Stigma Perang dan Etika Berjihad

0
119

Era modernisasi yang memberikan kemudahan bagi manusia modern tidak serta merta menghilangkan pemaknaan dan praktik jihad secara fisik. Umat Islam masih tetap kokoh untuk meyakini dan mempraktikkan jihad dalam kehidupannya. Bahkan, sebagian umat Islam menjadikan jihad sebagai perjuangan untuk melawan siapa pun yang menurut pribadinya belum menerapkan syariat Islam, baik dalam ibadah maupun dalam bernegara.

Jihad sendiri merupakan ajaran agama yang sangat penting, baik dalam bentuk pengamatan, pengembangan, maupun pelestarian ajaran agama. Pada mulanya, jihad dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya saat mereka dihalangi dalam beribadah atau diperangi terlebih dahulu. Sehingga menurut Quraish Shihab, Nabi dan sahabatnya tidak pernah memulai peperangan terlebih dahulu terhadap orang-orang kafir tanpa sebab apapun.

Terkait makna jihad, ulama menyatakan bahwa jihad tidak harus dimaknai peperangan melawan orang kafir. Makna jihad yang selalu dikonotasikan peperangan akan menjadikan pandangan seseorang menjadi sempit, sehingga dalam urusan jihad umat Islam selalu berfikiran dengan perang dan mengangkat senjata. Jihad makna demikian sulit ditemukan dalam konteks Indonesia. Sehingga seringkali melegitimasi aksi-aksi terorisme sebagai ajaran jihad.

Baca: Jihad: Menghilangkan Kemungkaran

Di dalam Al-Qur’an, ada beberapa kata yang memiliki makna yang mendekati sama dengan jihad. Pertama yaitu qital. Said Ibn Ali memaknai qital yaitu peperangan melawan musuh dimana musuh atau orang kafir hendak mencelakakan umat Islam yang berada di dalam negeri orang kafir tersebut. Pada posisi ini umat Islam diharuskan menyiapkan diri dan pasukan untuk melangsungkan qital. Dalam arti, jika musuh atau orang kafir tidak memerangi umat Islam, maka Islam melarang umatnya untuk melakukan qital.

Selain qital juga terdapat kata ghazwah. Dalam Islam, ghazwah dengan arti berperang di daerah musuh Islam dan peperangan itu bersama Nabi Muhammad. Hukum ghazwah adalah fardu kifayah dan bisa juga menjadi fardu ‘ain jika dalam situasi dimana Nabi sudah berhadapan dengan musuh dan musuh sudah akan menyerang. Dalam konteks seperti ini, ghazwah agaknya sulit untuk diterapkan dimasa sekarang, karena sudah tidak akan pernah ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Kata yang mirip dengan makna jihad selanjutnya adalah harb. Harb sendiri bermakna perang bukan dalam bentuk militeristik dalam melawan orang-orang kafir, melainkan bermakna riba. Sebagaimana dicatat dalam QS. Al-Baqarah [2] 278-279 yang seakan dimaknai mengumumkan perang melawan Allah. Mufassir Al-Qurtubi memaksudkan bahwa harb berarti sama dengan riba dalam sisi hukumnya. Riba jelas-jelas diharamkan oleh agama, maka harb pun demikian dilarang oleh agama.

Baca: Penafsiran Ahistoris: Antara Qutb dan HTI

Terma lainnya yang mendekati makna jihad, adalah kata yusfik al-Dima (menumpahkan darah). Meski terma ini agak jarang digunakan sebagai legitimasi jihad, namun terkadang ada yang menjadikannya sebagai pemaknaan jihad melawan orang non-Muslim. Di dalam Al-Qur’an pembicaraan terkait terma ini dikaitkan pada QS. Al-Baqarah [2] 30 ketika manusia hendak diciptakan di muka bumi sebagai khalifah. Akan tetapi para mufasir memaknai kata ini sebagai pembunuhan secara masal tanpa sebab apapun. Sehingga, yusfik al-dima merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam dalam kondisi dan situasi apapun.

Penjelasan makna-makna jihad dan terma yang seirama di atas membuktikan bahwa perang melawan orang kafir atau jihad tidak dibenarkan oleh Islam kecuali orang kafir memulai perang terlebih dahulu. Ini ditegaskan oleh KH. Said Aqil Siraj bahwa jihad pada dasarnya dijalankan atas dasar kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu merupakan bentuk syariat Islam.

Ali Jum’ah, seorang ulama terkemuka Al-Azhar Mesir, memberikan enam syarat atau etika agar peperangan tidak menjurus pada kekerasan dan terorisme, yaitu: pertama, cara dan tujuan perjuangan harus jelas dan mulia; kedua, peperangan (al-Qital­) hanya dibenarkan untuk angkatan perang, bukan penduduk sipil yang tak berdosa; ketiga, peperangan (al-Qital­) harus dihentikan bila musuh sudah menyerah atau angkat tangan; keempat, melindungi tawan­an perang dan memperlakukannya secara manusiawi; kelima, memelihara lingkungan, tidak membunuh binatang tanpa alasan, tidak membakar pohon dan merusak tanaman, mencemari air, dan merusak rumah atau bangunan; dan keenam, menjaga hak dan kebebasan beragama para agamawan dan pendeta dengan tidak mence­derai mereka.

Baca: Khilafah: Warisan Nabi?

Karena jihad merupakan salah satu bentuk syariat Islam yang tujuan utamanya adalah memberikan kemaslahatan bagi manusia, Muhammad Chirzin pun menegaskan bahwa jihad harus diinterpretasikan dan dikontekstualisasikan agar tetap bisa menjadi solusi atas berbagai masalah yang dihadapi umat manusia sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban manusia. Menurutnya, umat Islam saat ini bukan menghadapi problem 14 abad yang lalu, akan tetapi menghadapi persoalan modern. Sehingga, agenda jihad pada saat ini adalah melanjutkan reformasi dan revolusi dalam bidang pertahanan, ekonomi, politik dan hal lain yang manfaat bagi bangsa.

Maka dari itu, makna jihad―atau terma-terma yang semakna―tidak harus dipahami sebagai peperangan atau mengangkat senjata melawan orang kafir. Jika pun akan dimaknai demikian, harus memenuhi syarat, yaitu adanya peperangan yang dimulai oleh orang kafir kepada umat Islam. Jika tidak, maka Islam melarang orang Islam untuk berperang. Islam juga memiliki agenda jihad kontekstual bagi umat Islam di era modernisasi, yaitu bersungguh-sungguh dan mengerahkan kekuatan untuk menguatkan bidang-bidang strategis demi kemajuan dan kemaslahatan umat manusia. []

Leave a reply

error: Content is protected !!