Serangkaian Teror dan Kudeta Hizbut Tahrir

2
622

Sangkhalifah.co — Hizbut Tahrir yang kerap menyuarakan sebagai kelompok yang berjuang untuk agama dan menegakkan ajaran Islam, tidak sepenuhnya benar. Hizbut Tahrir pun dikenal membungkus narasi-narasi mereka dengan simbol-simbol agama. Sebagai perkumpulan para politisi yang mempolitisasi agama, kelompok ini sudah berkali-kali aktivis dan tokohnya terlibat dalam aksi-aksi kudeta dan terlibat dalam serangkaian aksi teror dan kekerasan. Buku Sejarah Berdarah Hizbut Tahrir karya Ahmad Ali Adhim ini membuka tabir yang sebenarnya; apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir selama ini.

Di saat negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam seperti di Indonesia sudah menerima nation-state, jutsru Hizbut Tahrir mau kembali menjadikan Indonesia sebagai Negara Khilafah. “Kita tahu bahwa Hizbut Tahrir adalah gerakan politik Islam modern yang memiliki paradigma integralistik dalam memandang hubungan agama dan politik”. Gerakan politik yang dicetuskan Taqiyuddin Al-Nabhani ini ditolak di berbagai negara karena gerakan politiknya akan meniadakan ragam eksistensi yang telah terbangun rapi.

Jika hanya mengandalkan model suksesi peralihan kekuasaan seperti biasanya, tentunya Negara Khilafah sebagai tawaran alternatif tidak akan mendapatkan respon yang banyak dari masyarakat dan yang terlibat memperjuangkan akan sedikit, seperti di Indonesia. Hanya saja, dalam konteks Indonesia, suaranya bising dan melebihi kapasitas kelompok oposisi sejatinya. Oposisi yang baik adalah tidak sekedar mengkritik, tapi memberikan solusi agar demokrasi berjalan dengan baik. Tapi HTI, sama sekali tidak menyimpan kebenaran pada pemerintah dan organisasi Islam lainnya, khususnya yang made in Indonesia.

Maka satu-satunya cara yang mereka pakai adalah kudeta. Upaya pengambil-alihan kekuasaan yang sah dan upaya kudeta sudah terjadi berkali-kali di negara-negara selain Indonesia. Seperti, “di Yordania pada tahun 1969, Mesir 1973, dan serentak di Irak, Sudan, Tunisia, Aljazair pada tahun 1973, namun semuanya gagal”. Ketika menyadari, cara ini pun gagal. Maka HT/HTI kembali mencoba strategi lama berupa “melontarkan wacana dan membina masyarakat melalui dakwah. Dalam dakwah ini, seseorang yang terlibat akan diajarkan cara menerapkan “perang pemikiran” (ghazw al-Fikr). Salah satu yang dilakukan nanti dalam tata laksananya adalah menyerang orang lain dengan narasi menyalahkan, mengajak untuk terbebas dari kepengaruhan ide-ide Barat dan menjelaskan sistem Negara Khilafah.

Masyarakat yang membaca narasi mereka—jika tidak memiliki bekal yang kuat—akan terhipnotis. Masyarakat terpukau oleh bungkus tanpa melihat gerakan politik yang disembunyikan mereka. Ibarat partai politik, HT/HTI tentunya ada devisi keagamaan. Dan dalam konteks Indonesia, Islam sebagai agama yang banyak dianut, membutuhkan personil banyak dan kuat untuk menyerang. Jadi wajar kiranya kalau di media sosial, narasi keagamaan lebih sering muncul.

Di sisi lain, masyarakat kita lupa bahwa Taqiyuddin merupakan seorang politikus. Dengan begitu, “Taqiyuddin Al-Nabhani sudah terlibat dalam plot politik, bermain lobi-lobi kekuasaan, serta melakukan kekerasan dan pembunuhan atas orang-orang yang tidak disukainya. Hizbut Tahrir menjadi kuda tunggangan untuk mengantarkan ambisi pribadi dan keluarganya tersebut.” Inilah yang tidak dipahami masyarakat luas Indonesia. Mereka terjebak oleh narasi kebangkitan Islam dan ajakan menegakkan Negara Khilafah sebagai negara yang ideal kelak hari.

Sebagai partai politik, HT/HTI tidak ubahnya partai politik lainnya, yang memiliki ambisi dalam berkuasa. Setelah berkuasa, antara yang diucapkan dengan kenyataan, kemungkinan berbeda sangatlah banyak. Sebelum berkuasa, menjanjikan dan setelah berkuasa janjinya ditimbun di tanah. Apalagi jika melihat kondisi saat ini, sistem kepemimpinan di internal HT/HTI sampai wafat.

“Ada satu kepemimpinan sentral dalam Hizbut Tahrir Internasional, yang disebut qiyada. Kepala komite pusat ini disebut amir dan masa jabatannya ada sampai kematiannya. Sudah ada tiga amir seperti itu sejak partai tersebut didirikan pada tahun 1953. Meskipun kelompok ini telah menjadi lebih terbuka tentang struktur dan keanggotaannya dalam beberapa tahun terakhir, tapi sumber pendanaannya tetap menjadi misteri.”

Militansi dari aktivis dan tokoh HTI tentunya karena disokong oleh dana yang kuat. Semakin militan dan kuat mengkritik pemerintah serta berani tampil di publik, dia akan mendapat jatah yang banyak. Maka tidak heran, jika setiap orang sulit mendapatkan posisi di struktural. Melewati ragam tahapan dan uji kelayakan. Artinya, masyarakat harus mengerti bahwa HT/HTI bukanlah organisasi keagamaan yang ingin menegakkan ajaran Islam, melainkan narasi-narasi agama hanyalah bungkus semata. Tapi tujuan utamanya adalah kekuasaan. Bagaimana cara mewujdukannya? Apapun akan mereka lakukan demi ambisi kelompoknya tegak, salah satunya kudeta. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!