada siapapun, termasuk dengan kelompok yang belum masuk Islam. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!