Syafiq Riza Baslamah, Dari Buta Sejarah Hingga Cacat Logika Klaim ‘Ibu Pertiwi Musyrik’

0
530

Sangkhalifah.co — Kembali muncul klaim dari pentolan Wahabi Syafiq Riza Basalamah, yang mengatakan bahwa mengucapkan Ibu Pertiwi adalah sebuah tindakan yang berdampak pada kemusyrikan atau keluar dari agama Islam. Sebab kata dia dalam video pendek yang tersebar di berbagai media sosial itu, Pertiwi artinya penguasa bumi. Sehingga meyakini Indonesia Ibu Pertiwi menurutnya sama saja meyakini ada penguasa bumi selain Allah. Wahabi selalu membuat ruwet hal-hal yang remeh, demi menarik pengikut. Sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali dibumbui dengan agama untuk meracuni orang-orang awam menjadi pengikut kelompoknya yang keras dan ekslusif dalam beragama.

Dari pernyataannya itu, sangat terlihat bahwa Syafiq Riza Basalamah benar-benar buta sejarah. Ibu Pertiwi dalam konteks Indonesia adalah sebuah personifikasi suatu negara, yaitu perwujudan suatu negara dengan manusia. Seperti misalnya Amerika, dinamakan Negara Paman Sam untuk menunjukkan sekaligus membanggakan kepribadian dan keberhasilan negaranya. Pun demikian dengan Indonesia, dinamai dengan Bumi Pertiwi, merujuk pada salah satu Dewi dam ajaran Hindu, sebagai sosok manusia yang memiliki kesaktian (Wikipedia). Selain itu, kata “Ibu”, juga dapat bermakna mengayomi, yang artinya bahwa Indonesia ialah negara yang mengayomi masyarakatnya yang beragam.

Orang-orang seperti Syafiq yang tergabung dalam jejaring wahabisme ini selalu mencocokologikan segala sesuatunya dengan agama, untuk membodohi masyarakat. Persis dengan sebuah hadits Nabi Muhammad yang mengatakan, “Jika kau ingin mengelabuhi orang-orang bodoh, maka bungkuslah semuanya dengan agama.” Dalam konteks sejarah, penamaan Ibu Pertiwi bukan untuk menunjukkan bahwa ada Tuhan selain Allah. Bukan juga untuk mengatakan ada kekuatan yang lebih besar, atau sama besarnya, dengan Allah. Ibu Pertiwi, sebatas personifikasi saja, sebagai simbol, yang tak sama sekali ada kaitan dengan agama.

Kaitannya Ibu Pertiwi dengan syirik, Syafiq juga cacat logika. Syirik dalam bahasa agama, artinya adalah sikap atau tindakan yang meyakini adanya sekutu atas Allah, dan menjadikannya sebagai penguasa selain Allah (Ibn Manzur, 1444). Sedangkan perkataan ‘Ibu Pertiwi’ bukan dimaksudkan untuk menyekutukan Allah. Kalau memang ada makna demikian, kita yakin para ulama-ulama Indonesia dahulu, seperti Mbah Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, akan menolaknya keras. Namun nyatanya tidak. Karena Ibu Pertiwi sebatas personifikasi negara Indonesia terhadap kesaktian seorang Dewi, yang diyakini memiliki kekuatan lebih di antara manusia-manusia lain.

Imam As-Syam’ani dalam Tafsir As-Sam’ani mendefinisikan syirik yaitu menggabungkan dua hal untuk satu makna. Maka yang dimaksudkan dengan syirik adalah menggabungkan Allah dengan yang lainnya, atas keyakinan bahwa ia bisa melakukan sebagaimana apa yang Allah lakukan (As-Syam’ani, 1418 H). Penamaan Ibu Pertiwi atas Indonesia bukan dimaksudkan bahwa Allah dan Ibu Pertiwi itu sejajar, sama-sama memiliki kekuasaan yang maha tinggi, atau sama-sama bisa menguasai seluruh jagat raya. Seba kekuatan Dewi, tidak seberapa dengan kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Sehingga mengatakab Indonesia sebagai Ibu Pertiwi tidak mengapa, tidak ada kaitan dengan konsekuensi musyrik atau lainnya.

Penamaan Ibu Pertiwi atas Indonesia, tidak ada bedanya dengan penamaan Negara Madinah dengan nama Nagara Thayyibah, negara yang semerbak wangi. Rasulullah, sebagaimana Hadits riwayat Ibn Ubayd, juga menakan negara Madinah sebagai ‘Habibah’ (kekasih). Ini sebagai bentuk kecintaan Nabi kepada Negara Madinah karena telah menjadi tempat hijrah terbaik, dan menjadi tempat untuk menempa persatuan dan kesatuan umat. Nabi tidak memaksudkan bahwa ada kekasih hakiki selain Allah, yaitu Madinah, akan tetapi penamaan ini sebatas personifikasi, yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sehingga jika Nabi menamai Madinah dengan Negara Kekasih, tidak mengapa kita menamakan Indonesia sebagai Ibu Pertiwi.

Pertanyaannya, apakah boleh mengagungkan suatu negara dan bangsa dalam Islam? Jawabannya boleh, bahkan wajib. Sebab, orang yang tidak memiliki negara maka ia tak akan bisa untuk beribadah. Sedangkan ibadah sendiri adalah wajib. Maka sesuatu yang menjadikan kewajiban itu bisa berjalan, juga bisa diartikan sebagai kewajiban. Nabi Muhamad sendiri sangat mengagungkan Makkah dan Madinah. Bahkan, Nabi pernah menangis karena beliau akan hijrah dari Makkah, meninggalkan Makkah. Ketika Islam membolehkan mengagungkan negara, tidak ada salahnya kita memberi nama personifikasi dengan nama yang baik dan menunjukkan kekuatan. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!