Sang Jihadis Aman Abdurrahman dan Keterputusan Sanad (2)

0
132

Sangkhalifah.co — Ada ungkapan di kalangan penuntut ilmu: “andaikan tidak ada sanad, maka orang akan berpikir agama sesuai maunya”.

Inilah yang saya alami dan kelompok yang saya tapaki, sehingga kami bebas menafsirkan apa yang kami pahami, sebagaimana misal ada klaim ijma’ dari sebuah kitab yang berjudul Al-Jami’ fi Tholabil Ilmi Syarif bab Iman Kufur tentang kafirnya polisi dan tentara di negara-negara Muslim. Alasannya para polisi dan tentara telah menjadi pasak bagi langgengnya hukum2 buatan manusia, demikian alasan mereka, mereka berdalil dengan penggalan ayat:

اِنَّ فِرۡعَوۡنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوۡدَهُمَا كَانُوۡا خٰطِـــِٕيۡنَ‏

Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah (Qs. Al-Qashash ayat 8).

Dan pada ayat lain juga:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah (Qs. Al-Nisa ayat 76).

Kemudian membawakan kisah bagaimana sahabat telah ijma’ para sahabat nabi dalam perang Riddah, nabi palsu Musailamah Al kadzab dan Riddahnya Mani’uz Zakat. Tidak cukup di sana, mereka juga mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkannya maka dia Kafir dengan kaidah

من لم يكفر او شك في كفره فهو كافر

Siapa yang tidak mengkafirkan atau ragu-ragu dengan kekafiran nya maka dia kafir.

Mereka juga membaca bagaimana dakwah NAJD di era anak-anak cucu Muhammad bin Abdul Wahhab berperang dengan Turki Usmani, jika Turki Usmani saja dikafirkan oleh Dakwah Najd (Wahabi) bagaimana dengan Indonesia.

Buat para new hijrah dr kalangan type esacta, maka dia takjub dan akan menelan mentah-mentah logika ini, apalagi dengan bahasa santun dan sedikit tegas, maka adik-adik kita di sebuah halaqoh akan terkagum-kagum melihat sang asatidz ceramah tentang tema ini.

Satu dua kali mengikuti daurah dan taklim membuat para mustami’ (pendengar) mulai baper, karena syarat di terima “LAA ILAHA ILLA ALLAH” itu harus kufur kepada thagut baru menetapkan Allah sebagai Ilah yang berhak disembah.

Benarkah kesimpulan dalil seperti ini? Bagaimana jika adik-adik kita mahasiswa atau para remaja dengan jiwa mudanya jika mendapatkan materi-materi ini? Bagaimana jika ada orang-orang salih dari POLRI dan TNI atau ASN dengan karir cerah mendapatkan materi-materi seperti ini?

Jangan heran jika saya yang pernah mondok tidak tamat ini tergelincir, lalu ada eks TNI July Karsono yang menembak 4 polisi, eks Kopassus Subagyo alias Daeng Koro yang ikut menggorok 3 polisi di Tamanjeka, Briptu Hendra Saputra menjadi bom bunuh diri di Suriah, eks anggota Krimum Polda Malut Bripda Lesti dan Bripda Rini, eks Direktur otoritas Batam Joko Wiyogo, Bangkir lulusan Australia, pejabat eselon 4 Triyono, Briptu Syarif Tabubun dan Briptu Anggota Intel polres Ambon dan ratusan mahasiswa lainnya terlibat Terorisme.

Fikrah jahat ini akan memanfaatkan kesalehan dan kecintaan kita akan agama ini, mereka merekrut orang yang ikhlas tanpa pemahaman yang baik dari kita semua, yaitu belajar dari orang yang kita anggap sebagai ulama, guru asatidzah yang ternyata mereka terputus sanadnya, lalu berfatwa dalam urusan darah dan kehormatan kaum muslimin, demikian seterusnya.

***

Ustadh Aman Abdurrahman dan LIPIA Jakarata (1)

Cara berdalil dengan dalil-dalil umum dalam masalah-masalah yang bersifat umum sebetulnya tidak masalah dengan kaidah:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Pelajaran itu di ambil dari keumuman lafadz dan bukan kekhususan sebab

Tetapi jika tanpa memahami konteks ayat dan akan digunakan menghukumi sebuah persoalan Waqiul Hal, itu nanti dulu, misal hasil tarjih kelompok ini berkesimpulan bahwa polisi dan TNI itu kafir berdasarkan dalil-dalil umum, itu jelas salah.

