Sikap Rasulullah dan Sahabatnya Terhadap Pluralitas Beragama

0
87

Sangkhalifah.co — Sementara orang masih memaksakan kehendak dan keyakinannya dalam masalah memilih agama tertentu. Sehingga berujung memutlakan agama pilihannya disertai dengan menyalahkan agama pilihan orang lain. Sikap dan tindakan seperti ini bertentangan dengan fakta sejarah umat Islam yang sarat akan sikap toleransi. Selain juga bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Indonesia yang bukan saja negeri multi-kultural, tetapi juga multi-agama. Indonesia sejak dahulu sudah mengenal agama-agama resmi yang beragam, yaitu Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik.

Kita mengakui bahwa di dalam teks-teks Al-Qur’an maupun hadis terdapat teks-teks yang memiliki karakter keras. Seperti misalnya QS. At-Tahrim Ayat 9, “Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka…” Namun hemat penulis, ayat di atas perlu dipahami konteksnya. Karena konteksnya adalah dalam kondisi perang, di tengah-tengah medan perang, bukan dalam kondisi damai.

Pemahaman yang menjurus kepada makna kekerasan dalam konteks apapun, jelas tidak menempatkan posisinya secara benar. Sebagimana dilakukan oleh kelompok radikal dan teror, yang menjadikannya sebagai legitimasi melakukan kekerasan. Melakukan bom bunuh diri dengan menunggangi teks-teks suci dan sunah nabi. Kesalahan mereka adalah menggunakan ayat-ayat peperangan untuk kondisi damai, mereka mengacaukan ajaran agama Islam. Jika dalam kondisi damai seperti sekarang, maka tidak tepat memutuskan makna dahulu untuk konteks masa kini.

Dalam kenyataannya, pun sikap nabi tidak mengafirmasi maksud ayat maupun hadis di atas dalam kondisi damai. Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menyebutkan Nabi tidak memerangi orang non-Muslim di dalam kondisi damai. Justru, rumah Nabi sangat terbuka untuk non-Muslim. Bahkan salah satu mertua Nabi Muhammad yaitu Huyay bin Ahtab merupakan seorang Yahudi dari Bani Quraidah, dan Nabi sangat mencintainya. Mereka yang datang kadang satu orang dan kadang berkelompok.

Nabi juga pernah bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad (yang terikat janji) maka ia tidak akan masuk surga. Dan aroma surga itu dapat dicium dalam jarak 40 tahun”.  Maka perlu ditegaskan bahwa ayat Al-Qur’an dan Hadis yang berkarakter peperangan hanya digunakan Nabi dalam kondisi peperangan. Begitu pun ayat-ayat damai, harus diposisikan dalam kondisi damai. Membalikan ayat-ayat perang untuk situasi yang damai sama seperti memutar balikkan dan mengacaukan ajaran Islam. Sebab sejatinya, pemahaman atas agama yang benar akan melahirkan inklusivitas di dalam beragama, bukan sebaliknya.

Selain Nabi, sikap dan tindakan terhadap pluralisme juga banyak diteladani oleh para sahabatnya. Ketika sahabat Umar menaklukkan Yerussalem, ia bertemu dengan Uskup agung untuk membuat kesepakatan bersama yang antara lain berisi tentang perlindungan terhadap warga pemeluk agama Kristen. Dalam kesempatan yang lain, saat umat Islam melakukan ekspansi ke India pada 711 M, tidak ada pemaksaan atas agama Hindu maupun Buddha untuk memeluk agama Islam atau agama-agama lainnya.

Sikap toleransi dan menghargai pluralitas sudah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dalam segala aspeknya. Nabi dan para sahabatnya di Madinah sudah menunjukkan sikap toleran dan penghargaan yang setinggi-tingginya pada pluralitas beragama. Sikap dan tindakan nabi terhadap pluralisme beragama seperti ini yang membuat agama terus berkembang pesat seantero dunia. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!