Sel-Sel Negara Islam Indonesia (2)

2
703

Sangkhalifah.co — DI/NII lumpuh setelah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK) dieksekusi pada 1962. Penerusnya pecah ke dalam dua kubu. Kubu pertama pasif, kubu kedua aktif. Kubu pertama menganggap perjuangan telah selesai. Tidak perlu lagi angkat senjata. Tidak perlu merekrut orang. Mereka tetap meyakini kewajiban pendirian negara Islam. Tetapi mereka pasrah kepada ketetapan Tuhan. Kalau Allah menghendaki, jadilah. Kalau tidak, mereka punya bekal menghadap Allah dengan keyakinannya. Faksi ini dikenal dengan Fillah. Sanad-nya dari SMK, turun ke Djaja Sujadi, lanjut ke Bakar Misbah.

Bakar Misbah punya keturunan. Yang menggegerkan namanya Drs. Sensen Komara, alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan tafsir hadis. Dia mengaku rasulullah, dengan nubuat dan syariat baru. Syahadatnya berbunyi: “Asyhadu an La Ilaha illa Allah, wa anna Drs. Sensen Komara rasulullah.” Dia mengajarkan salat menghadap ke timur. Dia ditangkap dengan pasal penodaan agama, begitu juga sejumlah pengikutnya. Tapi kemudian dia dilepas, karena pengadilan memutus dia tidak waras. Beberapa pengikutnya diterungku 2-3 tahun.

Estafet kepemimpinan lalu bergulir ke adiknya, Deden R Setiana, alumnus Unisba, jurusan Planologi. Saya mendatangi kediamannya, sekaligus pusat pemerintahan NII Fillah, di kampung Babakan Cipari, Sukarasa, Garut. Ini kampung yang sangat asri. Kampung ini membujur di kaki pegunungan Garut. Di gunung-gunung itu dulu pengikut SMK gerilya. Mereka turun gunung kalau ransum menipis. Mereka kadang meminta paksa bahan pangan kepada masyarakat. Lama-lama warga resah.

Di kampung ini ada seorang tokoh besar, namanya KH Yusuf Tauziri. Beliau tokoh PSII. Oleh Hiroko Horikoshi, beliau disebut sebagai pemimpin spiritual dari gerakan SMK di tahap awal. Tapi kemudian mereka pecah kongsi. Alasannya dua. Pertama, gerakan SMK sudah mulai mengganggu rakyat. Kedua, ide darul Islam, yang dimaknai sebagai negara Islam, keliru kalau maksudnya adalah ingin merobohkan negara Indonesia yang dipimpin Sukarno.

Kiai Yusuf sangat nasionalis. Beliau menolak ikut SMK. Beliau punya masjid. Desainnya sangat cantik. Menaranya menjulang. Bangunannya bergaya art deco. Konon yang merancang adalah Abikoesno, adik mahaguru Tjokroaminoto. Namanya Masjid Al-Syuro. Di tempat ini, Kiai Yusuf mengajar tasawuf. Kitab favoritnya Al-Hikam. Kebanyakan santrinya kalong. Di zaman Kiai Yusuf, dari info yang saya peroleh, belum ada pondok. Pusat keagamaan semuanya di masjid. Di sinilah Kiai Yusuf mengajar santri dan mengkader calon-calon tokoh-tokoh PSII.

Karena tidak mau ikut SMK memproklamasikan DI/NII, Kiai Yusuf diganggu. Kaki tangan SMK menggempur Masjid Al-Syuro, sepanjang 1949 sampai 1958, hingga 47 kali. Serangan tahun 1952 adalah yang terbesar. Kiai Yusuf naik ke menara. Beliau memimpin komando melawan pasukan Imam Karto. Korban berjatuhan. Kiai Yusuf dan banyak santri lolos. Masjid selamat dari kobaran api. Tapi ada sisa lobang peluru di pagar besi menara. Ada kolam-kolam ikan, yang berubah menjadi kolam-kolam darah di sekitar masjid. Warga trauma ikan hasil empang Cipari. Mereka tidak mau memakannya selama bertahun-tahun.

Kiai Yusuf kemudian hijrah ke Wanaraja, sekitar 5 Km dari kampung Cipari. Di sana beliau mendirikan yayasan pendidikan Islam. Namanya Darussalam. Nama in adalah antitesis dari Darul Islam-nya Kartosoewirjo. Tersirat, dengan nama ini, beliau hendak menyatakan Indonesia adalah Darussalam. Karena itu, tidak perlu Darul Islam ala Imam Karto.

