Salafi-Wahabi dan HTI yang Memupuk, Kelompok Teroris yang Memanen (2)

3
590

Sangkhalifah.co — Media sosial mempermudah kelompok fundamentalis dan radikal-teroris dalam melakukan infiltrasi ke berbagai sudut dengan target lintas generasi. Kesamaan mereka tampak dalam memperjual belikan narasi-narasi keagamaan dan hanya berbeda dalam bungkusnya. Kelompok yang melakukan infiltrasi ke lembaga/institusi negara akan menggunakan narasi yang soft (lembut/halus), sedangkan kelompok teroris akan menggunakan narasi yang hard (keras). Penggunaan narasi agama oleh kedua belah pihak bukan dalam rangka memberikan sumbangan bagi stabilitas suatu negara tetapi—meminjam istilah Glenn M Vernonsebagai contibute to strain. Dalam ketegangan mereka akan dapat mengambil ragam keuntungan; solidaritas/kader dan materi.

Mereka menyadari bahwa Indonesia sebagai the meeting place of world religions. Tanpa jualan agama maka gerakan mereka tidak akan berkembang. Mereka saling berlomba dalam mempengaruhi seseorang yang terkategorikan individual violence (radikalisme individual) untuk ditarik ke group or collective violence (radikalisme kelompok). Sangat jarang, para terduga yang ditangkap polisi (khususnya Densus 88) masuk ke sebuah kelompok (radikal-teroris) tanpa di dalam dirinya telah bersemai bibit intoleransi atau tergolong berpikir secara rigid. Misalnya Arif Budi Setyawan (dikenal Arif Tuban; eks Jamaah Islamiyah).

Teorinya sederhana, “dalam dunia kelompok radikal-teroris, proses radikalisasi menunjukkan jalan pikiran mereka yang sangat sempit. Semakin sempit pemikirannya, semakin cepat teradikalisasi.” Begitu petuah Arif Budi Setyawan. Sebab itu, saya termasuk yang konsisten berpendapat bahwa faktor utama tergelincirnya seseorang pada kelompok fundamentalis/radikal-teroris adalah “cara memahami agama”, kemudian faktor lainnya sebagai pendukung seperti kondisi psikologi yang merasa asing (estranged), sosio-geografis, ekonomi dan lainnya.

Indonesia dikategorikan sebagai penduduk yang gairah masyarakatnya untuk beragama cukup tinggi. Maka narasi keagamaan menjadi aspek penting bagi mereka dalam mengganggu stabilitas negara dan semakin tinggi gairah beragama maka peluang radikalisasi sangat besar. Dan internet dijadikan sebagai katalis untuk kekerasan serta alat propaganda yang efektif untuk mendapatkan dukungan, simpatisan dan kader. Dan situasi ini yang dimanfaatkan oleh Santoso (pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur) dan Bahrun Naim (dari Hizbut Tahrir ke ISIS). Mereka-mereka telah mentransmisikan pesan secara virtual untuk memengaruhi individu-individu dan komunitas di media sosial.

Tiga tujuan utama penggunaan media sosial, yaitu: propaganda, radikalisasi dan rekrutmen. Dalam gerakan radikal-teroris dikenal strategi penargetan atau narrowcasting. Sebuah pesebaran pada segmen tertentu sesuai nilai, preferensi, atribut demografi dan kecenderungan seseorang. Salah satu akibat buruknya, terciptanya para pelaku aksi lone-wolf terrorist. Mereka teradikalisasi disebabkan pengaruh-pengaruh cerita seperti “jihadis inspirasional”, yang disebarkan untuk melahirkan sentiman keagamaan. Dan inilah yang dilakukan sampai sekarang oleh sel-sel ISIS dan Hizbut Tahrir Indonesia. Beberapa produsen yang dikenal oleh para jihadis, misalnya Mulia Media, Muqawamah Media dan lainnya.

Ketika potensi seseorang telah terbaca oleh masing-masing kelompok radikal-teroris, maka mereka akan dimasukkan sebagai target utama. Dan untuk menjadikan mereka sebagai kader dan anggota melalui proses baiat, tidak perlu berjumpa karena bisa dilakukan secara online. Inilah yang saya sebut sebagai “generasi klik”. Dan kelebihan pencucian otak di media sosial, ketika tertangkap dia bisa beralibi tanpa menyebut diajari oleh seseorang. Misalnya mereka-mereka yang terakses ke Forum Jihad Al-Taubah yang dikenal sebagai “kamp online tertutup” (isinya merupakan rilisan dari fórum jihad internasional seperti Al-Hisbah, Al-Fida, Al-Samikh, Anshar Mojahideen dll).

