Sisi Radikalisme Klaim Wisata ke Borobudur Haram Sofyan Chalid

0
196

Sangkhalifah.co — Pemikiran radikal masih menjerat banyak orang yang enggan mau belajar agama secara benar dan sesuai syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sikap intoleransi ini menjangkit banyak golongan, yang menyebabkan perilakunya kasar dalam beragama. Sedikit-sedikit menuduh kafir. Sebentar-sebentar mengklaim haram. Seolah, sudah paling pintar dalam beragama. Adalah Sofyan Chalid, videonya viral dengan mengklaim wisata ke Borobudur hukumnya haram. Karena dianggap menyetujui kemungkaran, hanya karena candi tersebut merupakan tempat ibadahnya orang Buddha.

Menanggapi hal itu, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menyayangkan. Padahal menurutnya, berkunjung ke Borobudur bukan untuk beribadah, tujuannya untuk hiburan, melihat keagungan Allah SWT. Ungkapan Kamaruddin dilansir oleh Pikiran Rakyat (15/9). Wisata ke Borobudur, bagi Kamaruddin, selagi tujuannya bukan untuk melakukan kemaksiatan, atau mencampuradukkan agama Islam dengan agama lain, maka tidak ada yang salah. Menganggap sebagai tindakan haram adalah perilaku yang tidak moderat. Tidak moderat, dalam arti lain pemikiran yang radikal. Serampangan dalam memahami agama.

Klaim Sofyan Chalid menganggap wisata ke Borobudur haram adalah tindakan yang radikal, setidaknya, jika mengutip pandangan Imam Al-Qardhawi, dapat dicirikan dari beberapa hal. Pertama, mengklaim sebagai kebenaran tunggal. Sofyan, dalam videonya yang beredar itu, mengklaim bahwa keharaman berwisata ke Borobudur sesuai dengan QS. An-Nisa ayat 140. Tidak dibenarkan orang Islam berkunjung ke candi itu, karena dipastikan membiarkan kemungkaran. Padahal, menurut ulama Syafi’iyah, wisata hukumnya adalah mubah, selama tidak ada yang menjerumuskan kepada keharaman. Pun demikian dengan semua orang Islam yang berkunjung ke candi tersebut, niatnya untuk refreshing, bukan beribadah di candi.

Ciri kedua, aspek radikalnya adalah ada pada aspek penampilan dalam beribadah. Sebagaimana ia mengklaim bahwa, karena fisik candi Borobudur adalah tempat ibadah orang Buddha, maka orang Islam haram mendekatinya. Mendekatinya, sama dengan meyakini dan membiarkan terjadinya kemungkaran. Padahal, apa yang kita lakukan adalah tergantung pada niatnya. Demikian masyhurnya hadits. Rasulullah, saat awal mula berdakwah, juga berkunjung ke Ka’bah, di mana di sana didapati banyak Patung yang disembah kaum Kafir. Apakah Rasulullah mau dianggap kafir hanya karena berkunjung ke Ka’bah yang secara fisik didapati patung sesembahan kaum kafir?

Ciri ketiga, menggunakan kekerasan. Sofyan hemat kami, keras dalam beragama. Ia tidak melihat bagaimana para Walisongo menyebarkan agama Islam, dengan mengharmoniskan antara nilai-nilai agama dan budaya. Mereka, meski merupakan ulama masyhur, namun tak pernah sekalipun menganggap budaya yang berkembang di masyarakat sebagai kemusyrikan. Sofyan justru menggunakan kekerasan verbal, dengan mengatakan haram berkunjung ke Borobudur. Dan ciri keempat, mudah mengkafirkan dan menyalahkan. Seperti apa yang Sofyan katakan, haram bagi orang Islam berkunjung ke candi di Jawa Tengah itu. Sofyan begitu mudahnya mengeluarkan tuduhan kafir.

Ciri berikutnya, memiliki sikap dan pemahaman yang tertutup. Pemahamannya hanya untuk kepentingan kelompoknya sendiri, sementara meremehkan pandangan dan pendapat yang lain. Biasanya, kata Al-Qardhawi, orang-orang radikal ini juga enggan mau berkawan dengan orang yang tidak satu frekuensi. Pertemuannya sebatas dengan orang-orang yang satu pemikiran, sama-sama radikal, mudah mengkafirkan, dan tertutup dalam beragam. Beginilah adanya, pandangan Sofyan mengklaim wisata ke Borobudur haram tidak mempertimbangkan kepentingan orang lain yang lebih besar. Padahal, banyak juga pandangan-pandangan lain selain keyakinannya itu. Sehingga harusnya, tak mudah mengklaim haram hanya karena ia hanya tahu satu hukum itu saja.

Ciri berikutnya, radikal pada pemikirannya adalah a-politik. Ia tidak mau mendengarkan kebijakan pemerintah. Padahal, jelas-jelas Candi Borobudur adalah salah satu destinasi wisata yang dibanggakan oleh dunia dan disahkan sebagai wisata yang boleh dikunjungi oleh masyarakat, termasuk muslim. Pemerintah menganggapnya sebagai kekayaan budaya, yang harus dijaga, dengan tetap setiap orang beragama dengan keyakinannya masing-masing. Klaim wisata ke Borobudur sebagai tindakan haram adalah tuduhan yang tak mendasar, tidak dibarengi dengan akal sehat, dan murni karena pemikiran radikal. Wisata ke Borobudur bukan haram, ia destinasi yang merupakan ciptaan Allah yang boleh direnungi keindahannya oleh orang Islam. []

Leave a reply

error: Content is protected !!