Teror Kata Berkedok “Janji Allah”

2
373

Sangkhalifah.co — Di sore hari, aku melihat sekuntum bunga terletak di atas buku. Bunga memancarkan aroma dan keharuman. Layaknya kata-kata dan logika. Seorang misionaris terkenal, Henry Martyn mengatakan bahwa untuk menaklukkan Islam perlu resep jitu; pakailah ‘kata, logika dan kasih’. Jangan sekali-kali senjata atau bedil.

Janji dalam tulisan ini, berbeda dengan tulisan Samuel M Zwemmer dalam Islam: A Challenge to Faith (1907) yang merekam strategi Martyn dalam mempengaruhi Muslim atau pengikut Muhammad. Buku ini resep tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia dari persepketif missi Kristen.

Kekuatan kata ‘janji Allah’ perlu dicatat secara serius. Perang pemikiran ini biasanya dijalankan oleh lakon dengan halus, berperangai santun, berwajah manis, menebarkan senyuman dan tentunya peduli. Cara ini lebih manjur tanpa disadari si korban. Dalam dunia misionaris, sosok Paul Wolfowitz sangat dikenal murah senyum. Maka dalam misi khilâfah, sosok santun dan murah senyum digunakan oleh penggiat dan syabab-nya. Tentunya, senyum memiliki landasan normatifnya, senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu (Hadis).

Baca: Khilafah Yang Tak Dirindukan Umat

Tebar senyum itu, dalam proses penyebaran dakwah dan misi khilâfah sebagai cara menyentuh hati dan melingkari ego. Sesuai arahan dari kitab Tuhfatul Ahwadzi disebutkan “menampakkan wajah manis dihadapan seorang Muslim akan menyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia”. Proses penyentuhan hati ini akan memudahkan doktrin khilâfah masuk. Kemudian diikat dengan “ini merupakan kewajiban agama dan janji Allah”.

Teror berkedok ‘janji Allah’ itu merupakan keberlanjutan dari kekesalan pedagang khilâfah kala para cendekiawan Turki banyak yang ter-Barat-kan (westernized), sampai Musthafa Kemal Ataturk mengambil alih dari sistem khilâfah menjadi sistem sekular. Kemal merupakan kader Committe and Union Progress (CUP). Kekesalan itu mewujud dengan kembalinya seruan khilâfah dari bumi Palestina. Keterkaitan ini berasal dari peristiwa penghancuran imperium besar (Utsmani). Dimana bagi Zionis, Turki Utsmani merupakan penghalang utama mewujudkan negara Yahudi di Palestina. Kala itu, Kristen-Eropa memandang Turki Ustamani ancaman serius. Sampai-sampai Martin Luther, pendiri Kristen Protestan menyatakan, “kekuatan anti-Kristus adalah Paus dan Turki sekaligus”.

Kita cukup menyuplik sedikit romantika sejarah masa lalu sebagai benang merahnya. Ketika Turki digulung dengan ‘kata-kata’ dan kader-kader terbaik CUP mem-Barat-kan Turki sepenuhnya, kemudian Palestina lah melalui Taqiyuddin al-Nabhani memberanikan diri bersuara soal anti-Barat, anti-Eropa dan anti-Kemal. Perpinjaman narasi bisa terlihat jelas kala kita membaca buku dan kitab Hizbut Tahrir.

Dahulu, Kemal berpendapat, “gagasan satu kekhalifahan yang menjalankan otoritas religius bagi seluruh umat Islam adalah gagasan yang diambil dari khayalan bukan dari kenyataan”. Narasi ini dibalas oleh Taqiyuddin Al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum—yang ayahandanya, Syaikh Zallum merupakan pekerja (guru), juga paman ayahandanya, Syaikh Abdul Ghafar Yunus Zallum sebagai mufti al-Khalil pada masa Daulah Al-Khilafah Utsmaniyah. Jika diibaratkan, Qadim Zallum ini merupakan anak panah di busur amir pendiri Hizb. Sampai akhirnya, ia menjadi amir (pemimpin tertinggi) Hizbut Tahrir di dunia.

Baca: Irasionalitas Negara Khilafah

Dua sejoli ini membangun narasi melalui kader-kader dan aktivis-aktivisnya, lebih kurangnya adalah “gagasan demokrasi dibangun di atas sekularisme. Dan sekularisme adalah paham yang menolak campur tangan agama dalam mengatur negara”. Demikian pemahaman penggiat khilâfah ala HTI Bima, Abu Muhammad. Padahal, semua orang tahu, demokrasi dan sekularisme serta liberalisme adalah sesuatu yang berbeda satu dengan lainnya. Dendam kesumat kelompok Hizbut Tahrir—di Indonesia menjadi HTI—di seluruh dunia terhadap bubarnya khilâfah di Turki 1924 masih terus dipelihara dan menjadi mainan global, di bawah komando amir ketiganya, Abu Rasytah.

Kelompok HTI, tidak memungkinkan mengambil langkah seperti JAD dan ISIS dalam memperjuangkan doktrin khilâfah ‘alâ minhajin nubuwwah. Pengalaman dan catatan hitam Hizbut Tahrir, mereka selalu gagal dalam penyusupan dan tindakan kekerasan melawan pemerintah. Sebab itu, maka trik teror kata “khilâfah = janji Allah” adalah cara yang membuat mereka di Indonesia meraup massa, yang menurut mereka, setiap tahunnya bertambah.

Kekuatan ‘kata’ terbukti ampuh dalam menaklukkan kekuatan Islam yang selama ini kokoh pada pendirian Pancasila dan sistem demokrasi. Arus itu masih ditambah dengan teror kata berupa “rezim anti-Islam”, “sistem kufur”, “pemimpin kafir” dan lain sebagainya. Semuanya itu memiliki filosofi dan bagian dari strategi kekinian, di era online dan offline. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!