Sifat-sifat cara berdalil dengan dalil umum dikoreksi oleh Abu Hasan Al-Asy’ari di Maqolat Islamiyyin dan Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Syarah Fathul Bari-nya:

إِنَّهُمُ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الكُفَّارِ ، فَجَعَلُوهَا عَلَى المُؤْمِنِينَ ” انتهى من ” فتح الباري” (12 /282)

Bahwasanya mereka menggunakan ayat2 yang turun kpd orang-orang kafir tetapi di buat untuk mengvonis orang2 beriman. Selesai Fathul Bari (Juz 12: 282).

Saya mendengar beberapa asatidzah berbicara tentang Khawarij, hanya Gus Baha yang mengutip metodologi khawarij dalam berdalil, jikalau tidak menguasai tentang durusul firaq, kayaknya kesulitan mengungkapkan masalah ini.

Yang memberi fatwa juga tidak sadar jika fatwa kafir itu berkonsekuensinya halal dan hartanya, oleh si awam simpatisannya dijadikan justifikasi akan bolehnya menembak aparat keamanan di negara-negara Muslim yang belum menegaskan syariat Islam, akhirnya si Aman Abdurrahman harus menanggung para pelaku penembakan kepada polisi yang sudah terlanjur tertumpah darahnya.

Alm Juli Karsono ketika habis menembaki polisi berkata ketika di tanya, “kenapa antum tembaki polisi-polisi itu”, kata Aman Abdurrahman itu boleh, si Aman berdalil dengan kitab Al-Jami dan membaca kitab-kitabnya Al-Maqdisi semacam “Risalah Tsalasiniyyah” yaitu kitab-kitab sekunder dari dari kitab Primer atau kitab induk semacam Al-Durar As-Saniyah, Sabilun Najah Wal Fikak karya Ibnu Atiq, itu kesalahan pertama.

Kesalahan kedua, permasalahan di waktu kuat dan di waktu lemah. Ada pepatah indah mengatakan:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.

Artinya sering kali kita para Jihadis ghuluw (berlebihan) tidak memahami kondisi kapan fatwa itu keluar, dan dalam konteks apa fatwa itu berbicara, misal fatwa boleh memerangi pasukan Tartar yang notabene ada yang Muslim, fatwa bolehnya memerangi pasukan Tartar karena Ibnu Taimiyyah saat itu mempunyai kekauatan yang hampir sama dengan Tartar sehingga berani menantang perang.

Ungkapan-ungkapan para Jihadis yang tidak pada tempatnya tersebut pernah diungkapkan oleh Syaikh Al-Maqdisi sendiri: “Saya telah banyak menyaksikan para pemuda yang menukil beberapa pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan beberapa imam dakwah Najdiyyah dalam urusan takfir ini. Dari pernyataan para ulama tersebut, mereka memahami bahwa orang tidak menampakkan permusuhan terhadap orang-orang kafir atau mengungkapkan sikap berlepas diri dari mereka, maka harus dikafirkan. Para pemuda itu tidak memberikan toleransi karena kondisi yang lemah dan tidak mengakui seorang pun sebagai orang Islam, meskipun ia shalat, puasa, mengaku sebagai seorang muslim, hingga ia mengumumkan bahwa ia berlepas diri dari para thaghut, meskipun dalam kondisi lemah. Ini adalah pemahaman yang salah dan kekeliruan yang jelas, yang menyebabkan munculnya para penganut sikap ghuluw di seluruh dunia”. (Dipublikasikan oleh Mimbar Tauhid wal Jihad Abu Muhammad Al Maqdisi, 15 Dzul Hijjah 1435).

Syaikh Usamah Rahimahullah pernah mengatakan “Terkadang sebagian ikhwah berdalil dengan kata-kata tajam yang diucapkan oleh sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum. Kata-kata tersebut diucapkan dalam kondisi Islam kuat dan memiliki negara yang berkuasa. Sementara kondisi kita ini saat ini berbeda. Oleh karena itu kita mesti memperhatikan perbedaan antara kondisi kuat dan kondisi lemah. Lalu sampai kepada ‘’Hal yang diperlukan pada periode ini adalah hendaknya kita menyampaikan kebenaran kepada masyarakat dengan ungkapan yang paling mudah dan paling lembut. selesai ( Risalah Ba’da isytisyahadiyyin ila Syaikh Nasr Al-Wuhasy/Letters From Abottabad)

Bayangkan jika teks-teks fatwa di saat kuat, lalu diamalkan oleh jihadis dalam kondisi lemah, jelas jadi masalah. Disini pentingnya belajar sanad kepada kiyai yang mumpuni dan kompeten. []

*Sofyan Tsauri, Mantan Napi Teroris

Leave a reply

error: Content is protected !!