Salafi Wahabi: Satu Digit Lagi Menjadi Teroris

1
122

Sangkhalifah.co — Terorisme masih menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Bahkan, seminggu terakhir Densus 88 banyak mengungkap jejaring terorisme di berbagai tempat. Apalagi pasca peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, persembunyian teroris terungkap secara nyata di banyak wilayah di Indonesia. Disambung dengan peristiwa penyerangan Mabes Polri oleh Zakia Aini, yang disebut-sebut sebagai teroris yang berkaitan dengan ISIS. Meskipun beberapa pakar menyebut tindakan teror ZA sebagai lone wolf teroris.

Said Aqil Siraj mengomentari fenomena terorisme yang terjadi di Indonesia sebagai bentuk pengejawantahan gerakan Salafi Wahabi. Pernyataan yang membuat sebagian orang yang selama ini loyal dengan Wahabi panas dan memerah. Bahkan sebetulnya, sudah lama beliau menegaskan kalau gerakan Salafi Wahabi itu satu digit lagi menjadi teroris. Ketum PBNU itu tegas menyatakan bahwa semua teroris di Indonesia pintu masuknya adalah Salafi Wahabi.

Najih Arromadhoni, Ketua Persatuan Pelajar Islam Suriah, juga menyebut hal yang sama dengan apa yang disebut Kiai Aqil Siraj itu. Semua teroris yang ada di Indonesia, kata beliau, pernah menjadi Salafi Wahabi. Ia menyebut memang bahwa gerakan terorisme yang selama ini ada di Indonesia induk gerakannya adalah Jama’ah Islamiyyah (JI). Yang menjadi soal, JI sendiri merupakan gerakan teroris yang banyak terinspirasi dengan pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, tokoh Wahabi.

Dalam melancarkan pergerakan terornya, JI memiliki buku-buku induk yang disebut dengan Panduan Umum Perjuangan Jama’ah Islamiyyah (PUPJI). Di dalam buku gerakan teror ini banyak ajaran-ajaran yang sama dengan ajaran-ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahab di dalam kitab At-Tauhid yang ditulisnya, seperti tahkim, jihad, larangan riba, pemurnian Islam, negara akidah, dan lain sebagainya. Najih juga pernah menyebut, ajaran dalam kitab-kitab PUPJI terinspirasi kuat dari ajaran-ajaran Wahabisme. Artinya, terorisme yang ada di Indonesia mulanya terinspirasi dari ajaran Wahabi.

Alasan lain mengapa Salafi Wahabi menjadi motor penggerak terorisme di Indonesia karena gerakan ini juga memiliki keterkaitan dengan ISIS, gerakan teroris global yang sudah dicap oleh PBB sebagai gerakan teroris. Kita tahu betapa terorisnya ISIS. mereka menenggak banyak kepala orang-orang yang tak berdosa dengan mengatasnamakan jihad. Nah, Salafi Wahabi memiliki keterkaitan dengan ISIS. Saat pertama ISIS menyerang kota Mosul di Irak, pertama kali yang disebarkan mereka adalah kitab At-Tauhid. So, gerakan teroris ISIS tidak bisa dikesampingkan dengan ajaran Salafi Wahabi.

Secara mudah pun sebetulnya bisa ditebak, mengapa Salafi Wahabi menjadi pintu masuk gerakan teror ini. Dari segi ajaran-ajarannya, banyak yang sama antara ajaran teroris dan ajaran Salafi Wahabi. Misalnya, keduanya sama-sama berideologi tahkim, gemar menyalahkan, bahkan mengkafirkan siapa saja yang tidak satu pemahaman dan keyakinan. Kedua, keduanya sama-sama bercita-cita memurnikan akidah Islam untuk semua lini, baik dalam hal keagamaan maupun kenegaraan. Dan ketiga, keduanya sama-sama hanya meyakini dan mempraktikkan jihad dalam bentuk qital, peperangan fisik, tidak makna-makna yang lain.

Sebagai bangsa yang taat pada para pendiri bangsa memang kita tak boleh membenci siapa pun, termasuk kepada Salafi Wahabi yang terbukti menjadi pintu masuk terorisme di Indonesia. Bagaimana pun semua orang adalah saudara. Bahkan bila tidak satu agama dengan kita sekalipun. Sebab bila seseorang tidak satu saudara dengan kita karena agama dan keimanan, mereka adalah satu saudara sebangsa dan setanah air. Tetapi menyudahi aksi-aksi terorisme adalah sebuah keharusan yang perlu dilakukan oleh siapa saja. Dan, cara paling mudah adalah menutup pintu masuknya, menutup berkembangnya ideologi Salafi Wahabi. []

Leave a reply

error: Content is protected !!