Salafi di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya

1
996

Sangkhalifah.co — Gerakan salafi mulai gencar masuk ke Indonesia di awal dekade 1980-an, dua lembaga yang diketahui paling santer memperkenalkan metode salafus salih kepada masyarakat Indonesia adalah Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA). Keduanya mendapat dukungan besar dari lembaga-lembaga donor di Timur Tengah yang memungkinkan mereka untuk memberi beasiswa hingga mensponsori kegiatan dakwah salafi di Indonesia, mulai dari pendirian sekolah, yayasan, pondok pesantren, lembaga kursus Bahasa Arab hingga rumah sakit. Para donor juga membiayai banyak kegiatan dakwah yang dilakukan oleh pada kadernya, mulai dari ceramah keagamaan, tablig akbar, halaqah hingga daurah. Ceramah-ceramah para kader Salafi itu banyak yang direkam dalam bentuk kaset, VCD, DVD dan live streaming untuk kemudian disebarkan ke masyakat bersamaan dengan buku, majalah, hingga jurnal produksi mereka.

Khusus untuk LIPIA, lembaga ini adalah cabang dari Universitas Imam Muhammad ibn Saud Riyad di Arab Saudi. Di awal berdirinya, LIPIA dipimpin langsung oleh Syeikh Abdul Aziz Abdullah al-Ammar, murid tokoh utama salafi Syeikh Abdullah bin Baz. Syeikh Abdul Aziz membawa serombongan orang Arab lain untuk menjadi pengajar di lembaga itu.

Berbeda dengan kebanyakan lembaga pendidikan lainnya, LIPIA langsung menyedot perhatian banyak orang. Sebabnya, mereka menawarkan banyak beasiswa, tak hanya uang kuliah, tetapi juga uang saku yang jumlahnya lumayan. LIPIA juga menjanjikan banyak fasilitas dan jaringan agar para alumninya bisa meneruskan kuliah di jenjang magister dan doktoral di Arab Saudi.

Benar saja, banyak alumni LIPIA yang berangkat melanjutkan kuliah di jenjang yang lebih tinggi ke negeri Gurun Pasir tersebut, beberapa di antara mereka bahkan menjadi tokoh-tokoh salafi yang cukup diperhitungkan saat ini.  Di antaranya adalah Yazid Jawwas yang kini menjadi pentolan di Minhaj us-Sunnah Bogor; Farid Okbah, direktur al-Irsyad Jakarta; Ainul Harits, Yayasan Nida”ul Islam, Surabaya; Abubakar M. Altway, Yayasan al-Sofwah, Jakarta; Ja’far Umar Thalib, pendiri Forum Ahlussunnah Wal Jamaah, Yogyakarta; dan Yusuf Utsman Baisa, direktur Pesantren al-Irsyad Tengaran, Semarang.

Di antara nama-nama tokoh di atas, Ja’far Umar Thaliblah yang disebut banyak kalangan sebagai perintis gerakan dan dakwah salafi di Indonesia. Ja’far dikenal sebagai tokoh salafi dengan gaya berpikir dan dakwah yang keras. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya di Dammaz, Yaman. Di sana, ia berguru langsung pada salah satu tokoh salafi puritan Syeikh Muqbil ibn Hadi al-Wad’i. Meski begitu, tak semua pengikut salafi beraliran keras, Yusuf Utsman Baisa misalnya, cenderung lebih halus. Ia belajar di Arab Saudi kepada para ulama Sahwah Islamiyah yang kental dengan pengaruh Ikhawanul Muslimin. Di kemudian hari, Ja’far dan Yusuf kerap terlibat dalam konflik.

Mengenal Salafi

Salafi yang berkembang saat ini diartikan sebagai gerakan mengembalikan semua keputusan kepada al-Quran dan Sunnah dengan mengikuti pendapat dan pola pikir keagamaan seperti Ibn Taimiyah (1263-1328), Ibn Qayyim al-Jauziyah (1292-1350), Husein al-Dzahabi (1284-1348), Ibn Katsir (1300-1373), Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792), dan ulama-ulama modern, seperti Abdul Aziz Bin Baz (1912-1999), dan Muhammad Nashiruddin al-Albani (1914-1999). Sedangkan ajaran yang dikembangkannya yaitu mengenai trilogi tauhid, al-wala wa al-bara, dan lain sebagainya.

