Suci Hati dan Suci Nalar, Bekal Perdamaian yang Tak Dimiliki Kelompok Radikal

1
374

Sangkhalifah.co — Umat Islam baru saja memeringati Isra’ Mi’raj pada Kamis 11 Maret 2021. Isra’ Mi’raj adalah momen penting dan bermakna luar biasa bagi umat Islam. Tak berhenti pada ketakjuban pada mukjizat Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, namun juga bagaimana kita umat Islam mampu meresapi pesan-pesan berharga di dalamnya untuk membangun kehidupan atau peradaban.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan agung Nabi Muhammad Saw yang kemudian berbuah perintah salat wajib lima waktu, yang kini menjadi rukun Islam dan dijalankan umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, di dalam tahapan-tahapan perjalanan Isra’ Mi’raj juga mengandung pesan berharga tentang pentingnya kesucian, baik suci hati maupun suci nalar.

Pesan tentang pentingnya kesucian hati tergambar dari pembedahan dada Nabi Muhammad Saw sebelum perjalanan Isra Miraj. Di dalam sebuah hadis, Nabi bersabda “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air Zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan iman dan hikmah..” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi). Ini menjadi bentuk persiapan yang harus dilakukan sebelum perjalanan Isra Miraj.

Itu artinya, sebelum naik menjadi manusia mulia, orang harus terlebih dahulu membersihkan dan menyucikan hati. Hati adalah cerminan baik buruknya seseorang, pancaran kondisi spiritual dan jiwa. Dengan hati bersih, suci, bebas dari kebencian, dendam, iri, amarah, dan berbagai penyakit hati lainnya, orang akan menjadi mulia dan bisa menjalankan tugasnya di bumi untuk menebarkan kebaikan dan manfaat bagi kehidupan.

Pesan pentingnya kesucian hati adalah tamparan keras bagi kelompok radikal-ekstremisme agama yang kerap menunjukkan sikap beragama penuh kebencian, amarah, dan dendam. Bahkan, mereka tidak jarang melakukan kekerasan. Keinginan menakhlukkan dengan melukai sesama adalah cerminan hati yang penuh kebenciaan, dendam, dan amarah. Tak mungkin sebuah peradaban damai terbangun jika dilandasi kebencian, amarah, dan dendam tersebut.

Kemudian, pesan tentang pentingnya kesucian nalar terpancar dari kesediaan hati Rasulullah Saw menerima nasihat dan masukan dari Nabi terdahulu terkait jumlah waktu salat sehari semalam yang diberikan Allah Saw kepada umat Muhammad Saw.

Mengutip keterangan di NU Online (21/7/2008), berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari, saat peristiwa Isra Miraj, ketika Nabi sudah berada di Baitul Makmur, Allah Swt memerintahkannya beserta umatnya untuk salat lima puluh kali sehari semalam. Namun, saat kembali turun dan bertemu Nabi Musa, Nabi Muhammad Saw mendapatkan saran untuk minta keringanan. “Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu,” kata Nabi Musa.

Nabi Muhammad pun kembali menghadap Sang Rabb dan meminta keringanan, sehingga dikabulkan hanya menjadi salat sepuluh waktu sehari semalam. Namun, saat kembali bertemu Nabi Musa, Nabi Muhammad masih mendapatkan saran agar minta keringanan lagi. Rupanya Nabi Musa masih tak yakin umat Muhammad mampu menjalankan salat sepuluh waktu tersebut. Nabi Muhammad pun kembali menghadap Sang Rabb dan akhirnya mendapatkan keringanan lagi hanya menjadi salat lima waktu sehari semalam.

Sebenarnya, Nabi Musa masih memberi nasihat agar Nabi Muhammad meminta keringanan lagi. Akan tetapi Nabi Muhammad sudah pasrah karena malu jika minta keringanan lagi. “Aku sudah meminta keringanan kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah,” kata Nabi Muhammad Saw. Maka shalat wajib sehari semalam bagi umat Islam diwajibkan sebanyak lima waktu.

Jika kita renungi, kesediaan Nabi Muhammad menerima masukan dari Nabi Musa adalah cerminan dari kesucian nalar yang berbentuk kebesaran hati menerima masukan atau pendapat orang lain yang lebih berpengalaman. Nabi Musa adalah Nabi terdahulu yang memiliki pengalaman membina umat sebelumnya, sehingga pendapatnya soal jumlah waktu sholat yang akan memberatkan umat Nabi Muhammad memang perlu dipertimbangkan. Dan hal tersebut terbukti sekarang, di mana masih banyak di antara kita yang masih belum istiqamah menjalankan salat lima waktu sehari semalam.

Kesediaan Nabi Muhammad mendengarkan nasihat Nabi Musa adalah cermin kesucian nalar, tentang pentingnya belajar dari pengalaman, menerima masukan dan pendapat orang lain. Kesucian nalar tersebut sulit didapatkan di dalam benak kelompok radikal-terorisme yang kerap melakukan aksi-aksi kejam yang bertentangan dengan nalar sehat. Aksi-aksi kekerasan dan pembunuhan yang mereka lakukan jelas mencederai nalar sehat kemanusiaan, bahkan bertolak belakang dengan semangat kasih sayang pada sesama, penghormatan pada perbedaan, dan menjunjung tinggi perdamaian yang menjadi substansi agama.

Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad Saw. memancarkan pesan berharga tentang pentingya kesucian hati dan nalar. Kesucian hati adalah bekal menjadi manusia mulia, yang memancarkan kebaikan dan manfaat pada sesama. Sedangkan kesucian nalar membuat manusia menjadi bernalar sehat, bekal hidup harmonis saling menyayangi, peduli, dan menghargai orang lain. Keduanya pada dasarnya adalah bahan baku utama yang penting ada dalam diri setiap orang, untuk bisa membangun peradaban damai. [Al Mahfud]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!