Seks dan Radikalisme-Terorisme

1
1357

Sangkhalifah.co — Arthur C. Clarke menulis dalam esainya dengan miris: “Tragedi terbesar dalam seluruh sejarah umat manusia adalah klaim bahwa moralitas hanya milik agama”. Clarke dalam hal ini tidak bermaksud menyerang agama. Karena penjabaran selanjutnya begini: “ketika moral dianggap hanya milik agama, maka manusia akan membenarkan aksi tak bermoralnya juga menggunakan agama”.

Clarke sepenuhnya tidak mengada-ada, karena itu memang terjadi. Atas nama agama, esensi moral ditakar sesuai kebutuhan. Dalam dunia terorisme, larangan agama yang paling tabu sekalipun akan menjadi sangat lentur. Mereka menganggap tuhan pasti melonggarkan kebejatan moral apapun, karena perjuangannya dalam rangka membela tuhan. Mereka merasa layak untuk melakukan barter kepentingan dengan tuhan.

11 teroris pelaku 9/11 di New York sempat mabuk, berjudi dan berpesta seks dengan wanita panggilan di Las Vegas tiga bulan sebelumnya. Teroris ISIS menggilir perempuan Yazidi setiap malam dengan dalih halal untuk digauli tanpa nikah karena mereka adalah rampasan perang. Al-Shabaab dan Boko Haram juga melakukan hal yang sama. Di negara kita, terduga teroris pernah ditangkap di sebuah kamar hotel ketika sedang berselingkuh dengan istri rekannya yang telah ditangkap beberapa bulan sebelumnya. Ini tidak aneh. Sollert-Gallart menemukan irisannya, bahwa seseorang dengan orientasi perilaku agresif dan brutal, cenderung memiliki kebutuhan seks yang tinggi. Segmen teroris sangat kuat untuk masuk dalam kategori ini.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggugat moral manusia, karena setiap manusia adalah pendosa. Tulisan ini hanya ingin mempertegas: janganlah kita merasa membela agama jika menjaga perilaku diri sendiri saja tidak kuasa. Jangan merasa sanggup memerangi musuh agama jika mengalahkan diri sendiri saja belum bisa. Arogansi dan hipokrisi adalah penyakit bathin setiap manusia.

Siapapun boleh merasa tidak berdosa, asal jangan menganggap bahwa dosa hanya dimiliki orang lain. Siapa saja boleh mengklaim memiliki surga, asal jangan menganggap neraka pasti milik orang lain. Hidup cukup sederhana: berusaha berguna bagi manusia lainnya – kalau soal dosa semua pasti punya. Begitu. [Islah Bahrawi]

Leave a reply

error: Content is protected !!