Santri: Garda Terdepan Dalam Mengawal Pancasila

1
713

Sangkhalifah.co — Santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat, mencintai tanah airnya dan menghargai tradisi-tradisi budayanya, yang menghormati guru dan orang tua hingga tiada, begitulah ucap Gus Mus di media sosialnya ketika mendefinisikan santri. Definisi umum yang sering dikenal tentang santri adalah orang yang sedang atau pernah belajar di pesantren.

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia tentunya sudah mengetahui bagaimana kondisi bangsa ini sejak dahulu. Sehingga apa yang diajarkan di pesantren tidak luput dari persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa. Kehadiran pesantren guna mencetak santri yang paham akan ajaran agama juga persoalan negara dirasa sangat tepat. Santri di pesantren tidak hanya diajarkan dasar-dasar keagamaan, akan tetapi juga diajarkan mengenai persoalan-persoalan bangsa yang harus dihadapi.

Kontribusi santri begitu besar pada bangsa Indonesia. Salah satunya adalah ikut berperang melawan penjajah pada tanggal 22 Oktober 1945. Akhirnya, berdasarkan keresahan kaum santri dan permohonan saran Bung Karno kepada KH. Hasyim Asy’ari, dikeluarkannya fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan suatu kewajiban bagi tiap-tiap muslim. Oleh karena itu, semangat santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia begitu menggelora.

Baca: Jihad Menangkal Kekerasan dan Menebar Kedamaian

Jika pada zaman dahulu peran santri adalah ikut serta dalam berperang melawan kolonialisme dan mengusir penjajah. Maka, santri pada zaman sekarang sudah seyogyanya berupaya sekuat tenaga untuk mempertahankan apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi faktor terpenting yang harus dijaga dan dikawal. Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, agama, budaya, dan bahasa telah disatukan dalam ideologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Saat ini, banyak pihak yang hendak merongrong ideologi Pancasila. Mereka memiliki kepentingan untuk mengubah Pancasila ke dalam bentuk ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila. Santri sudah seyogyanya mengambil tindakan untuk menghalau pihak-pihak yang hendak mengubah ideologi Pancasila. Sebab, Pancasila merupakan ideologi bangsa yang sudah disepakati secara final. Para kiai di seantero Indonesia juga sepakat adanya Pancasila sebagai ideologi bangsa. KH. Ahmad Wahid Hasyim, merupakan salah satu kiai yang tergabung dalam anggota panitia sembilan yang berkontribusi dalam perumusan Pancasila.

Kata yang tersusun dalam rumusan Pancasila tersebut tersusun dari kata dasar dan imbuhan ke-an dan per-an. Apabila masing-masing dari kata imbuhan tersebut dihilangkan sebentar, maka yang tersusun adalah kata Tuhan, manusia, satu, rakyat, musyawarah, dan adil.

Inti dari Tuhan dalam Pancasila merupakan suatu pengakuan bahwa Indonesia mengakui adanya Tuhan. Memang, Indonesia bukanlah negara agama namun juga bukan agama sekuler. Akan tetapi, Indonesia merupakan negara yang mengatur dan mengayomi setiap agama yang dianut oleh warganya. Oleh karena itu dalam hal beragama, setiap warga negara memiliki kebebasan dalam memilih dan menjalankan aktivitas keagamaannya. Hal ini tentunya sesuai dengan ajaran agama Islam bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama.

Inti dari nilai kemanusiaan, kerakyatan, permusyawaratan, dan keadilan dalam Pancasila adalah bahwa rakyat Indonesia memiliki karakter yang tengah-tengah, tidak terlalu condong ke kanan ataupun ke kiri, seimbang, tidak berat sebelah, dan toleran. Hal ini juga tercermin ketika mengambil suatu keputusan harus ditempuh dengan jalan musyawarah yang mengakomodir seluruh pendapat yang berbeda kemudian diputuskan berdasarkan mufakat. Adapun nilai kemanusiaan dalam Pancasila merupakan manusia yang memiliki sifat adil. Dalam artian, adil merupakan salah satu cita-cita bangsa Indonesia.

Baca: Ikhtiar Santri Membungkam Radikalisme Agama

Santri memiliki tanggung jawab terhadap menjaga dan mengawal Pancasila. Sebab, Pancasila merupakan warisan dan hasil ijtihad dari para kiai. Penjagaan tersebut bukan semata menjaga ideologi bangsa, akan tetapi juga menjaga ilmu yang telah diwariskan oleh para kiai terhadap orang baru yang merasa dirinya paling benar dan paling mengerti tentang Indonesia. Dalam ushul fikih terdapat kaidah yang berbunyi “al-ijtihad la yunqadlu bi al-ijtihad” yang maknanya adalah bahwa ijtihad yang sudah final bersifat mutlak dan tidak batal jika ada ijtihad yang baru. Dalam konteks ini, ideologi Pancasila yang telah mencapai kesepakatan final tidak bisa dirubah lagi dan tidak dapat digantikan dengan ideologi yang baru.

Santri yang telah dididik di pesantren dengan ilmu perangai yang baik, diharapkan mampu menjadi pengawal ideologi Pancasila serta mampu menjaga Pancasila dari gempuran ideologi lain yang bertentangan dengan budaya Indonesia. Karena, intisari dari Pancasila diambil dari budaya yang ada di Indonesia yang termaktub dalam lima sila tersebut. sebagai ideologi bangsa, sudah seyogyanya Pancasila dipelajari dan diimplementasikan ajaran-ajarannya dalam sendi kehidupan setiap warga negara Indonesia. Pancasila sebagai patokan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, santri juga merupakan garda yang paling penting dalam bangsa ini. Santri juga diharapkan mampu menjadi panutan dalam penerapan ideologi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.  Santri Indonesia, sang pengawal Pancasila memiliki sikap untuk memakmurkan Indonesia dan jiwa yang humanis serta religius. []

*Muhammad Ilham Muzhoffar, Mahasiswa di UIN Walisongo Semarang Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!