Tahukah kalian siapa Kiai Yusuf? Beliau adalah besan KH Anwar Musaddad, rektor pertama IAIN (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Seperti Kiai Yusuf, Kiai Anwar adalah pegiat PSII. Menurut info putranya, Kiai Cecep Abdul Halim, beliau masuk NU diajak oleh Subhan ZE dan KH Idham Chalid. Kiai Anwar Musaddad pernah menjabat sebagai Pj Rais Am PBNU. Beliau mendirikan pesantren Al-Musaddidiyah di Garut.

Kembali ke kampung Cipari. Sejak insiden serangan ke Masjid Al-Syuro, hubungan keluarga dan pengikut Kiai Yusuf Tauzirie dengan keluarga eks pengikut Imam Karto cenderung dingin, termasuk dengan keluarga Djaja Sujadi dan Bakar Misbah. Di depan Masjid Al-Syuro sekarang berdiri Pesantren Tahfidzul Qur’an. Santrinya sekitar 300an, putra-putri. Pesantren ini diasuh secara kolegial oleh keluarga dan keturunan KH Harmaen, KH Ahmad Kisya, dan KH Ahmad Zainal.

Melalui Kang Budi Syahbudin, saya diperkenalkan dengan keluarga pesantren Cipari. Lalu saya diantar, dengan jalan kaki, ke kediaman keluarga Alm Bakar Misbah. Di era Imam Karto, Bakar Misbah pernah menjabat sebagai Bupati Sumedang NII. Drs Sensen Komara, putranya, menggegerkan warga Garut karena mengaku utusan. Dia meninggal tahun 2020. Adiknya, Deden R Setiana, kini menggantikan tampuk kepemimpinan NII Faksi Fillah. Saya mendengar dan menyimak penuturannya, hampir tanpa menyela, selama berjam-jam. Saya tidak menyanggah apa pun yang dikatakannya. Saya betul-betul bertindak sebagai peneliti. Deden membela klaim kakaknya yang mengaku sebagai rasul. Dia memistifikasi kematian kakaknya, dan tanda-tanda ajaib sepanjang prosesi pemakamannya, untuk menunjukkan kakaknya adalah orang istimewa.Tapi kini dia tidak lagi seperti kakaknya. Syahadatnya kembali ke dua syahadat. Arah salatnya kembali ke kiblat.

Saya tanya, apa perjuangannya untuk mendirikan NII? Dia menjawab, saat ini wukuf, i’tikaf, dan menahan diri. Ini idiom-idiom tentang perjuangan pasif. Mereka tidak berniat untuk menambah pengikut. Mereka tidak berpikir untuk mengangkat senjata. Mereka secara batin menolak Indonesia, tetapi secara lahir mengikuti administrasi NKRI. Mereka ber-KTP, tetapi tidak ikut Pemilu. Pengikutnya juga mau ambil jatah bansos, kalau ada.

Saya mengamati, faksi ini sudah lumpuh. Tidak ada agenda politik yang mengancam. Sisa-sisa kejayaannya hanya bendera NII, yang dipajang di kediaman keluarga Bakar Misbah, yang jadi pusat pemerintahan NII Fillah. Faksi lainnya di Garut Selatan. Mereka lebih demonstratif. Mereka mengibar-ngibarkan bendera NII, lalu memviralkannya. Ada juga yang merekrut dan meracuni anak-anak SMA. Saya tanyakan itu ke Kang Deden. Dia menjawab, saya tidak tahu mereka siapa. Orang mengenal mereka sebagai Islam Baiat.

Potensi yang lebih berbahaya adalah Faksi Fi Sabilillah. Ini faksi kombatan. Mereka pecah ke dalam beberapa faksi. Tapi mereka semua menolak Faksi Fillah. Djaja Sudjadi, mentornya Faksi Fillah, dieksekusi oleh Warman, pengikuti Faksi Fi Sabilillah.

Faksi Fi Sabilillah akan saya pada edisi selanjutnya. Dari faksi ini kelak lahir Jamaah Islamiyah (JI). Topik ini relevan seiring dengan penangkapan-penangkapan Densus 88 terhadap jaringan JI, termasuk dua orang terduga yang juga pengurus MUI Pusat. [Bersambung]

*M Kholid Syeirazi, Sekretaris Umum PP ISNU

Leave a reply

error: Content is protected !!