Terorisme Bukan Ajaran Agama, Ken Setiawan: Merusak Keharmonisan Kita

1
97

Sangkhalifah.co — Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan bahwa radikalisme adalah paham atau ideologi yang menginginkan perubahan dengan menggunakan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan paham atau ideologinya.

“Radikalisme dapat terlihat dari sikap-sikap yang cenderung intoleran. Tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, termasuk memiliki sifat fanatik atau selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah,” katanya.

Ken menambahkan bahwa penetrasi radikalisme telah menyebar dengan cepat melalui media sosial, dapat berupa yang bersifat provokatif dengan kegiatan menyulut kebencian yang mengarah ke radikalisme, termasuk hasutan kepada orang banyak untuk melakukan aksi radikalisme dan terorisme.

“Mereka itu melakukan tindakan-tindakan radikalisme di medsos dengan sporadis, bahkan dengan target beragam dengan tidak memandang pendidikan tinggi, aparat pemerintahan dan maupun profesional,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa aspek yang bisa ditempuh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sebab, secanggih apapun mereka para kelompok teroris, kita tidak boleh kalah dan harus terukur.

“Upaya penanggulangan yang efektif yaitu dengan preemtif (edukatif, kontra narasi, counter opini), preventif (memberi peringatan, mengendalikan isu, dll), represif (penetrasi aktif sebagai bentuk upaya untuk melakukan penangkalan penyebaran perspektif negatif & penegakan hukum), serta membuat cyber troops,” tegasnya.

Kelompok radikal jumlahnya tidak banyak, namun mereka masif, terstruktur dan sistematis dalam bergerak, 24 jam tanpa henti mereka bergerak, terutama di medsos.

“Memang, perlu langkah-langkah cepat, cerdas, terukur, terencana, terkoordinasikan dan massal guna menghadapi gerakan radikalisme dan terorisme. Bila kalangan nasionalis dan moderat diam, maka kelompok radikalisme atas nama agama akan meningkat,” tambahnya.

Paham radikalisme dan terorisme, menurut Ken Setiawan, memang tidak bisa dihilangkan, bahkan negara maju sekelas Amerika Serikat dan Selandia Baru pun kecolongan dengan kasus terorisme yang menelan banyak korban.

“Kelompok radikalisme juga memiliki banyak cara untuk menyebarkan pahamnya, termasuk melalui dunia maya dengan menyisipkan konten-konten radikal yang mampu membius orang untuk mengikutinya. Namun demikian, radikalisme dan terorisme bisa dikikis sedikit demi sedikit dengan penguatan pendidikan sejak dini, setidaknya mulai dari lingkup keluarga yang mengajarkan toleransi dan penghormatan atas kemajemukan,” tutupnya. [MR]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!