Rizieqisme, Mahfud MD dan Dakwah Destruktif FPI

0
235

Sangkhalifah.co — Akhir-akhir ini ruang publik kita disuguhi dengan ‘fenomena Habib Rizieq’, semenjak kedatangannya ke Indonesia awal bulan November yang lalu. Semenjak ia mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, ia sudah membuat polemik yang dentumannya menyebar ke seantero negeri. Di tengah situasi pandemi, ia beserta massanya telah melanggar protokol kesehatan Covid-19 yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, rizieq juga menyelenggarakan acara pernikahan anaknya yang secara prokes melanggar Social Distancing (berkerumun).

Berbagai respon tentang Rizieqisme (Fenomena sosial-politik berbasis Rizieq) seketika membanjiri ruang publik media, mulai dari kalangan artis, akademisi, hingga pejabat publik.  Banyak dari mereka yang merespon negatif terkait berbagai blunder aktivisme yang dilakukannya. Salah satunya, yang menarik perhatian penulis adalah respon MENKOPOLHUKAM, Prof. Mahfud MD dalam jumpa pers.

Mahfud MD, sejak dulu bahkan ketika sebagai pejabat publik terus konsisten merespon berbagai aktivisme dakwah yang dilakukan oleh Habib Rizieq. Meskipun bagi penulis dalam konteks komunikasi politiknya, Mahfud MD masih cukup berlebihan. Namun, keberanian dan ketegasan dalam merespon siapa saja yang melanggar hukum terkait dengan prokes Covid-19 perlu diacungi jempol.

Sebagai orang Madura, karakter Mahfud MD secara kultural apa adanya, bahkan dalam komunikasi publiknya seakan tanpa tedeng aling-aling. Hal ini pun berkelindan dengan hasil penelitian A. Lathif Wijaya dari Universitas Jember bahwa karakter orang Madura itu apa adanya, spontan dan terbuka. Karakter inilah yang menjadi sangu orang Madura dalam perantauan agar bisa bertahan dalam kondisi apapun.

Seketika respon Mahfud MD yang oleh sebagian pecinta Habib Rizieq dianggap sebagai pelecehan terhadap Imam Besar mereka. Selang beberapa hari kemudian massa FPI menggeruduk kediaman Mahfud MD, di Pamekasan Madura. Dalam konteks ini, aksi radikal sekelompok orang yang melampiaskan kebencian ke rumah Ibunda mantan Ketua Mahkamah Konstitusi di Madura ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran hukum dan bagi tradisi orang Madura sendiri merupakan sebuah fenomena baru bahkan sebentuk pelecehan yang selama ini orang Madura identik menjunjung tinggi nilai luhur untuk tidak melawan pemerintah yang sah.

Sebagaimana menurut Malik Madany (2020) dalam budaya luhur Madura, 3 (tiga) pihak/elemen yang tidak boleh dilawan. Pertama, kedua orang tua, kemudian guru/kiai dan yang terakhir adalah pemerintah (ratoh).

Namun, dalam konteks peristiwa penggerudukan rumah Mahfud MD, itu terdapat nilai luhur yang dilanggar. Begitu kuatnya provokasi ajaran tentang cinta dan penghormatan kepada habaib yang melampaui batas, alias kebablasan. Seakan-akan mereka ma’shum (bebas dari dosa dan kesalahan). Padahal dalam ajaran Islam yang benar, hanya Rasulullah lah yang ma’shum. Anak keturunannya tidaklah ma’shum.

Dalam literatur klasik, pernyataan Al-Imam Hujjatul-Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin sangatlah relevan, ia berkata: kullu maa jaawaza haddahu ‘aada ilaa dliddihi (segala sesuatu yang melampaui batas yang seharusnya, akan kembali kepada kebalikannya). Maka sejatinya, kecintaan kita kepada para habaib haruslah proporsional, karena hal itu akan membawa dampak yang produktif. Namun, jika cinta itu sudah di luar batas yang seharusnya, ia akan menjadi kontra produktif bahkan cenderung destruktif.

Dakwah Destruktif

Berdasarkan jejak digitalnya, Rizieq—Imam Besar FPI—dikenal sebagai pendakwah yang provokatif dan cukup sukar ‘menteror’ golongan yang berbeda dengannya dan sangat getol melawan pemerintah (menjadi oposisi). Bahkan tempat-tempat yang baginya maksiat, sedangkan oleh pemerintah itu dilegalkan diperanginya dan tak segan-segan massanya melakukan aktivisme radikal, yang tergabung dalam Laskar Front Pembela Islam (FPI).

Meminjam bahasa Abdillah Toha (2020) dakwah yang dilakukan para ustadz virtual kita saat ini adalah paranoid yang anti pemerintah dan agama lain. Dan konten mereka saat ini sangat cepat meluas dan menyebar ke mana-mana, karena ditunjang dengan kemajuan teknologi internet melalui media media sosial, media massa daring dan mudahnya komunikasi antara pengguna internet. Para ustadz dan habib yang tadinya tidak pernah kita dengar namanya kemudian muncul ke permukaan dan popular, pada gilirannya hal ini mendorong ustad-ustad muda tidak mau ketinggalan berpartisipasi  dalam lomba ke kepopuleran ini.

Dakwah yang provokatif seketika membanjiri ruang publik media kita dan ini cenderung desktruktif terhadap masyarakat sipil. Dakwah tersebut ditengarai berjejaring dan terilhami oleh dakwahnya Imam Besar FPI ini. Maka dari itu, perlunya kita selektif dalam mengkonsumsi dakwah-dakwah yang moderat dan penuh dengan kesejukan dalam membangun narasi dakwah Islamiyah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Karena sejatinya, dakwah itu harus santun, tidak boleh ada sumpah serapah yang menyertainya. []

*Ferdiansah, Peneliti ISAIs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a reply

error: Content is protected !!