Suffah, Ajengan Choer, dan Miftahul Huda Manonjaya (4)

1
648

Sangkhalifah.co — Orang Islam tidak pernah sepi dari cita-cita politik. Mereka bikin banyak wadah. Kaum pembaharu membentuk Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), Persis (1923), dll. Kaum tradisional membentuk NU (1926), Perti (1928), Al-Washliyah (1930), dll. Selain untuk membela keyakinan agamanya, semuanya punya cita-cita politik, yaitu Indonesia merdeka. Sarekat Islam (sebelumnya SDI) adalah perkumpulan tertua, berbasis orang-orang Islam, yang punya agenda mempromosikan kepentingan Bumiputera. Untuk menyatukan langkah dan mengatasi berbagai perbedaan, mereka membentuk wadah bersama. Di zaman Belanda, wadah itu bernama Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI), dibentuk pada 1937. Ketika Jepang masuk, MIAI dibubarkan. Gantinya adalah Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), dibentuk pada 1943. Jepang mendukung Masyumi untuk mengawasi, dan bila perlu, mengooptasi pergerakan orang Islam.

Untuk mendukung cita-cita Indonesia merdeka, Masyumi menyiapkan dua sayap militer. Pertama Hizbullah, kedua Sabilillah. Di sini, para pemuda direkrut dan digembleng lahir-batin. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK) termasuk ambil bagian dalam proses ini. Dia masuk Masyumi dari unsur PSII. Bersama KH Yusuf Tauzirie, dia mendirikan Suffah PSII pada Maret 1940. Ini lembaga pengkaderan dan penggemblengan. Idenya digagas sejak Kongres PSII ke-24 tahun 1938. Bertempat di Kampung Bojong, Malangbong, Suffah membekali siswa didik dengan ilmu agama, politik, dan kemiliteran. Mereka direkrut dari berbagai daerah: Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Masa penggemblengan sekitar satu semester. SMK mengajar bahasa Belanda, astronomi, dan ilmu tauhid. Jepang mendukung mobilisasi rakyat untuk mendukung Perang Asia Timur Raya. Para pemuda menyambut gegap gempita. Mereka bergabung di barisan laskar Hizbullah dan Sabilillah. R. Oni Syahroni, kelak menjadi Panglima TII, adalah Panglima Laskar Sabilillah Jawa Barat.

Ketika Jepang menyerah pada 1945, Belanda membonceng Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia yang baru merdeka. Perjanjian Linggarjati pada 1948 memangkas wilayah kekuasaan Indonesia tinggal sepertiganya. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Konsekuensinya, daerah militer di luar wilayah itu harus dikosongkan. Mereka harus mundur ke belakang garis Van Mook. Divisi Siliwangi, sebanyak 35.000 pasukan, long march meninggalkan Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Yogyakarta. SMK, bersama R. Oni, menolak perintah pengosongan. Nasib bangunan Suffah tragis. Belanda menghancurkannya rata dengan tanah. SMK marah. Dia lari ke gunung dan gerilya. Dia menolak Perjanjian Linggarjati, menolak pembentukan negara boneka Pasundan, dan memproklamasikan Negara Islam.

Tempo di Edisi Khusus 16 Agustus 2010 melaporkan, Suffah tinggal menyisakan tanah kosong bekas reruntuhan. Puing-puingnya dijual oleh Dewi Siti Kalsum, isteri SMK, pada 1983 untuk menyekolahkan Sardjono, putra bungsunya. Ketika saya datang beberapa saat lalu, di situ telah berdiri masjid dan gedung megah. Namanya Masjid Al-Mardjan, diambil dari nama tengah SMK, Maridjan. Di depannya ada rumah Tahmid yang elegan. Di belakangnya ada rumah Alm Sardjono. Di depan masjid ada bangunan, semacam gedung serba guna. Di sebelahnya lagi ada hunian, semacam gest house, yang disewakan.

Ajengan Choer

Para Ajengan Jawa Barat sebagian besar menolak perintah pengosongan. Mereka tidak mau Pasundan jadi negara boneka Belanda. Salah satu Ajengan itu bernama KH Choer Affandi. Aslinya dari Ciamis, kampung Cigugur. Dia berkelana, berguru ke sejumlah Kiai di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Uwa Ajengan, panggilannya, pernah nyantri ke Pesantren Sukamanah yang diasuh KH. Zaenal Musthofa, tokoh NU dari Tasikmalaya. Beliau juga belajar di Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, pimpinan KH. Ahmad Sanusi. Ilmu tasawuf-nya dipelajari dari KH Didi Abdul Majid dari Pesantren Wanasuka, Ciamis.

Jiwa mudanya menggelegak ketika mendengar gurunya, KH. Zaenal Musthofa, dieksekusi Jepang menyusul insiden Pemberontakan Singaparna pada 25 Februari 1944. Jiwa anti-kolonialnya terbentuk. Dia lalu bergabung ke laskar Sabilillah dan pergi ke Suffah. Di sana dia bertemu dengan KH. Yusuf Tauzirie, SMK, dan R. Oni.

Ketika Belanda mengultimatum perintah pengosongan, itu berarti Jawa Barat kosong dari kepemimpinan. SMK memanfaatkannya untuk memproklamasikan NII. Para Ajengan setuju, termasuk Ajengan Choer. Dia lalu ikut bergabung dengan TII, yang dipimpin R. Oni, untuk naik gunung dan gerilya. Konon, ini dilakukan seizin gurunya, Habib Ali Kwitang. Niatnya adalah menolak negara boneka Pasundan. Jabatannya tinggi: Bupati Priangan. Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949 menyerahkan kembali sebagian besar pulau Jawa ke pangkuan Republik. DI/TII diminta balik kandang dan melebur ke Tentara Rakyat Indonesia (TRI). SMK menolak karena sudah (kadung) memproklamasikan NII.