Mereka Saling Membutuhkan dan Melengkapi

Dalam tulisan saya sebelumnya (klik: Infiltrasi Kelompok Fundamentalis), mereka yang melakukan infiltrasi ke lembaga/institusi pemerintah masih dalam tahap “persiapan” berupa transfer of knowledge atau “pembangunan dan penyebaran ideologi” yang tujuannya untuk “mengubah pola pikir” dan “menanamkan sikap oposisi” (khususnya yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia), maka kelompok radikal-teroris melakukan ragam upaya “filterisasi” individu-individu. Mereka merekrut orang-orang, utamanya yang tercuci otaknya oleh khayalan kemegahan jika menerapkan khilafah, Negara Islam, mau melakukan jihad, telah melakukan hijrah (yang di koar-koarkan di media sosial).

Jadi terkadang, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia dan Salafi-Wahabi yang memupuk/mengkader tapi yang memanen adalah kelompok Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansorut Daulah dan ISIS. Karena kelompok radikal-teroris sangat canggih dalam mempoles orang-orang yang telah terbuai oleh sistem Khilafah Islamiyah. Disini memang, tujuan dari kelompok radikal-teroris selain “mengubah pola pikir” yang dilakukan oleh Salafi-Wahabi dan HTI, mereka ingin membentuk kader-kader yang lugas dalam berpendapat.

Semua kelompok fundamentalis dan radikal-teroris dalam tahap “penyebaran ideologi” menjadikan firman Tuhan dalam Qs. Al-Hijr [15]: 94, yang berbunyi “maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” sebagai landasan fundamental. Mereka memahami ayat tersebut dengan salah. Dengan begitu, maka kaum radikal-teroris tidak segan-segan dalam membuat narasi seputar pembedaan antara yang mukmin, kafir dan munafik.

Saling melengkapi inilah yang terjadi sampai hari ini. Mereka bisa berbeda secara wadah tapi saling men-support dalam gerakan sebagaimana pendapat saya dalam video soal HTI, FPI dan FUI. Dalam konteks umum, support gagasan dilakukan antar-kelompok. Maka pernyataan “tidak semua ikhwan Salafi-Wahabi itu teroris, tapi semua teroris pasti berpaham Salafi-Wahabi” benar adanya. Seperti “tidak semua aktivis yang mendukung khilafah itu teroris, tapi semua teroris itu mendukung khilafah sebagai sistem negaranya kelak”.

Karena kelompok radikal-teroris tidak mungkin merekrut seseorang untuk “jihad bersenjata” jika di dalam benaknya tidak tertanam pemikiran: penguasa kita kafir, musyrik, murtad, zindiq dan lain sebagainya (sesuatu yang bagi mereka merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya). Tanpa doktrin itu maka fungsi—meminjam perspektif Jamaah Islamiyah—“memberantas kekuasaan yang selalu menghalangi dakwah Islam, memberantas kezaliman, menghinakan dan menggetarkan musuh-musuh Allah” tidak akan terwujud.

Fakta kongkrit dalam support antar gagasan ini, maka saya menjadikan Brigadir Syahputra dan Bripda Nesti Ode Sami. Mereka terpapar sejak gencar-gencarnya gerakan Polisi Cinta Sunnah menyusup ke internal kepolisian. Mereka tidak bisa dibuktikan secara keanggotaan karena memang Polisi Cinta Sunnah tidak memiliki kartu anggota, tetapi sebaran pemahaman tentang mukmin dan kafir, beragama yang totalitas, penebar syirik dan bid’ah, penebar syubhat dan ragam doktrin yang mengarah kepada “manhaj takfiri” membuat keduanya berlabuh ke kelompok teroris dan meninggalkan baju kepolisiannya.

Kelompok Salafi-Wahabi yang beraliran Hijazi/Yamani, yang masuk ke internal polisi tidak mewadahi medan perjuangan, maka kedua eks anggota polisi itu mencari wadahnya; Brigadir Syahputra bergabung ke ISIS dan Bripda Nesti Ode Sami bergabung ke JAD di bawah kepemimpinan Abu Zee Ghuroba. Ketika kelompok ISIS dan JAD menerima mereka berdua, tinggal menambah satu materi yakni jihad, sedangkan dua materi lainnya tentang hijrah dan tauhid (perspektif Muhammad bin Abdul Wahab; tokoh Wahabi) telah didapatkan sebelumnya. [Bersambung]

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!