Salah Paham Islam Yang Membuat Dian Yulia Novi Ngembom Istana

0
37

Sangkhalifah.co — Beberapa hari lalu media sosial diramaikan dengan adanya pengakuan calon pengantin bom bunuh diri bernama Dian Yulia Novi, seorang wanita yang baru menikah tiga bulan dan memutuskan akan melakukan bom bunuh diri di depan istana merdeka. Dian didoktrin oleh suaminya yaitu Solihin, untuk melakukan aksi teror. Dalam tayangan ekslusif di salah satu televisi swasta itu, Dian mengungkapkan alasan-alasan mengapa ia harus melakukan tindakan bom bunuh diri. Dengan mantap dan yakin, Dian memaparkan sebab-sebab mengapa dirinya akan melakukan aksi teror bom di depan istana negara.

Alasan pertama yang disampaikan karena menurut Dian, agama Islam di zaman sekarang sudah terlihat asing. Dian menyebut itu dengan dalih hadis Nabi, meskipun ia tak menyebut seperti apa bunyi hadisnya dan siapa perawinya. Dian tutup mulut saat host bertanya hadis dari riwayat siapa yang mengatakan Islam kini asing dan perlu melakukan bom bunuh diri. Hadis yang dimaksudkan Dian adalah hadis riwayat Imam Ahmad, hadis nomor 177. Meski beberapa ulama menganggapnya sebagai hadis dho’if, namun sebagian ulama lain menyatakan sebagai sahih lighoiri, menjadi sahih sebab ada hadis lain yang lebih bisa diyakini kebenarannya.

Tetapi disayangkan, Dian gagal paham dalam memahami konteks hadis di atas. Bagi Dian, umat Islam di masa sekarang seperti orang asing karena memakai cadar saja serasa orang asing, bahkan dibully oleh banyak orang, orang Islam sendiri pula. Sementara ketika orang memakai celana jeans, atau pakaian yang membuat lekuk tubuh terlihat, sudah biasa-biasa saja. Karena alasan ini ia merasa Islam diasingkan, dan perlu melawan dengan melakukan penyerangan bom bunuh diri. Padahal dalam konteksnya, sebagaimana disebut Imam An-Nawawi dalam Riyadh As-Salihin, adalah agama masih banyak belum diminati, ajarannya banyak belum dipraktikan karena banyak kekufuran dan jahiliyah.

Konteks hadis di atas betapapun tidak nyambung digunakan dalam konteks Indonesia. Apalagi hanya membandingkan cadar dan celana jeans. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas Islam terbesar di dunia. Islam justru menjadi agama yang banyak diminati dan konteks masa kini bukanlah konteks zaman jahiliyah. Islam di Indonesia amat dihormati. Di negara kita ada Kementerian Agama, beratus-ratus bahkan beribu-ribu pondok pesantren dan madrasah yang mengkaji keilmuan Islam. Islam berkembang pesat di Indonesia. Adanya perbedaan memakai cadar dan memakai pakaian khas Indonesia adalah upaya menghormati budaya, sebab yang penting tidak sampai mengumbar aurat di mata publik.

Karena kesalahan memahami hadis di atas Novi hendak melakukan jihad. Jihad dalam bentuk melukai orang lain. Sebab bagi dia, jihad bukan persoalan seseorang mengakhiri kematian karena putus asa, akan tetapi untuk kehidupan selehat mati. Muhammad Musthafa Al-Maraghi menyebut, di dalam jihad tidak boleh ada unsur melukai, apalagi membunuh. Perang tidak boleh menyakiti orang tua dan juga anak-anak. Tetapi kenyataannya berbalik fakta, orang-orang yang melakukan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad justru merusak, membom, dan melukai mereka yang satu saudara dalam satu tanah air. Alih-alih melakukan jihad untuk kehidupan, jihad yang dilakukan teroris justru mematikan.

Al-Qur’an yang menjadi panduan dan sumber umat Islam saja tidak memerintah jihad bom bunuh diri. Jihad dalam Al-Qur’an, disebut Abdullahi Ahmad An-Nu’amy, sebagai upaya mempertahankan diri dari serangan musuh, manakala mereka melakukan kekerasan terlebih dahulu pada umat Islam atau mereka melarang umat Islam melakukan ibadah. Selain dalam konteks itu, jihad tidak diafirmasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Apalagi mengatasnamakan jihad untuk melukai orang lain yang berbeda keyakinan dan paham. Teroris denhan memahami bahwa terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang secara sepintas memerintah orang lain melakukan pembunuhan adalah sebuah kesalahan fatal.  Karena ayat-ayat Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri, dan perlu ada penafsir yang memahaminya.

Kesalahan Dian dalam memahami ajaran-ajaran Islam membuat pemikirannya cupet, ekslusif, dan enggan mau menerima masukan dan pendapat orang lain. Ini yang menjadi salah satu ciri dari gerakan ekstimis dan radikalis. Akhir-akhir ini perlu diwaspadai gerakan-gerakan yang memiliki cara pandang dalam memahami agama seperti Dian, khususnya eks HTI dan eks FPI yang disamping memilki paham keagamaan yang ekslusif radiakl seperti Dian, juga memiliki dendam kusumat kepada pemerintah karena organisasinya, yang terlibat dalam aksi radikalisme dan terorisme, telah dibubarkan. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!