Gus Dur dalam Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (2009) menyebut salafi sebagai gerakan garis keras lantaran mengusung semangat purifikasi agama, yakni memurnikan agama dengan hanya berlandas pada teks Alquran dan hadis tanpa mengindahkan konteks sosial-budaya masyarakat setempat. Salafi memang menolak keras praktik-praktik keagamaan yang mereka anggap tak tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran dan hadis serta tak pula dipraktikkan oleh para salafus salih; mereka menyebut praktik-praktik tersebut sebagai bidah. Kerap kali, kelompok salafi merasa sebagai pelaksana ajaran Islam yang paling benar sehingga kelompok lain dianggap menyimpang atau bahkan keliru; murtad, kafir, dan lain sebagainya.

Jenis-Jenis Salafi

Sebagai sebuah gerakan dan paham keagamaan yang besar, salafi bukanlah entitas dengan wajah tunggal, ia muncul dalam berbagai rupa. Hingga kini, terdapat setidaknya enam jenis salafi, yakni salafi politik (haraki), salafi jihadi (mujahidin), salafi dakwah, salafi tradisionalis, salafi reformis dan salafi post-modern. Berikut penjelasan untuk masing-masing jenis di atas:

  • Salafi Politik: jenis ini memiliki tujuan utama merebut kekuasaan untuk kemudian diubah haluannya agar sesuai dengan syariat Islam. Isu utama yang kerap digunakan adalah formalisasi syariah Islam. Salafi jenis ini kerap melakukan berbagai upaya politis untuk menjegal pemerintahan yang dianggap tak menjalankan syariat Islam. Mereka tak segan-segan mengafirkan pemimpin yang tak menjalankan syariat Islam. Wujud jenis ini dapat dilihat pada Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hamas di Palestina, Partai Keadilan (AKP) di Turki dan PKS di Indonesia.
  • Salafi Jihadi: fokus salafi jenis ini adalah jihad–yang sebenarnya adalah jahat. mereka merebut kekuasaan tidak melalui jalur politik, tetapi jalur ‘jihad’ yang penuh dengan aksi kekerasan dan bahkan terorisme. Representasi salafi jenis ini dapat dilihat pada kelompok Al Qaeda, Jamaah Mujahidin, Taliban, Jamaah Islamiyah, ISIS hingga JAD dan JAT di Indonesia. Bagi jenis ini, jihad tak hanya diartikan sebagai upaya mempertahankan diri, tetapi ekspansionisme militeristik.
  • Salafi Dakwah: Jenis ini fokus menyebarkan ajaran agama sesuai dengan manhaj salafi, tak mengedepankan isu politik (kekuasaan), hanya fokus pada ritual dan pemurnian akidah. Yakni dengan membersihkan ritual keagamaan dari bidah, takhayul, filsafat, dan hal-hal lain yang dipandang dapat merusak kemurnian agama. Gerakan ini mulai populer di Indonesia, terutama setelah banyak selebritas terlibat dalam gerakan dakwah ini. Mereka menggelorakan gerakan hijrah–yang sebenarnya tak lebih dari sekadar berganti gaya berpakaian.
  • Salafi Tradisional: jenis ini kerap diartikan sebagai salafi yang mampu mengakomodasi tradisi setempat. Karenanya, jenis ini tak tertarik pada isu formalisasi syariat atau bahkan perebutan kekuasaan, mereka menolak segala bentuk kekerasan dan lebih mengedepankan dakwah nilai-nilai esensial dalam agama yang bermuara pada pemuliaan manusia. Di Indonesia, salafi jenis ini tampak pada kelompok NU.
  • Salafi Progresif: Salafisme progresif bertujuan bukan sekedar mendakwahkan Islam yang substantif, tetapi juga berupaya beradaptasi dengan kemajuan zaman. Dalam persoalan akidah, mungkin bersepakat dengan Wahabisme, tetapi dalam persoalan muamalah, salafisme ini cenderung berwawasan terbuka dan tidak menolak modernisasi. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi di lingkungan salafisme progresif adalah pro-kemanusiaan, pro-orang miskin dan pembangunan umat melalui pendidikan. Wajah salafi jenis ini dapat dilihat pada kelompok Muhammadiyah.
  • Salafi Post-Tradisional: kategori ini merujuk pada kelompok yang tradisi keagamaannya masih menginduk pada ulama-ulama nusantara –terutama dari kalangan salafi tradisionalis—tetapi secara gerakan mereka tidak anti terhadap kekerasan dan berbagai gerakan keagamaan populis lainnya, seperti aksi demonstrasi 212, FPI dan NU GL (Garis Lurus). Beberapa kalangan bahkan menyebut NU GL sudah tidak alergi terhadap gerakan dan doktrin wahabisme.

