Serangan Umum 1 Maret: Spirit Memukul Mundur Radikalisme dari Tanah Air

0
143

Sangkhalifah.co — Setiap fragmen sejarah perjalanan bangsa adalah pelajaran berharga. Setiap babak sejarah bangsa adalah bekal bagi bangsa ini untuk menghadapi berbagai tantangan yang kita hadapi. Salah satu sejarah tersebut misalnya adalah Serangan Umum 1 Maret 1949, yang baru saja kita peringati.

Spirit Serangan Umum 1 Maret 1949 bisa kita jadikan sebagai refleksi bersama tentang pentingnya menyatukan tekad, persatuan, dan kesatuan untuk terus menjaga dan meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dilihat dari sejarahnya, Serangan Umum 1 Maret 1949 ini menjadi pembuktian bahwa TNI dan rakyat Indonesia masih ada di tengah melemahnya kedudukan pemerintah Republik Indonesia karena Agresi Militer II saat itu.

Mengutip keterangan di laman Kemdikbud, saat itu bahkan Belanda telah mengumumkan kepada dunia Internasional bahwa Republik Indonesia (RI) sudah hancur. Tapi, meski presiden, wakil presiden, dan para anggota kabinet RI sudah tertawan, kekuatan militer masih ada dan berupaya menyusun strategi penyerangan kepada Belanda.

Saat itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman memimpin Operasi Gerilya Rakyat Semesta. Pasukan tersebut terdiri dari pasukan organik dan non-organik, termasuk laskar dan rakyat bersenjata yang menyingkir ke bukit, lembah dan pelosok. Gabungan pasukan tersebut menyusun rencana penyerangan balik terhadap Belanda.

Panglima Besar Jenderal Sudirman memberikan instruksi melakukan serangan balik kepada Belanda. Ini akan menjadi bukti bahwa TNI masih ada dan kuat. Berdasarkan rapat bersama antara petinggi militer dan pemimpin pemerintahan sipil setempat memutuskan akan melakukan serangan besar-besaran terhadap kota Yogyakarta pada 1 Maret 1949.

Sirine yang mengaung-ngaung di udara tepat pukul 06.00 pertanda jam malam berakhir menandakan dimulainya serangan besar-besaran kota Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Pasukan TNI serentak langsung menyerang pasukan Belanda dari segala penjuru kota. Akhirnya, dalam waktu singkat Belanda berhasil dipukul mundur dan meninggalkan pos-pos militernya. Tepat pukul 12.00 siang, kota Yogyakarta dikosongkan dan para pasukan kembali menuju pangkalan gerilya.

Kemudian, kurang lebih dua bulan sejak ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, TNI berhasil kembali menguasai Yogyakarta dalam waktu singkat. Hal tersebut menjadi bukti ke dunia internasional bahwa TNI dan rakyat Indonesia masih ada, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dan membuat pihak Belanda akhirnya terdesak.

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta adalah wujud perjuangan TNI dan rakyat demi eksistenti negara Indonesia, di tengah melemahnya pemerintah negara Indonesia dan menguatnya kekuasaan Belanda saat itu. Di dalam peristiwa tersebut, ada spirit perjuangan, gotong royong dan persatuan dari berbagai elemen, baik tentara maupun masyarakat, dalam satu semangat untuk terus membela negara dari ancaman Belanda.

Pukul Mundur Radikalisme

Kita bisa belajar merefleksikan dan mengaktualisasikan semangat Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta tersebut sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan bangsa saat ini. Salah satunya adalah menyebarnya paham radikalisme dan ekstremisme agama, hingga terorisme di Tanah Air.

Jika dulu para tentara dan masyarakat bersenjata bersatu melakukan serangan besar-besaran untuk memukul mundur Belanda dari Yogyakarta sebagai ibu kota negara, maka sekarang kita semua harus gotong royong dan menyatukan kekuatan untuk memukul mundur paham radikalisme atau ekstremisme agama dari Tanah Air.

Jika 72 tahun lalu, TNI, laskar, dan rakyat bersenjata berjuang menyerang Belanda demi membuktikan eksistensi negara Indonesia, maka hari ini kita semua seluruh elemen masyarakat harus berjuang mengusir paham radikalisme dan ekstremisme agama demi menjaga eksistensi ideologi Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa.

Kita tahu, menyebarnya paham radikalisme dan ekstremisme agama di tengah masyarakat adalah ancaman nyata bagi eksistensi ideologi Pancasila. Kelompok ekstremisme agama masih terus menyebarkan paham intoleran, bahkan radikal yang bertolakbelakang dengan spirit negara Pancasila yang menjunjung tinggi semangat toleransi dan kebhinekaan.

Belajar dari semangat persatuan dan gotong royong pasukan militer dan masyarakat dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil memukul mundur pasukan Belanda dalam waktu singkat, maka perjuangan memukul mundur paham radikal-terorisme di Tanah Air juga harus dilakukan secara kompak oleh seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pemerintah, pihak keamanan, para pemimpin, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat harus bergerak bersama untuk mengusir dan memukul mundur kelompok radikal-terorisme dari Indonesia.

Semua harus berkomitmen untuk menjaga eksistensi negara Indonesia yang berdasar Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Caranya, dengan menolak dan mengusir secara tegas paham-paham yang tak sesuai dengan dasar-dasar negara, termasuk paham radikalisme-ekstremisme agama. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!