Syekh Ali Jaber: Orang Arab Yang Menusantara

1
808

Sangkhalifah.co — Berawal dari Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff, Kudus (1 Januari 2021); KHR. Muhaimin Asnawi, PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021); KHR Abdullah Nachrowi, PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021); KHR Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir, PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021); KH. Muhammad Nuruddin Abdurrahman, PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021); Habib Abubakar bin Salim Al Hamid, Bondowoso (9 Januari 2021); KH.Zainuddin Badrus, PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021); KH. Yasin Asmuni, PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021); dan Syekh Muhammad Ali Jaber, (14 Januari 2021).

Indonesia berduka. Ya, kira-kira seperti itu keadaan yang paling pas untuk menggambarkan Indonesia hari ini selepas kepergian Syekh Ali Jaber, ulama kharismatik asal Madinah (Arab Saudi) yang menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 14 Januari 2021 di RS Yasri, Jakarta Pusat. Kepergian Syekh Ali Jaber melengkapi duka Indonesia karena menambah jajaran ulama-ulama besar dan moderat di Indonesia yang kembali rahmatullah di awal 2021.

Siapa sebenarnya Syekh Ali Jaber?  Jika melihat rekam jejak Syekh Ali sejak pertama kali masuk ke Indonesia di tahun 2008 dan resmi menjadi warga negara Indonesia di tahun 2011, mulai dikenal sejak menjadi Juri dalam acara Hafidz Quran, sampai menghembuskan nafas terakhir di tahun 2021, kita sama sekali tidak pernah menemukan hal-hal yang kontroversi dalam perjalanan dakwahnya di Indonesia baik secara langsung atau pun lewat media-media online.

Padahal, sejak kecil sampai dewasa, pendidikan yang ditempuh oleh Syekh Ali Jaber semuanya di Madinah. Dan kita tahu, bahwa mazhab resmi yang dipakai di Madinah (Arab Saudi) adalah mazhab Ahmad bin Hanbal. Atau jika ditarik lagi, Arab Saudi adalah markas Salafi-Wahabi yang sering sekali bermain di ranah bid’ah dan paham takfiri, di mana para pengikutnya ketika kembali ke Indonesia, senang sekali membid’ahkan amalan-amalan umat Islam Indonesia.

Namun, di tengah duka mendalam yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia karena wafatnya para ulama-ulama rabbani, masih ada saja sekelompok orang-orang yang tidak tahu diri. Mereka hadir dengan membuat narasi provokatif di media sosial yang memancing masyarakat supaya terpengaruh dan mempercayai statement mereka. Agar masyarakat ikut membenci almarhum Syekh Ali Jaber karena telah memperjuangkan NKRI. Misalnya, status facebook Azhari Hari yang mengatakan “Yang tinggal hanya NKRI, sayang sungguh sayang bukan NKRI yang mati, tapi yang mati si Ali Jaber! Masih ada yang teriak-teriak NKRI harga mati, semoga yang teriaknya cepat nyusul si Ali Jaber!”

Melihat narasi yang coba mereka bangung di media-media sosial, pastinya kita sudah tahu dari kelompok mana mereka berasal. Paling tidak alasan mendasar jika sedikit melacak arah dari statement yang dituliskan oleh Azhar Hari, itu menandakan bahwa dia tergabung dengan organisasi transferan dari luar Nusantara. Yaitu organisasi tempat berkumpulnya sekelompok manusia yang memiliki semangat belajar agama yang kuat, namun tidak dibarengi dengan semangat kemanusiaan dan keindonesiaan yang berbhineka. Makanya, tujuan gerakan mereka lebih senang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bungkusan agama yang mereka kata dakwah.

Ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan yang tinggi tanpa disertai pemahaman mendalam akan dimensi esoteris dari Agama inilah yang akhirnya mengarahkan sikap beragama yang fanatik, sikap keberagamaan yang sempit dan fundamentalis.

Namun, lewat Syekh Ali kita tidak menemukan hal-hal seperti itu. Sebaliknya, dia tampilkan tampilkan corak Nusantara yang berbhineka tunggal ika yang dipadukan dengan “dakwah Madinah” yang sebenarnya. Dakwah yang penuh dengan kelemahlembutan dalam bersikap, dan penuh kesantunan dalam bertutur. Sebagaimana dakwah yang diajarkan oleh pendakwah pertama, pemilik Madinah al Munawwarah, Muhammad Saw. Itulah mengapa hanya dalam kurun waktu 12 tahun sejak kedatangannya pertama kali ke Indonesia sampai dia kembali menghadap keharibaan-Nya, cara berdakwahnya dapat diterima oleh umat muslim yang berasal dari kalangan NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan terbesar dan asli Indonesia, serta menciptakan kehilangan mendalam buat masyarakat Indonesia, meskipun kehadirannya terhitung relatif sangat singkat.

Akhirnya, kepergian Syekh Ali Jaber meskipun menjadi duka untuk kita semua, namun di sisi lain bahwa fenomena keagamaan dan populisme beragama di Indonesia patut mendapatkan perhatian lebih serius. Suatu perkara yang tidak mudah memang, karena kita ketahui bersama, di Indonesia terdapat sebuah entitas yang sangat rumit dan sublime walaupun terkadang mengalami vulgarisasi oleh pemeluknya sehingga elan vital dari Islam sebagai rahmatan lil alamin mulai nampak memudar. Meskipun di sisi lain, masih banyak yang percaya bahwa Islam di Indonesia merupakan corak Islam yang berkultur toleran, damai dan rahmatan lil alamin dengan berbagai corak dan perbedaan. []

*Man Muhammad, Alumnus Al-Azhar Kairo dan Magister Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!