Sakitnya Iman Para Pejuang Khilafah

2
341

Sangkhalifah.co — Dalam Islam masyhur dikenal istilah adagium “al-îman yazîd wa yanqush; iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang”. Dalam konteks ekslusivitas beragama, iman dapat berkurang dengan dorongan seseorang atau komunitas untuk me-liyan-kan faham atau keyakinan orang lain yang berbeda. Cendekiawan Muslim Imam Masduqi juga pernah menegaskan bahwa iman yang berkurang sama dengan istilah iman yang tertutup, di mana iman demikian seringkali memberangus adanya kebhinekaan dan keanekaragaman hidup. Iman memang dapat membuat seseorang lebih dekat dengan Tuhannya. Akan tetapi iman yang tertutup akan membuat manusia sombong, bahkan pada titik merasa paling benar dalam beragama.

Iman yang tertutup sangat relevan jika dipredikasikan kepada para penyeru khilafah. Ada beberapa hal sehingga istilah tersebut cocok disematkan kepada para penyeru negara Islam transnasional itu. Yang pertama, sebagaimana di atas, para penyeru khilafah gemar merasa paling benar sendiri dan menyalahkan yang liyan dari kelompoknya. Para penyeru khilafah merasa bahwa khilafah Islamiyyah yang diperjuangkannya adalah sistem paling suci, paling sempurna, sampai kadang diframming melebihi kesempurnaan Islam itu sendiri. Para penyeru khilafah kemudian mengkafirkan kelompok di luar dirinya. Mereka menganggap taghut Pancasila dan demokrasi. Demikian itu tidak lain karena iman yang sakit dari para penyeru khilafah. Sebab iman yang sehat tidak akan pernah menyalahkan kelompok lain, menjudge salah ijtihad lain, sebab yang berhak men-judge hanyalah Allah.

Sakit iman itu semakin relevan ketika para penyeru khilafah selalu mengkampanyekan khilafah untuk persoalan apapun di dunia ini, bukan hanya persoalan di dunia, bahkan masalah akhirat. Seseorang akan masuk surga jika ia meyakini dan mengimani khilafah. Ia juga akan masuk neraka ketika menolak konsep khilafah. Padahal, dalam soal keimanan, derajat seseorang hanya diukur melalui ketakwaannya. Takwa menjadi pertimbangan Islam menilai apakah seseorang layak mendapat surga atau neraka. Berbeda dengan para penyeru khilafah, karena sakitnya iman, mereka mengukur semuanya dengan khilafah. Khilafah seolah-olah melebihi ketakwaan, bahkan mengungguli Islam.

Muhammad Arkoun mengistilahkan keimanan yang sakit atau tertutup dengan istilah al-‘aql al-dugma’i al-mughallaq; sebuah nalar beragama yang dogmatis lagi terkunci. Sebagaimana para penyeru khilafah, mereka memahami khilafah sebagai dogma yang membeku, yang tidak adaptif dengan zaman. Khilafah seolah sudah terkunci yang tidak bisa diapa-apakan. Karakteristik para penyeru khilafah yang sakit iman ini tidak bisa membedakan mana wilayah agama autentik yang sifatnya terbuka, dengan pemikiran keagamaan yang teradikalisasi oleh pemikiran mereka sendiri. Pemahaman khilafah yang sudah terideologisasi dengan cara reduktif bahkan manipulatif itu distigmakan sebagai pemahaman langsung dari syariat Allah. Iman mereka sakit, tak mampu membedakan mana agama dan mana pemikiran keagamaan.

Di lain kesempatan Abid Al-Jabiri menyatakan bahwa iman yang sakit adalah iman yang tertutup oleh cadar-cadar negatif pemikiran negatif yang menyelimuti seseorang. Begitulah para penyeru khilafah. Mereka tertutup dari keilmuan yang luas, komprehensif, dan menyeluruh akan pemahaman Islam dan sejarah Islam, terutama soal khilafah di masa sahabat hingga Turki Usmani.

Bobroknya khilafah dengan banyaknya peristiwa pembunuhan, korupsi, saling mengkudeta, dianggap sebagai sesuatu yang tidak ada oleh para penyeru khilafah. Tirai kejahatan mencuci otak mereka sehingga enggan mau membuka mata lebar-lebar sejarah otentik dalam Islam. Iman para penyeru khilafah memang sakit. Keburukan-keburukan dalam sejarah Islam selalu dikubur dalam-dalam untuk memuluskan keinginan nafsu politiknya, dan selalu mengatasnamakan agama.

Para penyeru khilafah memang cukup tepat diberi predikat sebagai golongan yang sakit iman. Buktinya, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa iman seharusnya terbuka, toleran, sehingga bersifat dialogis dan empatik (wa jâdilhum bi-allati hiya ahsan) QS. [16]: 25, di samping juga iman yang terbuka atau tidak sakit ini menghargai perbedaan keyakinan (lakuk dînukuk waliyadîn) QS. [109]: 6. Dengan demikian, jelas bahwa Al-Qur’an menolak para penyeru khilafah yang mengklaim sebagai umat yang paling utama sembari menyalahkan, menganggap kufur/taghut, kelompok liyan. Karena menurut Gamal Al-Banna pun, Al-Qur’an adalah kitab yang mengafirmasi soal pluralitas dan pluralisme. Berbeda dengan para penyeru khilafah, mereka sakit iman, mereka mengkavling surga dan neraka di tangan mereka, dengan pertimbangan khilafah yang diyakininya.

Yusuf Al-Qardhawi dalam pernyataannya menegaskan bahwa iman yang tertutup atau sakit iman ini adalah iman yang tertutup oleh fanatisme bermazhab (al-ta’âshub al-mazhabî), yang merupakan salah satu pemicu lahirnya radikalisme. Bahkan, iman yang sakit seperti para penyeru khilafah ini bertentangan dengan spirit beragama yang inklusif, terbuka dan toleran yang diajukan oleh Al-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad Ibn Hanbal. Al-Syafi’i rela shalat dengan tidak qunut karena shalat subuh di dekat makam Abu Hanifah yang tak menganjurkan qunut. Imam Malik pernah berkata: aku adalah manusia biasa yang bisa saja salah dan bisa saja benar. Sementara itu Ahmad Ibn Hambal pernah berkata: janganlah kalian bertaqlid kepadaku, tetapi teruslah belajar seperti kami. Pernyataan para imam di atas sebagai bukti akan keterbukaan dan bertambahnya iman mereka, tidak sepertinpara penyeru khilafah yang ekslusif, intoleran, pembenci kelompok lain yang berbeda, yang itu disebabkan karena iman yang sakit dan tertutup. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!