Salah Paham Soal Tafsir Tunggal (1)

0
408

Oleh: Aru Elgete (Mahasiswa S1 Unisma Bekasi)

Sangkhalifah.co — Suatu ketika, saya berdiskusi dengan seorang teman yang sejak kecil sama-sekali tak mengenal dan dikenali tentang Islam. Ia tidak terlahir dari keluarga yang sekuler. Tidak. Mungkin, karena kedua orangtuanya sibuk mengejar karir sehingga lupa untuk memberi asupan wawasan agama kepadanya.

Kini, saat sudah dewasa, ia mulai tertarik belajar agama. Mulai dari belajar baca-tulis Al-Qur’an, menghafal surat-surat pendek, hingga bertanya-tanya kepada saya mengenai Islam yang, katanya, ada sangat banyak. Seperti terpecah-pecah. Ia bingung. Menurutnya, banyak yang salah paham tentang Islam. Sehingga tidak sedikit, oknum yang mengatasnamakan Islam untuk hal-hal yang tidak baik.

Di luar sana, katanya, ada sekelompok orang Islam yang dengan sombong dan angkuh merasa paling dekat dengan Allah. Hanya dengan bermodal pakaian ala arab. Padahal, menurutnya, Islam tidak demikian. Ia meyakini itu. Walau tidak paham betul, setidaknya ia tahu sejarah bagaimana para wali dan ulama Indonesia terdahulu mensyiarkan Islam di Bumi Pertiwi ini.

Lalu, katanya, apa sebenarnya penyebab orang-orang itu salah memahami tentang Islam? Sebab, ia juga ingin tahu bagaimana seharusnya ia mempelajari Islam.

Lalu saya menjawab bahwa ada dua penyebab orang menjadi salah paham tentang Islam. Pertama, kedangkalan pengetahuan karena tidak mau belajar. Sekalipun mau belajar, ia  tidak suka dengan proses yang panjang alias yang instan atau cepat saji. Semua yang instan itu pasti tidak akan baik jika dikonsumsi. Begitupun soal ilmu.

Kedua, emosi keagamaan yang terlalu meluap-luap. Orang seperti ini memiliki gairah keberagamaan sangat tinggi, tetapi enggan menggali ilmu agama lebih dalam. Ia hanya belajar di permukaan. Paham sedikit, lalu menggelar ‘panggung dakwah’. Padahal tidak disertai dengan ilmu yang mumpuni. Ini yang bahaya.

Kalau sudah demikian, dampak yang ditimbulkan adalah orang itu akan lebih memilih jalan pintas untuk meniru Nabi secara langsung. Celakanya, orang-orang seperti itu biasanya meniru Nabi hanya dari pakaian dan tampilan luar saja. Tetapi, pada waktu yang bersamaan, ia menampakkan wajah yang sangat galak dan menyeramkan. Tidak seperti Nabi yang wajahnya berseri-seri.

Lalu teman saya itu bertanya hal yang lain. Ia bingung karena Islam ada banyak sekali. Bahkan, sesama muslim pun, tak jarang kerap berseteru. Sebenarnya bagaimana soal pendapat sebagian muslim itu yang meyakini tafsir tunggal dalam agama? Maksudnya, orang-orang di luar kelompoknya, yang berbeda tafsir keagamaan, dianggap tidak Islam. Bahkan, dianggap halal darahnya untuk dibunuh. Bagaimana jika demikian?

Dengan penuh yakin, saya menjawab bahwa semua umat Islam di muka bumi ini pasti berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Semuanya, sama. Tanpa terkecuali. Tetapi, interpretasi Al-Qur’an bisa berbeda-beda. Jangankan interpretasi ayat Al-Qur’an, interpretasi dari apa yang saya ucapkan saja bisa berbeda-beda.

Kalau saya berkata: saya belum makan; apa maknanya? Bisa beragam. Beberapa interpretasi itu misalnya lapar, masih kenyang, atau sebenarnya kalimat klise untuk menyembunyikan sebuah seruan: jangan habiskan makanan itu!

Jadi, bisa bermacam-macam interpretasinya. Hal itu, untuk bisa mendekati kebenaran dalam menginterpretasi, kita harus lihat bagaimana situasi saat kalimat diucapkan, siapa yang berbicara, dan lain sebagainya.

Nah, perbedaan interpretasi ini bisa menimbulkan banyak perbedaan dalam penafsiran. Tetapi, perbedaan itu semestinya tidak selalu berarti pertentangan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa dua hal yang berbeda belum tentu saling bertentangan. Jadi, dalam soal penafsiran ayat Al-Qur’an itu kita harus melihat kondisi masyarakat dan kondisi seseorang.

Baca Juga:

Lalu saya memberikan contoh. Jika ada seseorang bertanya kepada saya, “Apakah saya boleh berenang?” Maka, jawabannya bisa beragam. Saya akan menjawab tidak boleh, jika yang bertanya itu adalah seseorang yang tidak bisa berenang. Tetapi saya akan mempersilahkannya untuk berenang, jika yang bertanya itu adalah orang yang bisa berenang.

Jadi, sekalipun terdapat pertanyaan yang sama, tetapi jawabannya bisa berbeda. Lebih-lebih soal ayat Al-Qur’an tingkat kesusasteraannya sangat tinggi. Maka, jika kita bukan seorang yang ahli tafsir, bertanya atau mengajilah kepada yang menguasai ilmu tafsir.

Teman saya itu memahami penjelasan saya. Lalu dia bertanya lagi. Apakah bisa terjadi kesalahpahaman dalam kebenaran itu sendiri?

Saya jawab, semua bisa disalahpahami. Bahkan, sengaja untuk diputarbalikkan kebenaran itu agar menjadi salah paham. Hal ini tergantung atau berdasarkan kepentingan seseorang dalam penyampaiannya.

Dalam menulis, misalnya, saya tidak pernah merasa bahwa apa yang saya tulis ini seluruhnya pasti benar. Sebab, tidak ada manusia yang bisa memonopoli kebenaran. Bahkan, Nabi Muhammad pun pernah berbuat salah sehingga ditegur oleh Allah, meskipun kesalahannya tidak fatal. Jadi, kalau Nabi saja pernah salah alias tidak selalu benar, maka kenapa kita harus merasa paling benar?

Kemudian teman saya bertanya lagi, bagaimana mencari penafsiran keagamaan yang mendekati kebenaran? Dengan jawaban yang cukup sederhana, saya katakan bahwa carilah penafsiran keagamaan yang paling mendekati kemaslahatan. Itulah yang mendekati kebenaran. Jadi kalau ada sebagian umat Islam yang penafsiran keagamaannya justru mencederai kemaslahatan orang banyak, maka itu merupakan bentuk kesalahpahaman dalam memahami Islam. [Bersambung]

Leave a reply

error: Content is protected !!