Semangat Kemerdekaan Sebagai Momentum Menolak Khilafah

1
164

Sangkhalifah.co — Tanggal 17 Agustus 2020 adalah hari ulang tahun kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 75. Kehidupan umat beragama dalam keragamannya semakin hari semakin membaik. Umat Islam misalnya, melalui wajah NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain sebagainya, telah memberikan tauladan berbangsa dan bernegara. Meskipun profil ormas tersebut adalah organisasi Islam, namun keislamannya adalah Islam yang moderat (Islam wasatiyyah). Wajah Islam Indonesia ada di pundak mereka. Mereka mumpuni dalam ilmu keagamaan, namun juga setia dengan kebangsaan. Mereka mengerti tentang sejarah Islam di masa Nabi dan tiga generasi setelahnya, namun mereka tetap berpegang teguh pada perjuangan pejuang Indonesia dalam memerdekakan bangsa Indonesia, yang di dalamnya juga para pemeluk agama.

Di tengah riuh peringatan ulang tahun kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 75 masih ada sekelompok yang mengklaim diri memperjuangkan Islam. Mereka adalah para penyeru khilafah yang menawarkan sistem politik kelompok atas nama Islam untuk mengganti sistem yang telah mapan, demokrasi. Dengan dalih mengembalikan kembali semangat Islam, kelompok penyeru khilafah ini merusak mementum kemerdekaan. Jika para pahlawan dulu menyerukan kemerdekaan untuk keadilan dan kemaslahatan bangsa, maka kelompok penyeru khilafah hadir merusak tatanan yang sudah diperjuangkan oleh para pejuang. Kelompok ISIS dan HTI berteriak mengatasnamakan Islam untuk merobek tenun kebangsaan. Sudah semestinya bangsa Indonesia menolak segala bentuk pemikiran yang mengkampanyekan ideologi-ideologi yang hendak merusak tatanan bangsa. Semangat kemerdekaan harus berpacu juga pada semangat menolak ideologi khilafah.

Alasan momentum kemerdekaan menjadi relevan untuk menolak khilafah karena aktivitas para pengusung khilafah yang penuh dengan caci maki dan penghinaan kepada atribut negara. Para pengasong khilafah yang selalu menganggap Pancasila sebagai ideologi taghut dan UUD 1945 sebagai hukum kafir harus dibersihkan dari bumi Indonesia. Sikap menjelekkan pemerintah, ideologi negara, dan atribut-atribut negara yang dilakukan oleh para pengasong khilafah harus menjadi perhatian semua elemen bangsa. Sebab, tidak jarang mereka membungkus kebencian itu atas nama Islam. Mereka mengkalim Pancasila taghut dengan dalil Al-Qur’an QS. An-Nahl: 36 yang menurut para ulama maknanya sesembahan selain Allah. Sementara Pancasila bukan sesembahan. Ia titik temu yang menjadikan keberagaman menyatu dalam NKRI. Mereka mengklaim bahwa NKRI sistem negara kufur dengan dalil tidak menerapkan syariat Islam. Padahal, syariat Islam mana yang tidak diakomodir oleh Indonesia melalui Kementerian Agama?

Salah satu alasan kuat mengapa di momen kemerdekaan ini bangsa Indonesia harus semangat menolak khilafah karena pada dasarnya HTI sama dengan PKI, yang sama-sama hendak menghancurkan Indonesia yang sudah susah payah dibentuk oleh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke. Jika PKI hendak merubah Pancasila dengan komunis, maka HTI merubah Pancasila dengan khilafah. Bahkan, HTI lebih berbahaya dari PKI, sebab HTI memiliki visi menghancurkan budaya-budaya di Nusantara dan dianggapnya kafir bertentangan dengan Islam. Baik PKI maupun HTI juga melakukan segala cara untuk menghancurkan Pancasila. Mereka melakukan teror dan kekerasan untuk menyebarkan fahamnya. Hanya jijiknya, HTI melakukan perbuatan busuk itu dengan mengatasnamakan agama.

Kelompok pengasong khilafah tidak beda dengan para penjajah. Buktinya, mereka pun dilarang di mana-mana. Karena memang keberadaannya hanya menjadi benalu dalam negara. Di Mesir pada 1974, para pengasong khilafah dibubarkan sebab terlibat kudeta dan penculikan mantan atase Mesir. Di Suriah, mereka dibubarkan lewat jalur ekstra yudisial pada 1998. Kelompok pengasong khilafah yang sama dengan penjajah ini juga dimasukkan dalam kelompok teroris oleh Mahkamah Agung Rusia. Pertanyaan sederhananya, mengapa negara-negara di dunia melarang khilafah? Jawabannya karena ideologi yang ditawarkan berupa khilafah Islamiyyah adalah sebuah utopia belaka. Yang mereka perjuangkan sesungguhnya adalah kekuasaan, politik, dan uang, untuk menghidupi kelompok-kelompoknya saja.

Tidak bisa digugat bahwa masih banyaknya aktivitas para pengasong khilafah yang menjelekkan pemerintah melalui media sosial, seperti Instagram, Facebook, dan YouTube, harus menjadi bagian kesadaran bangsa Indonesia dalam momentum kemerdekaan tahun ini. Momentun untuk mengentikan aktivitas mereka, bisa melalui kontranarasi anti khilafah, anti radikalisme, dan anti terorisme. Merdeka yang berarti bebas dari penjajahan harus bebas dari penjajahan para pengasong khilafah yang memusuhi bangsa ini dengan menggunakan kedok Islam. Kemerdekaan yang maknanya bebas dari intervensi orang lain harus merefleksi pada kebebasan bangsa Indonesia dari para pengasong khilafah yang terus menggerogoti tatanan bangsa yang sudah mapan.

Untuk mewujudkan kemerdekaan dari kelompok radikal khilafah salah satu alternatif terbaik adalah adanya urung rembug para tokoh-tokoh agama dari lintas agama, mengokohkan sekaligus mendeklarasikan bahwa khilafah adalah ideologi yang terlarang. Selain juga kembali mengkampanyekan bahwa Pancasila adalah harga mati yang tidak bisa diganti oleh apapun, apalagi oleh khilafah. Mengutip pernyataan seorang tokoh Islam Indonesia, Media Zainul Bahri, dengan kembali memperkokoh ideologi Pancasila dan menolak khilafah akan menjadi momentum bangsa Indonesia pindah memikirkan hal-hal kemajuan, peradaban, masa depan bangsa. Sudah saatnya ideologi khilafah menghilang di bumi Indonesia. Sebab secara legalitas, negara sudah menolak eksistensinya.[]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!