Ruh Lagu Indonesia Raya dan Para Ustadh Penggembos Nasionalisme

1
96

Sangkhalifah.co — Munculnya gelegak seruan kewajiban menyayikan lagu Indonesia setiap pagi pegawai karyawan semua instansi dan perusahaan di daerah istimewa Jogjakarta disambut gayung semangat oleh gubenur jawa tengah. seruan itu merupakan sebuah usaha yang sangat ekspektatif membangun sel kromosom ideologi keyakinan dasar kebangsaan dan penguatan akar kekuatan Nasionalisme. Teladan ini seharusnya di terapkan diseluruh wilayah atas komando kepala daerah yang benar benar mencintai negeri ini.

Setidak tidaknya artikulasi bibir yang menyuarakan lagu kebangsaan itu mampu menjadi kerak kerak mendarah mendaging dalam otak dan konsep kecintaan kita dan generasi penerus terhadap bangsa yang kita cintai. Selama alur nada Indonesia raya itu masih dikumandangkan selama itu pula masih akan terdengar suara suara Indonesia yang bertaburan menebar wewangian sampai tulang sumsung keutuhan NKRI ini. Nada nada kebangsaan itu harus terus menjadi silikon dan ditumbuhkan menjadi kekuatan dalam jiwa kita dan anak turun ini agar mereka mampu memahami mahalnya perjuagan leluhur.

Keguyuban nyanyian lagu Indonsia Raya dipagi hari yang menggelegar di seantero ini serasa indah seperti angin mamiri dan Sepoi Sepoi yang menerpa pepohonan beringin yang artistik yang melambangkan kekuatan akar ideologinya dan cabang kengsaanya serta ranting keaneka ragaman sukunya yang menyatu tidak runtuh walaupun diterjang badai khilafah yang membabi buta membenci bangsa melawan Negara tak tentu arah.

Kita harus tahu harokah eksodan gelap HTI dan Ikhwanul Muslimin serta komplotan pengaku Sunnah dan mujahid abal Abal itu masih akan terus menggerus Nasionalisme bangsa ini dan membayangi titik ruas persatuan bangsa ini. yakni dengan cara menebar dan mementahkan kecintaan negeri ini dengan mimbar dan atas nama Agama. Propaganda yang disampaikan manis mengiris agar kecintaan generasi dan warga negara kepada bangsanya menjadi tipis. bahkan menghujat Negara dengan kata kata lamis bahkan berbau amis.

Atas nama dakwah salaf dan Sunnah berjubah agama menisbatkan diri ustadz jebolan selebritis bahkan memproklamirkan diri sebagai muallaf dengan bangganya mencaci dan mencacati agama dahulunya mereka yang sejatinya, harus belajar banyak tentang Agama dari sanad dan riwayat. akhirnya mangkrak namun berfatwa membidahkan mengkafirkan dan menuduh syirik antar sesama dalam hal Agama. belum dalam loyalitas nasionalisme di mentahkan digembosi dengan membuat propaganda bahwa ” Nasionalisme tidak ada dalilnya” ini kan lucu dan membenturi Syaikhul Akbar Mbah Hasyim As’ari dan pendiri bangsa ini. yang mengkonsep adigium cinta tanah air sebagian dari iman.

Negara ini harus kita jaga dengan cara mencintainya jauhi jargon omong kosong atas nama agama, henyahkan yang ingin mengubah Pancasila menjadi negara agama, hempaskan para para pecandu khilafah walaupun berbaju agama karena Nabi tidak pernah memerintahkanya. Tumbuhkan nasionalisme pada anak anak kita agar bangsa ini aman dari haus darahnya bughot bunghat yang memecah belah bangsa. Cari majlis taklim yang menyejukkan lihat sanad dan riwayatnya. kalau tidak ketemu cari lagi dipesantren NU itu gudangnya kekuatan Nasionalisme, istiqamah lah pada guru guru kita yang masih punya klausul den Masyayikh pendiri bangsa agar hidup kita selamat negara aman sentosa. sekali lagi hiasi bumi Indonesia ini dengan lagu Indonesia raya.

*KH. Abdulloh Faizin, Ketua Yayasan Al-Balagh

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!