SKB 3 Menteri: Mewujudkan Sekolah Ramah Perbedaan

0
123

Sangkhalifah.co — Pemerintah telah menetapkan aturan terkait seragam sekolah beratribut agama. Aturan tersebut tertuang dalam SKB Menteri yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Aturan tersebut terbit sebagai respon atas kasus pemaksaan berhijab di sebuah sekolah SMK di Padang beberapa waktu lalu.

Beberapa poin yang ditetapkan SKB 3 Menteri tersebut di antaranya: peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah negeri berhak memilih antara: seragam dan atribut tanpa kekhususan agama. Pemda dan sekolah juga tidak boleh mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

Kemudian, pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 hari kerja sejak keputusan bersama tersebut ditetapkan.

Kita berharap, SKB 3 Menteri tersebut menjadi langkah awal yang baik untuk mendukung terciptanya kehidupan sekolah yang ramah perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi sebagai ejawantah prinsip Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam arti, diharapkan tidak ada lagi ditemukan kasus-kasus pemaksaan seragam dan atribut dengan kekhususan agama tertentu di sekolah negeri.

SKB 3 Menteri juga menjadi upaya membangun fondasi terwujudnya toleransi di tengah perbedaan. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa SKB 3 Menteri merupakan upaya mencari titik persamaan dari berbagai perbedaan di masyarakat. SKB 3 Menteri bukan memaksakan agar sama, tetapi masing-masing umat beragama memahami ajaran agama secara substantif, bukan hanya simbolik.

Apakah SKB 3 Menteri sudah cukup atau akan menjamin terwujudnya kehidupan sekolah yang toleran dan ramah perbedaan? Tentu saja belum cukup. Sebab itu merupakan fondasi secara hukum atau konstitusional untuk menjamin terwujudnya sekolah ramah perbedaan yang menjunjung tinggi dan melindungi kebhinekaan.

Selain dilandasi hukum, tentu kerja-kerja untuk membangun dan mewujudkan kehidupan sekolah yang toleran dan ramah perbedaan harus terus dilakukan dan dibiasakan agar menjadi budaya di sekolah atau dunia pendidikan kita. Menjamin terwujudnya kehidupan sekolah yang ramah perbedaan memang tak cukup hanya memperhatikan soal seragam dan atribut sekolah. Tapi itu memang harus diatur agar ada fondasi secara hukum.

Penanaman nilai

Lebih dari itu, mewujudkan kehidupan sekolah yang toleran dan ramah perbedaan yang paling utama tentu adalah tentang bagaimana pendidikan atau penanaman nilai-nilai toleransi atau penghormatan pada perbedaan di kalangan seluruh warga sekolah. Baik itu anak didik, guru, dan semua pihak di lingkungan sekolah.

Di sinilah pentingnya sebuah desain sekolah toleran dan ramah perbedaan. Desain ini tentu mencakup banyak komponen dan elemen. Mencakup mulai dari penanaman akan nilai-nilai toleransi tersebut, kemudian bagaimana ejawantah, implementasi, dan aplikasinya dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah.

Sekolah, atau dalam hal ini kepala sekolah dan para guru, mesti berupaya membangun budaya toleransi di lingkungan sekolah. Pertama, guru mesti menunjukkan keteladanan tentang toleransi kepada murid. Sebab sulit mengharap murid toleran jika gurunya sendiri menunjukkan kecenderungan intoleran. Alih-alih, guru intoleran malah akan menularkan virus intoleran kepada murid-muridnya.

Maka, kasus-kasus seperti guru melakukan intervensi ke murid untuk memilih ketua OSIS dari agama tertentu beberapa waktu lalu, penting untuk menjadi catatan dan evaluasi. Sekolah harus diisi tenaga pengajar yang benar-benar sadar dan paham betul bagaimana mesti bersikap dan bertindak yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebhinekaan dan toleransi.

Kemudian, jika semua guru di lingkungan sekolah sudah memiliki kesadaran dan jiwa toleran tersebut, langkah selanjutnya adalah menyebarkan nilai-nilai dan spirit toleransi tersebut kepada murid dan seluruh warga sekolah lewat pembelajaran, interaksi, hingga berbagai peraturan dan tata tertib sekolah. Dari sana, diharapkan nilai-nilai toleransi akan tumbuh dan berkembang di kalangan siswa.

Jika setiap individu siswa memiliki spirit toleransi kepada sesama, maka pada saat itulah tercipta kehidupan sekolah toleran dan ramah perbedaan. Ketika terjadi interaksi yang ramah, damai, bersahabat, saling menyayangi dan menghargai di antara keragaman dan perbedaan warga sekolah, pada saat itulah nilai toleransi benar-benar terejawantah dalam kehidupan sosial sekolah.

Jadi, toleransi tidak sekadar berhenti soal simbolik tentang seragam dan atribut sekolah. Toleransi harus benar-benar meresap dalam sanubari dan jiwa guru, anak didik, dan seluruh warga sekolah, kemudian terpancar dari setiap sikap, laku, dan tindakan dalam berinteraksi dengan sesama. Dengan begitu, nilai-nilai toleransi benar-benar dijiwai secara substantif, sebagai nilai-nilai utama untuk membangun sekolah yang toleran dan ramah perbedaan.

Pada gilirannya nanti, ‘sekolah ramah perbedaan’ akan menciptakan lulusan-lulusan insan toleran yang akan berdampak positif bagi terwujudnya kehidupan yang damai di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Termasuk berkontribusi bagi terciptanya kehidupan bangsa yang harmonis, aman, dan damai. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!