Salut! Jenderal Listyo Sigit Prabowo Berani Tangkap Munarman

1
647

Sangkhalifah.co — Salut. Presisi memakan korban. Hormat untuk Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pentolan teroris ISIS-FPI Munarman ditangkap Densus 88. Luar biasa. Pasalnya, Munarman adalah salah satu kompor, provokator di Republik ini selain Anies Baswedan dan Jusuf Kalla. Trio the untouchables ini terkait dengan dan menggunakan ormas teroris FPI sebagai alat politik identitas.

Publik masih ingat. Betapa Muhammad Rizieq Shihab (MRS) disambut oleh Anies Baswedan. Satgas Covid menyumbang masker untuk kegiatan di Petamburan.

Jusuf Kalla pun menyebut ada kekosongan kepemimpinan di Indonesia hanya karena melihat pion dia disambut oleh para pendukung teroris di Bandara Soekarno Hatta. Muaranya delegitimasi terhadap Presiden Jokowi. Politik identitas mereka usung.

Kalkulasi politik Pilpres 2024 menjadikan Anies Baswedan dan Jusuf Kalla, serta Ridwan Kamil merangkul FPI alias MRS yang di belakangnya, otaknya, adalah pentolan teroris Munarman. Lagi-lagi politik identitas akan digunakan oleh mereka.

Praktik Pilkada DKI Jakarta 2017 memecah-belah umat Islam, termasuk kriminialisasi terhadap Ahok sebagai jalan menggerakkan kebencian terhadap NKRI.

Maka, dengan ditangkapnya Munarman, peta terorisme, radikalisme menjadi berubah. Memang Munarman pantas ditangkap. Sekali lagi. Dia adalah master, otak, selain pentolan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dalam jaringan ISIS dan terorisme FPI.

Kita paham Munarman tak punya latar belakang ilmu agama Islam sama sekali. Persis seperti Rizieq Shihab. MRS hanya penjual parfum Arab, memimpin ormas berkedok agama. Penghasut anak negeri untuk menjadi teroris bersama Munarman.

Publik yang bahlul, dengan menjual agama, seperti kata Buni Yani, mendukung FPI. Enam bulan lalu di Republik para bahlul membela pentolan teroris Rizieq Shihab.

Munarman memilih MRS sebagai kacung dia. Munarman menyuruh Rizieq berbicara ngawur, memmfitnah, dan melakukan framing membenci pemerintahan. MRS yang ingin kaya raya tanpa bekerja keras, dipasang oleh Munarman menjadi corong FPI.

Sementara Munarman mengendalikan seluruh strategi agar duit mengalir. MRS tetap mendapat bagian besar duit dari para penjahat, cukong dari mulai Cendana, Cikeas, dan Chaplin – serta sembilan Naga.

Saking kuatnya, Munarman sanggup menghambat perintah Presiden Jokowi. Sampai saat ini Negara gagal mengambil alih tanah Megamendung yang menjadi rumah para teroris, Markaz Syariah, seperti Petamburan.

Pesantren Megamendung adalah tempat latihan para teroris FPI. Simbol kekuatan teroris FPI. Sampai saat ini, PTPN VIII sebagai pemilik lahan ketakutan. Tidak berani mengambil haknya. Tak satu pun pejabat di Republik ini berani mengeksekusi lahan milik negara yang diserobot organisasi teroris FPI. Karena lobby Munarman sampai ke level Menteri. Menteri pun ketakutan terhadap Munarman.

Terkait ISIS pun Munarman tetap bebas. Dia menghadiri baiat ISIS di markas FPI di Makassar pun tidak tersentuh hukum. Di Medan juga dia melakukan baiat terhadap para teroris ISIS. Selain itu Pamulang pun dijadikan basis bibit teroris ISIS termasuk UIN.

Kisah Munarman ini jadi bagian rangkaian kisah trio the untouchables di Republik ini. Munarman telah diselesaikan oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Saya berharap, dengan teroris Munarman dicokok, maka tindakan hukum terhadap Anies Baswedan terkait APBD DKI Jakarta, korupsi lahan DP 0%, gelontoran uang untuk Formula E, akan bisa dilakukan.

Untuk Jusuf Kalla, hentikan menggunakan politik identitas sebagai kendaraan politik. Lebih baik jualan Coto Makassar kalau usaha bangkrut, tidak dapat proyek dari LBP atau ET. Daripada ambisi menggunakan dan menggandeng orang seperti Rizieq Shihab FPI, yang di belakangnya ada pentolan teroris Munarman.

Ketegasan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo adalah amanat tegas dari Presiden Jokowi yang dijalankan dengan tingkat presisi luar biasa. Bidak catur strategi Jenderal Listyo mampu memorakporandakan gerakan teroris FPI di Indonesia.

Jenderal Listyo akan merangsek dan menghancurkan penegakan hukum, termasuk terorisme, dengan Presisi yang dicanangkan. Publik bersorak sorai menyambut ketegasan Jenderal Listyo. Salut! Hormat Jenderal! [Ninoy Karundeng]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!