Reformulasi Pemahaman Ajaran Islam

0
127

Islam yang semula ajarannya penuh kedamaian, kelemahlembutan dan ketentraman menjadi sorotan dunia, ketika beberapa Muslim membajak doktrin-doktrin Islam dan mempolitisasi istilah-istilah dalam Islam, seperti istilah jihad, khilâfah, qishah, syâhid dan lainnya dipahami secara keliru dan menyesatkan. Sehingga, pemahaman yang tampil di permukaan tidak lagi menciptakan kemaslahatan, melainkan kebuasan dan kebengisan, yang dampaknya tidak saja dirasakan oleh non-Muslim tapi juga internal Islam.

Ahmad Syafii Maarif dalam pengantar buku Reformulasi Ajaran Islam mengatakan bahwa faktor teologis sangat mempengaruhi. “Faktor teologis tentu menjadi akar persoalan terorisme, sehingga terus berkembang dan tak pernah padam. Kekeliruan dalam menginterpretasikan dan mengamalkan beberapa doktrin kunci dalam Islam menjadi sebab utamanya” (hlm. 21). Kesalahan dalam membaca dan menyerap ajaran Islam menjadi penyebab penting seorang Muslim bertindak, berhubungan sosial dan melihat sesuatu di muka bumi. Lebih-lebih kepada mereka yang tidak mau menyerap informasi dari luar kelompoknya. Sebagaimana umumnya para penyeru khilâfah, yang sebelum berdiskusi dengan orang di luar kelompoknya sudah menjustifikasi bahwa pernyataannya salah―untuk tidak mengatakan ‘sampah’, seperti pernyataan yang pernah diucapkan Muhammad Shiddiq Al-Jawi, Mudir Ma’had Hamfara, Bantul, DIY, sebuah pengurus DPP HTI.

Baca: Syariah dan Khilafah; Manakah Yang Lebih Wajib?

Kerusakan-kerusakan dan mafsadat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh kelompok teroris dalam Islam terkategorikan melanggar maqâsidh syarî’ah. “Aksi terorisme jelas melanggar terhadap hak-hak hamba. Aksi ini membuat kekacauan di masyarakat, mengganggu masyarakat dalam melaksanakan ibadah (mencederai prinsip hifzh al-Dîn), melanggar hak hidup seseorang (mencederai prinsip hifzh al-Nafs), mengganggu aktivitias ekonomi (mencederai prinsip hifzh al-Mâl), menganggu aktivitaf pendidikan (mencederai prinsip hifzh al-‘Aql) dan bahkan bisa melanggar terhadap kehormatan seseorang (mencederai prinsip hifzh al-‘irdh). Jadi, aksi terorisme melangagr dharûriyyât al-Khamsah yang merupakan lima prinsip dasar dari Maqâsidh Syarî’ah (hlm. 123).

Perbuatan itu berasal dari kesalahpahaman memaknai istilah dan konsep jihad dalam Islam. Jihad yang memiliki varian makna dalam Islam, belakangan terkooptasi pada makan perang. Walaupun setiap agama, tidak ada yang tidak memiliki sejarah kelamnya, termasuk Islam. Sejarah Khawarij merupakan sejarah kekejaman yang dahsyat. Dari Khawarij lah kemudian istilah isti’rad, yang semula berarti konsep “interogasi seseorang: apakah kafir atau tidak”, bergeser ke makna lainnyayaitu “eksekusi keagamaan”. Namun kelompok ini tidak berumur panjang.

Baca: Khilafah: Membawa Berkah atau Malapetaka?

Azyumardi Azra mengatakan bahwa umumnya kelompok radikal akan melalui tiga tahapan, yakni: takfir, hijrah dan jihad. “Takfir dilakukan tentu saja terhadap kelompok―biasanya mayoritas―yang mereka pandang menyimpang, tidak lagi menjalankan hukum Tuhan, yang dalam masa kontemporer disebut Al-Maududi sebagai “jahiliyah modern”. Sebagai konsekuensinya, kelompok radikal bersangkutan harus memisahkan diri atau hijrah dari mereka yang dipandang sudah sesat. Langkah terakhir adalah pernyataan atau pelaksanaan jihad atau perang terhadap mereka yang dimaklumkan sesat tersebut” (hlm. 369). Artinya, kaum radikal menempatkan jihad―baik dalam Qur’an dan hadis―secara salah dan keliru.

Pereduksian makna pun terjadi pada istilah khilâfah, yang belakangan dikooptasi oleh kelompok ISIS dan HTI. Tidak saja mereduksi makna jihad seperti di atas, khilâfah di kampanyekan yang disertai perkataan “wajib”. Padahal, dalam Islam khilâfah sebagai sebuah produk budaya, masih terjadi perdebatan, alias mayoritas Muslim tidak sepakat menerapkannya, tidak saja di Indonesia, tapi seluruh dunia tidak menganggapnya sebagai perkara penting dan wajib.

Di luar Indonesia―menurut Muhammad Abdullah Darraz bahwa “para pemikir Muslim Arab seperti Ali Abd Al-Raziq, Taha Husain, M. Said Al-Asymawi, Khalil Abdul Karim, dan M. Abid Al-Jabiri menegaskan bahwa pemikiran tentang khilâfah dan imâmah sama sekali tidak berlandaskan pada tuntunan keagamaan yang lurus” (hlm. 502).

Memang, jika ditelisik pada sumber-sumber ajaran Islam klasik, persoalan kepemimpinan atau kekuasaan politik merupakan persoalan parenial yang menarik siapa saja. Sebab itu, dari persoalan itu pula pertikaian terjadi dimana-mana. Abu Hasan Al-Asy’ari mengafirmasi dalam kitabnya Maqâlât Al-Islâmiyyîn wa Ikhtilâf Al-Mushallîn (1969; Vol. I, h. 39) bahwa persoalan khilâfah merupakan asal muasal dan menjadi penyebab pertama perpecahan yang terjadi dalam tubuh Islam.

Buku ini menjadi penting kehadirannya, di tengah-tengah euforia beragama di internal Islam, tapi banyak di antara mereka yang salah dalam membaca buku, referensi dan belajar kepada orang. Euforia beragama tidak dibarengi dengan akal sehat dan kerap menyampingkan kemaslahatan bersama, khususnya di Indonesia. []

Leave a reply

error: Content is protected !!