Konflik di Tubuh Salafi Indonesia

Kelompok salafi yang ada di Indonesia nyatanya memang sangat beragam, mereka diselimuti oleh banyak kepentingan yang tak jarang justru menyulut bara di tubuh mereka sendiri. Setidaknya, ada tiga konflik yang pernah terjadi di tubuh salafi Indonesia, yakni aksi saling kecam antara kelompok salafi, utamanya yang terpecah dalam kelompok puritan dan sururi yang berambisi mendirikan negara Islam. Konflik berikutnya adalah ketegangan dalam hubungan guru—murid lantaran sang guru menganggap muridnya telah menyimpang. Konflik ini tampak pada perseteruan Ja’far Umar Thalib dengan Muhammad Assewed dan Yazid Jawwas. Kedua tokoh tersebut terbilang mantan murid-murid Ja’far Umar Thalib, tetapi kini hubungan guru—murid tersebut kian memburuk, mereka bahkan saling membidahkan satu sama lain.

Konflik ketiga adalah perdebatan antara para ulama salafi. Mereka kerap berdebat tentang banyak hal, baik pemahaman, ritual maupun orientasi ajaran keagamaan. Konflik di kategori ini kerap kali dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di Timur Tengah, karenanya tak heran, ketika di Timur Tengah dilanda konflik, pengaruhnya terasa sampai Indonesia.

Sebagian kelompok salafi bahkan tampak jelas melakukan taqlid (membebek) buta terhadap ulama atau tokoh idola di Timur Tengah, mereka jarang mau bersikap kritis terhadapnya. Pada tahun 2004 misalnya, Umar as-Sewed berseteru dengan Abdul Khaliq lantaran ia dianggap mendiskreditkan pemimpin Arab Saudi. Umar, sebagaimana bin Baz dan Utsaimin, bahkan menyebut Abdul Khaliq sebagai “orang munafik nomor satu” dan layak disebut sebagai “thagut”.

Ancaman Salafi

Berdasarkan jenis-jenis salafi yang telah disebutkan di atas, kelompok salafi yang menjadi ancaman adalah salafi jihadi dan salafi politik. Dalam konteks salafi jihadi, banyak pihak menyebut bahwa kelompok ini sebenarnya adalah kamuflase dari kelompok Wahabi. Said Ramadhan al-Buthi dalam As-salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islami menyebut bahwa kelompok Wahabi sengaja mengganti nama menjadi salafi agar bisa diterima masyarakat luas. Nama Wahabi dipandang tak lagi menjual, banyak orang sudah anti terhadap ajaran dan gerakan Wahabi. Karenanya mereka berganti nama. Kalangan salafi yang menolak paham dan gerakan salafi jihadi kerap menyebut mereka sebagai salafi mutamaslif alias palsu.

Dalam praktiknya, kelompok salafi jihad terupakan dalam aksi-aksi radikalisme dan terorisme. Sebabnya, mereka membolehkan penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan utama, yakni merebut kekuasaan yang sah dan menggantinya dengan sistem pemerintahan yang dianggap sesuai dengan syariat Islam.

Ancaman lain datang dari salafi politik. Berbeda dengan salafi jihadi, kelompok politik lebih susah dikenali sebab mereka berkelindan dalam banyak kelompok dan agenda politis. Meski begitu, gerakan utama mereka mudah dikenali, salah satunya adalah semangat melakukan formalisasi syariat Islam dalam berbagai peraturan dan kebijakan pemerintah. Gerakan kelompok politik memang tidak se-frontal kelompok ‘jihadis’, tetapi pengaruh yang mereka timbulkan jauh lebih berbahaya sebab fokus mereka adalah perubahan dalam ranah struktural. [DN]

Leave a reply

error: Content is protected !!