Syaiful Arif: Tuduhan Pancasila Sekuler Akibat Gagal Paham

2
419
Dokumentasi Sangkhalifah.co saat webinar Sabtu (13/6/2020) via zoom Yayasan Bina Bangsa Indonesia.

Sangkhalifah.co — Dalam situasi pembahasan RUU HIP dan masih dalam rangka memperingati Harlah Pancasila, tuduhan-tuduhan terhadap dasar dan ideologi negara cukup membuat geli Direktur PSPP, Syaiful Arif.

“Ia merupakan anugerah terbesar dari Tuhan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Sebab itu, sila ketuhanan menjadi pengikat dengan sila-sila lainnya membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi ketuhanan. Sedangkan sila lainnya sebagai wujud di bumi realitas. Artinya, tidak ada masalah, baik versi Bung Karno maupun versi resmi negara, semuanya berangkat dari ketauhidan dan nilainya diwujudkan di bumi realitas,” ujar Syaiful Arif usai webinar bertajuk “Menangkal Radikalisme/Terorisme dan Mengukuhkan Pancasila di Era New Normal” yang diselenggarakan oleh FKMTHI, Yayasan BBI dan Media Sangkhalifah.co.

Lebih lanjut diterangkannya, tuduhan Pancasila bahwa Sukarno ‘menaruh ketuhanan di pantat’ adalah akibat kegagalan dalam memahami dan mencerna pemikiran Bung Karno.

“Tuduhan HRS itu membuktikan dia gagal memahami dan merupakan paham yang gagal. Dengan mengusung NKRI Bersyariah, HRS pun tidak mampu merasionalisasikan dan menjabarkan konsepnya secara rasional. Alias mengambang!,” ucapnya.

Ia menambahkan, membaca sebuah ideologi itu harus saling mengandaikan dan mengunci. Ia pun menyarankan untuk membaca melalui cara berpikir piramida, baik ala Prof Notonagoro atau Bung Hatta.

“Kita harus kaya perspektif. Bung Hatta membaca secara piramidal juga tetapi dengan posisi ketuhanan di pucuk hirarki. “Di bawah terang nilai ketuhanan, sila-sila di bawahnya mendapatkan dimensi religius dan etik”, demikian ungkap karib Bung Karno ini. Dengan “piramida ketuhanan” ini, maka Pancasila adalah dasar negara, ideologi dan pandangan hidup yang religius, teologis,” paparnya.

Dengan begitu, menurut Syaiful Arif, tuduhan yang mengatakan sebagai ideologi sekuler merupakan tuduhan yang tidak berdasar.

“Logika menolak Pancasila dengan alasan harus berhukum dengan hukum Tuhan itu tidak masuk akal. Wong di dalamnya, aspek ketuhanan dan ketauhidan dinomorsatukan yang saling mengunci dan berkelindan satu dengan lainnya,” tutupnya.

Pemahaman Pancasila sebagai ideologi ketuhanan dalam diskursus keislaman mencerminkan bahwa ketauhidan, baik dalam agama maupun negara, sama-sama pentingnya. Ia harus dikembangkan untuk menangkal paham-paham yang gagal, seperti HTI dan kawan-kawannya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!