Setelah kalah dalam operasi Pagar Betis (Pasukan Gabungan Rakyat Berantas Tentara Islam) pada 1962, Uwa Ajengan Choer turun gunung. Dia lalu mendirikan pesantren di Cisitukaler, lalu pindah ke Manonjaya, Tasikmalaya. Nama pesantrennya Miftahul Huda. Ini salah satu pesantren terbesar, dengan jaringan alumni terkuat di Jawa Barat. Uu Ruzhanul Ulum, cucu Ajengan Choer, memenangi kontestasi Pilgub Jabar berkat HAMIDA (Himpunan Alumni Miftahul Huda). Ajengan Choer ikut mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI). Di wadah ini, beliau bertemu tokoh Islam lintas ormas seperti M Natsir (Jakarta), KH. Sholeh Iskandar (Bogor), KH. Noer Ali (Bekasi), KH. Abdullah Syafi’i (Jakarta), KH. Abdullah Bin Nuh (Bogor), KH. Dr. EZ. Muttaqien (Bandung), KH. Abdul Halim (Cianjur), KH. Hasan Natsir (Jakarta), dan KH. Tb.Hasan Basri (Bogor). Beliau pernah berujar, yang sumbernya saya kutip dari cucu mantunya, Kang Dodo Aliyul Murtadlo, begini: ‘Untuk urusan akidah, belajarlah ke NU. Soal manajemen, belajarlah ke Muhammadiyah. Untuk ruhul jihad, belajarlah ke Persis.”

Tapi seluruh putra-putrinya dipondokkan ke Lirboyo, Jombang, dan Wonokromo. Di ujung hayatnya, kata Kang Dodo, beliau berwasiat ke alumni, ‘Ikutlah Sawadul A’dzam.’ Maksudnya ormas Islam terbesar, yaitu NU. Karena itu, generasi putra dan cucunya banyak yang bergabung di NU. Kiai Abdul Aziz, Putra Ajengan Choer, mertua Kang Dodo, adalah A’wan di PBNU dan Dewan Syura PKB Tasikmalaya. Cucu-cucunya ikut di Ansor.

Masalahnya, karena Uwa Ajengan pernah menjadi petinggi DI/TII, banyak yang berupaya menyambung sanad perjuangan NII melalui Miftahul Huda. Dan, di pondok ini ada keponakan Ajengan Choer, yang diangkat sebagai anak. Namanya KH. Abdul Fatah. Dulu dia diajak naik ke gunung dan angkat senjata. Dia tahu persis NII dan masih hafal mars-nya. Usianya kini 8oan tahun dan sakit-sakitan. Beliau dihormati sebagai sesepuh pondok. Orang-orang yang ingin sambung sanad NII melalui Miftahul Huda, maskotnya adalah Kiai Fatah. Ini terkonfirmasi oleh pernyataan Ujang Syarif, putra Ajengan Masduki. Dia menyebut, kiblat NII terbesar adalah Miftahul Huda, Manonjaya. Padahal, Ajengan Choer telah menegaskan sikapnya untuk tidak ikut politik. Konsentrasi utamanya adalah pendidikan. Beberapa kali dia didatangi eks petinggi NII, seperti Danu Muhammad Hasan dan Putranya, Hilmi Aminuddin, untuk kembali lagi ke perjuangan. Tapi dia menolak. Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir juga datang. Tapi dia bergeming. Ajengan Choer menyatakan setia kepada NKRI.

Kang Dodo mengakui ada alumni Miftahul Huda yang pandangannya ‘kanan’. Mereka anti-NU, ikut gerakan 212, atau simpati dengan kelompok-kelompok radikal. Pandangan-pandangannya, minimal, mewakili cara pandang Masyumi, meskipun amaliahnya NU. Biasanya mereka berasal dari filial Miftahul Huda yang didirikan alumni.

Alhasil, pesantren dan Ajengan Jawa Barat punya kekhasan tertentu dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kecuali yang secara tegas bergabung dengan NU, romansa Ajengan Jawa Barat adalah Masyumi. Tradisi PSII-nya kuat. Persis-nya juga.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Kang Dodo Aliyul Murtadlo, ajengan muda Miftahu Huda yang open-minded, dan menunjukkan kepada saya beberapa informasi penting. [Bersambung]

*M Kholid Syeirazi, Sekretaris Umum PP ISNU

1 comment

  1. Sel-Sel Negara Islam Indonesia (3) - sangkhalifah 22 November, 2021 at 08:01 Balas

    […] Kriteria pertama Indonesia masuk, dulu maupun sekarang. Kriteria kedua tidak pernah terjadi di Indonesia. Kriteria ketiga pernah dialami Indonesia masa kolonial. Artinya, Indonesia masuk dua dari tiga kriteria. Karena itu, Indonesia sudah Darul Islam dan tidak perlu lagi mengusahakan Darul Islam ala NII. Kang Syarif nampak senang dengan jawaban saya. Baru setelah itu beliau memanggil saya Ustadz (hahahaha). Beliau bilang, ‘Saya baru dapat perspektif ini dari Antum. Terima kasih.’ Obrolan usai. Saya hadiahkan buku saya, jabat tangan, dan berjanji kita masih akan saling berhubungan. [Bersambung] […]

Leave a reply

error: Content is protected !!