Salafi-Wahabi Anti Teroris! Tapi Teroris Bermanhaj Salafi-Wahabi

0
1263

Sangkhalifah.co — Indonesia yang mayoritas Islamnya menjadi kebanggaan di internal Islam sekaligus memiliki fakta dilematis. Fakta mayoritas dengan ciri khas kelembutan hati, prasangka baik dan kedermawanan ini dimanfaatkan kelompok-kelompok transnasional seperti Hizbut Tahrir Indonesia, kelompok teroris seperti Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Daulah atau teroris lokal MIT dan sejenisnya. Juga kelompok Salafi-Wahabi dalam melakukan virusisasi doktrin Muhammad bin Abdul Wahabi (pendiri Salafi-Wahabi) di penjuru-penjuru yang NU-Muhammadiyahnya lemah. Tak ketinggalan juga virus takfirisme yang menyemat dalam mindset seorang radikal-teroris.

Salah satu dalil yang digunakan Salafi-Wahabi dalam menyakinkan masyarakat bahwa mereka bukan kelompok penyumbang terbesar dalam jaringan teroris adalah hadis “siapa yang membunuh dirinya dengan besi maka besinya berada di tangannya dan dia tusukan ke perutnya di neraka jahannam dalam keadaan kekal selama-lamanya di dalamnya.” Tapi ingatkah, salah satu kitab yang dijadikan pedoman kaum radikal-teroris adalah salah satu karya pendiri Salafi-Wahabi. Namanya kitab Nawaqidhul Islam (Pembatal Keislaman), yang juga di-syarah oleh tokoh junjungan simpatisan Salafi-Wahabi yakni kitab Syarh Nawaqidhul Islam karya Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan. Dalam versi Indonesia juga diterjemahkan oleh simpatisan Salafi-Wahabi, Abu Hamzah Abdul Majid, diterbitkan di Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta.

Dalam data terkait penangkapan kaum teroris, jika ditemukan ada buku terkait doktrin, maka ditemukan buku-buku yang penulisnya terafiliasi dengan tokoh-tokoh Salafi Jihadi. Kalau tidak, ditemukan buku-buku terkait doktrin penegakan Khilafah Islamiyah. Artinya, mereka tidak memproduksi teroris tetapi bahan ajar/buku-buku yang ditulis tokoh-tokoh Salafi-Wahabi maupun pegiat Khilafah Islamiyah menginspirasi kaum teroris di Indonesia. Sebab dari buku-buku dan narasi-narasi yang dikemas di media sosial menjadi penyumbang terbesar dalam merubah cara beragama seseorang.

Berdasarkan fakta-fakta yang ada, maka tidak berlebihan jika kita juga mewaspadai penyusupan Salafi-Wahabi pada institusi kepolisian dengan Polisi Cinta Sunnah (yang kini berubah nama menjadi “Pembelajar Cinta Sunnah). Mereka hanya berganti topeng tetapi gerak senyap dan taqiyah menjadi strategi yang signifikan mereka lakukan. Disini pun kita membutuhkan ketegasan kepolisian dalam melakukan investigasi secara berkelanjutan terhadap gerak senyap atau infiltrasi yang dilakukan oleh kelompok transnasional. Begitu pula yang masuk ke tubuh militer. Sesungguhnya hal ini tidak bisa dianggap sederhana atau mengatakan mereka tidak berbahaya hanya karena melihat sisi permukaannya saja.

Pasca pergantian nama ditubuh PCS, semua media sosial mereka masih terus melancarkan narasi-narasi anti terhadap tradisi yang kerap dilakukan NU-Muhammadiyah (kelompok yang made in Indoensia). Karena bagi mereka tradisi-tradisi kenusantaraan bisa menghambat tugas-tugas dari tokoh-tokoh Salafi-Wahabi dalam menyebarkan paham Muhammad bin Abdul Wahab dan tokoh Salafi-Wahabi lainnya.

Kelompok fundamentalis dan radikal-teroris memang memegang teguh pernyataan Sayyid Qutb yang melegenda, “peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sebab itulah, kerja kontra radikal-teroris harus memadukan kerja nyata dan maya (media sosial). Dimana dalam data, rata-rata channel radikal 28 kali/hari, channel intoleran 16 kali/hari, dan channel moderat 26 kali/hari dalam meng-upload sebuah narasi yang terkategorikan “ajakan” dan “pergerakan”.

Memang bukan rahasia umum jika Salafi-Wahabi bermuka dua. Mereka mengharamkan kudeta terhadap pemimpin yang sah di sebuah negeri karena bagi mereka dianggap sebagai bentuk maksiat kepada seperti yang diutarakan tokoh Salafi-Wahabi Abdul Aziz Ar-Rayyis. Tapi disisi lain mereka mengharamkan menyanyikan lagu Indonesia Raya atau hormat bendera, karena dianggap bagian dari bentuk syirik kecil atau berpotensi menjadi syirik besar.

Tak jarang pula, semburan narasi untuk tidak mengolok-ngolok praktik yang mereka lakukan, namun sembari melakukan semburan narasi terhadap praktik-praktik yang dilakukan NU-Muhammadiyah. Misalnya juga, mereka mengharamkan fanatisme tapi mereka sembari melakukan fanatisme terhadap tokoh-tokoh mereka. Sebab itulah, Muktamar Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah se-dunia yang digelar di Chech, menolak dan mengeluarkan sekte Salafi-Wahabi bentukan Saudi Arabia dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Keputusan itu sepatutnya menjadi inspirasi ulama-ulama Indonesia untuk mengeluarkan keputusan serupa sebelum Indonesia tenggelam dalam virus Salafi-Wahabi di penjuru-penjuru Indonesia. Jangan sampai, ulama-ulama Indonesia hanya berani mengeluarkan keputusan terhadap aliran Syiah sedangkan Salafi-Wahabi tidak berani. Padahal, yang membuat perseteruan terhadap Sunni-Syiah adalah tokoh-tokoh Salafi-Wahabi itu sendiri hingga hari ini. Sebab itulah, pasca ragam fatwa terhadap Syiah, kelompok yang paling gemberi adalah Salafi-Wahabi. Mengapa? itulah yang diinginkan mereka sebagai saingan dalam dunia pergerakan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!